Lewat Bahasa Isyarat, Jadi Kampus yang Mau Mendengar
Saat ini UNS memiliki 116 mahasiswa penyandang disabilitas, dengan 57 di antaranya merupakan mahasiswa Tuli yang tersebar di berbagai fakultas dan program studi.
NUMLIT, SURAKARTA — Di sebuah ruang pelatihan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, puluhan dosen, tenaga kependidikan, petugas keamanan, dan mahasiswa tampak serius mengikuti gerakan tangan para instruktur.
Table Of Content
Mereka sedang belajar menyapa, memperkenalkan diri, hingga berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Bagi sebagian peserta, ini mungkin sekadar pelatihan keterampilan baru. Namun bagi puluhan mahasiswa Tuli di UNS, kemampuan sederhana itu bisa menjadi jembatan yang menghapus sekat komunikasi di lingkungan kampus.
Melalui Pelatihan Bahasa Isyarat Dasar yang dimulai pada Senin (6/7/2026), UNS kembali menegaskan bahwa membangun kampus inklusif bukan hanya soal menyediakan fasilitas fisik, tetapi juga membangun budaya saling memahami.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNS, Prof. Ir. Dody Ariawan, S.T., M.T., Ph.D., IPU, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang universitas dalam menghadirkan lingkungan akademik yang ramah bagi seluruh mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas.
“Kolaborasi antara UNS dan PUSBISINDO Jawa Tengah merupakan bentuk nyata komitmen UNS dalam mewujudkan kampus inklusif yang memberikan kesempatan dan pelayanan yang adil dan setara bagi semua. Kami akan terus mengawal agar budaya inklusi semakin mengakar di lingkungan kampus,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UNS.
Bahasa Isyarat Kini Menjadi Kebutuhan Kampus
Pelatihan ini bukan tanpa alasan. Saat ini UNS memiliki 116 mahasiswa penyandang disabilitas, dengan 57 di antaranya merupakan mahasiswa Tuli yang tersebar di berbagai fakultas dan program studi.
Jumlah tersebut membuat kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat bukan lagi menjadi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan nyata dalam kehidupan akademik sehari-hari.
Mulai dari proses perkuliahan, pelayanan administrasi, hingga interaksi sederhana di lingkungan kampus membutuhkan komunikasi yang lebih inklusif agar setiap mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang setara.
Karena itu, peserta pelatihan tidak hanya berasal dari mahasiswa. UNS juga melibatkan dosen, tenaga kependidikan, hingga petugas keamanan yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan kampus.
Sebanyak 40 peserta mengikuti pelatihan yang dibagi menjadi dua kelas, masing-masing untuk dosen dan tenaga kependidikan serta mahasiswa.
Belajar Bahasa, Belajar Menghargai Perbedaan
Pelatihan Bahasa Isyarat Dasar telah menjadi program berkelanjutan di UNS sejak 2022.
Kini, pelaksanaannya berada di bawah koordinasi Seksi Layanan Disabilitas Direktorat Kemahasiswaan setelah sebelumnya diinisiasi Pusat Studi Difabilitas (PSD) LPPM UNS.
UNS tetap menggandeng Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO) Jawa Tengah sebagai mitra dalam proses pembelajaran.
Selama program berlangsung, peserta diwajibkan mengikuti 11 kali pertemuan dan satu kali ujian sebelum memperoleh sertifikat kompetensi.

Namun lebih dari sekadar menghafal kosakata bahasa isyarat, pelatihan ini juga mengajak peserta memahami bagaimana membangun komunikasi yang menghargai keberagaman.
Sekretaris Direktur Direktorat Kemahasiswaan UNS, Danang Tomi Harjanto, S.Sos., menilai kemampuan berbahasa isyarat akan memberikan dampak langsung terhadap kualitas pelayanan di lingkungan kampus.
“Melalui pelatihan ini kami berharap peserta mampu menguasai keterampilan dasar bahasa isyarat dan menerapkannya dalam aktivitas akademik maupun pelayanan. Dengan begitu, komunikasi antara mahasiswa Tuli dan seluruh sivitas akademika dapat berlangsung lebih efektif,” katanya.
Kampus yang Tidak Hanya Membuka Pintu
Bagi UNS, membangun kampus inklusif berarti memastikan setiap mahasiswa dapat belajar, berinteraksi, dan berkembang tanpa hambatan komunikasi.
Bahasa isyarat menjadi salah satu langkah kecil menuju tujuan besar tersebut.
Sebab kampus yang benar-benar inklusif bukan hanya kampus yang membuka pintu bagi semua orang, tetapi juga kampus yang bersedia belajar memahami bahasa, kebutuhan, dan cara berkomunikasi setiap mahasiswanya.
Lewat pelatihan ini, UNS ingin menunjukkan bahwa inklusi bukan sekadar slogan, melainkan budaya yang dibangun melalui kemauan untuk saling mendengar. Bahkan, ketika percakapan dilakukan tanpa suara. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.