Dari Bali ke Yogyakarta, Made Sarmita Taklukkan S3 UGM dengan IPK Sempurna
Di antara 90 lulusan doktor yang diwisuda UGM pada periode Juli 2026, I Made Sarmita menjadi satu dari 28 doktor yang berhasil meraih IPK sempurna.
NUMLIT, JOGJA — Tak semua perjalanan menuju gelar doktor dimulai dengan keyakinan penuh. Bagi I Made Sarmita, justru ada satu fase yang nyaris membuat langkahnya goyah yaitu kepastian beasiswa yang belum kunjung datang.
Table Of Content
Namun, pria asal Kabupaten Badung, Bali, itu memilih tetap melangkah. Keputusan tersebut kini berbuah manis.
Made berhasil menyelesaikan Program Doktor Kependudukan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta hanya dalam waktu 2 tahun 10 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 dan predikat pujian.
Di antara 90 lulusan doktor yang diwisuda UGM pada periode Juli 2026, Made menjadi satu dari 28 doktor yang berhasil meraih IPK sempurna.
“Saya tidak menyangka bisa lulus doktor dengan predikat pujian. Semakin yakin bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh,” ujar Made.
Baginya, keberhasilan tersebut bukan hanya hasil kerja keras pribadi. Ada doa keluarga, dukungan promotor, dosen, hingga rekan-rekan yang menjadi energi selama menjalani perjalanan akademik.
Berani Melangkah Meski Belum Pasti
Perjalanan akademik Made terbilang konsisten. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Pendidikan Geografi di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali pada 2010. Setelah itu merantau ke Yogyakarta untuk menempuh Magister Kependudukan UGM pada 2011–2013.
Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 2023, ia kembali ke kampus yang sama untuk mengejar gelar doktor. Namun awal perjalanan S3 tidak sepenuhnya mulus.
Saat kuliah baru dimulai, Made masih dihantui ketidakpastian mengenai beasiswa yang sedang diperjuangkannya. Kondisi itu sempat membuatnya bimbang.
Alih-alih menunggu kepastian, ia memilih tetap mengikuti perkuliahan. Keputusan tersebut akhirnya terbayar ketika beasiswa yang diharapkannya benar-benar berhasil diperoleh.
Bagi Made, pengalaman itu mengajarkan satu hal sederhana namun penting. Keberanian memulai sering kali lebih menentukan daripada terlalu lama menunggu semuanya terasa sempurna.
Bukan Sekadar Pintar, tetapi Konsisten
Menurut Made, tantangan terbesar menjalani studi doktor bukan semata kompleksitas riset, melainkan menjaga konsistensi setiap hari.
Ia mengaku sangat terbantu dengan sistem pembelajaran di UGM yang fleksibel. Di balik fleksibilitas tersebut, para promotor tetap aktif memantau perkembangan riset mahasiswa.
“Promotor dan ko-promotor selalu memantau, berkomunikasi secara aktif, dan terus menanyakan perkembangan penelitian. Rasanya memang seperti dikejar-kejar, tetapi semuanya untuk kebaikan saya,” katanya sambil tersenyum.
Budaya akademik itulah yang membuatnya terus menjaga ritme penelitian hingga mampu menyelesaikan studi lebih cepat.
Rahasia Lulus Cepat
Made menilai banyak mahasiswa doktor sebenarnya memiliki kemampuan yang sama. Perbedaannya terletak pada persiapan sejak awal.

Ia menyarankan calon mahasiswa doktor mulai menyusun rencana riset bahkan sebelum perkuliahan dimulai.
Memasuki semester pertama, gagasan tersebut sebaiknya langsung didiskusikan dengan dosen maupun calon promotor agar arah penelitian menjadi jelas.
Semester kedua, menurutnya, menjadi waktu yang tepat untuk mengikuti ujian komprehensif dan mulai memetakan strategi publikasi ilmiah.
“Banyak mahasiswa justru terkendala pada publikasi. Karena itu sejak awal harus dipikirkan jurnal yang sesuai dengan ketentuan program studi,” jelasnya.
Selain strategi akademik, Made juga menekankan pentingnya memilih promotor yang tepat, tidak hanya berdasarkan bidang keilmuan, tetapi juga karakter komunikasi dan pola pendampingannya.
Menikmati Proses, Bukan Mengejar Angka
Meski berhasil meraih IPK sempurna, Made justru tidak menjadikan angka sebagai tujuan utama. Baginya, proses belajar jauh lebih penting daripada sekadar nilai. Ia percaya setiap tantangan akan menemukan jalan keluarnya selama dikerjakan dengan tekun.
“Semua akan terasa mudah kalau dikerjakan. Sebaliknya, semuanya akan terasa sulit kalau hanya dipikirkan tanpa pernah dimulai,” tuturnya.
Pesan itu pula yang ingin ia titipkan kepada siapa pun yang sedang mengejar pendidikan tinggi.
Percaya pada kemampuan diri, menikmati proses, bekerja dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasil kepada Tuhan.
Bagi Made Sarmita, gelar doktor dengan IPK 4,00 bukanlah akhir perjalanan. Ia adalah bukti bahwa keberhasilan bukan milik mereka yang paling berbakat, melainkan mereka yang tetap melangkah, bahkan ketika masa depan masih dipenuhi tanda tanya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.