Dosen UIN Sunan Kudus Jadi PPIH Terbaik 2026
Dr. Fauzan Adim, M.A., dosen UIN Sunan Kudus, meraih predikat PPIH Terbaik 2026 untuk bidang Tugas dan Fungsi Bimbingan Ibadah. dari Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah.
NUMLIT, KUDUS — Di tengah jutaan jemaah yang memadati Tanah Suci setiap musim haji, ada sosok-sosok yang bekerja tanpa banyak sorotan.
Mereka bukan sekadar petugas, tetapi menjadi tempat bertanya, penenang ketika jemaah kebingungan, sekaligus pendamping saat ibadah memasuki fase-fase paling menentukan.
Salah satunya adalah Dr. Fauzan Adim, M.A., dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Tahun ini, dedikasinya mengantarkan dirinya meraih predikat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Terbaik 2026 untuk bidang Tugas dan Fungsi (Tusi) Bimbingan Ibadah.
Penghargaan tersebut diberikan Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah.
Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol prestasi individu. Di baliknya tersimpan kisah tentang bagaimana ilmu yang diajarkan di ruang kuliah bertemu dengan realitas pelayanan di Tanah Suci.
Sebagai anggota Tim Bimbingan Ibadah yang bertugas di Sektor 3 Makkah, Fauzan memiliki tanggung jawab mendampingi jemaah Indonesia memahami sekaligus menjalankan ibadah haji sesuai tuntunan syariat. Tugas itu jauh melampaui penyampaian materi manasik.
Setiap hari, ia menghadapi beragam persoalan yang dialami jemaah. Mulai dari konsultasi fikih ibadah, pendampingan selama fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), hingga menjawab berbagai kebingungan yang muncul ketika jemaah menjalankan rangkaian ibadah di tengah kondisi fisik yang menurun dan kepadatan aktivitas.
Pendekatan yang digunakannya tidak hanya berbasis keilmuan, tetapi juga mengedepankan sisi kemanusiaan.
Dalam proses pendampingan, Fauzan tidak hanya memberikan penjelasan secara klasikal bersama Tim Bimbingan Ibadah dan Musyrif Dini, tetapi juga membuka ruang konsultasi personal bagi jemaah yang membutuhkan pendampingan lebih mendalam.
Kemampuan tersebut lahir dari perpaduan pengalaman akademik sebagai dosen UIN Sunan Kudus dan keterlibatannya selama bertahun-tahun dalam pengembangan pendidikan haji.
Bagi Fauzan, penghargaan ini justru menjadi pengingat bahwa pelayanan kepada jemaah adalah kerja kolektif, bukan pencapaian individu.
“Penghargaan ini bukanlah capaian pribadi, melainkan hasil kerja sama seluruh tim PPIH yang saling mendukung dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia. Semoga penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan ibadah haji di masa mendatang,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UIN Sunan Kudus.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Haji dan Umrah, pimpinan UIN Sunan Kudus, serta seluruh tim PPIH yang telah memberikan kepercayaan dan dukungan selama menjalankan amanah di Tanah Suci.
Dari Kampus Menuju Tanah Suci
Perjalanan Fauzan menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada aktivitas pendidikan di ruang kelas.
Di UIN Sunan Kudus, ia dikenal aktif mengembangkan kajian yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji. Pengalaman akademik tersebut menjadi bekal ketika harus menghadapi persoalan nyata yang dihadapi jemaah di lapangan.
Tidak hanya itu, UIN Sunan Kudus juga secara konsisten berkontribusi dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji nasional melalui program Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah yang telah meluluskan ratusan peserta dari berbagai daerah.
Dalam program tersebut, Fauzan turut berperan sebagai panitia sekaligus evaluator, sehingga pengalaman akademik dan praktik lapangan saling melengkapi.
Kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelayanan publik inilah yang menjadi kekuatan utama.
Seorang dosen tidak hanya menghasilkan penelitian atau mengajar mahasiswa, tetapi juga hadir langsung memberikan solusi bagi masyarakat ketika dibutuhkan.
Pelayanan yang Menjadi Inspirasi
Predikat PPIH Terbaik 2026 yang diterima Fauzan menjadi salah satu dari 13 penghargaan yang diberikan kepada petugas terbaik dalam berbagai bidang layanan penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari layanan kesehatan, transportasi, konsumsi, perlindungan jemaah, hingga media center haji.
Bagi UIN Sunan Kudus, capaian tersebut mempertegas kontribusi perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi akademik sekaligus kemampuan melayani masyarakat secara profesional.
Lebih dari sekadar penghargaan, kisah Fauzan menjadi pengingat bahwa pelayanan terbaik lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan ketulusan.
Di balik kelancaran ibadah ribuan jemaah Indonesia di Tanah Suci, ada sosok-sosok yang bekerja dalam senyap. Dan di antara mereka, seorang dosen dari Kudus membuktikan bahwa mengajar tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga melalui pengabdian yang memberi ketenangan bagi para tamu Allah.



No Comment! Be the first one.