Mahfud MD Minta Mahasiswa Jadi “Sarjana yang Sujana”
Mahfud MD berpesan supaya mahasiswa menjadi generasi yang berani menciptakan perubahan, tetapi jangan kehilangan kompas moral.
NUMLIT, JOGJA — Inovasi menjadi salah satu kunci agar bangsa terus bergerak maju. Namun, kecerdasan menciptakan teknologi dan kemampuan menghasilkan gagasan baru tidak cukup jika tidak dibarengi hukum dan moral.
Table Of Content
Pesan itulah yang disampaikan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H., saat berbicara di hadapan 1.803 mahasiswa baru Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis (6/8/2026).
Dalam talkshow bertajuk “Governing Innovation with Law and Moral” pada rangkaian PIONIR Kesatria hari kedua tersebut, Mahfud mengajak mahasiswa baru yang disebut Kesatria Muda untuk menjadikan inovasi sebagai bagian dari perjalanan mereka membangun masa depan.
Namun, ia memberikan satu catatan penting. Inovasi harus dikawal hukum dan moral.
Menurut Mahfud, inovasi merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Dunia terus berubah dan mereka yang berhenti berkreasi akan tertinggal.
“Inovasi itu sangat penting. Kalau Anda tidak bisa berinovasi, tidak bisa berkreasi, itu artinya kita mandek, tidak ada kemajuan. Justru yang terjadi adalah kemunduran,” ujarnya saat mengisi sesi talkshow di halaman depan Smart Green Learning Center (SGLC) FT UGM.
Inovasi Bukan Ruang Bebas Aturan
Mahfud mengingatkan mahasiswa agar tidak memahami inovasi sebagai ruang yang sepenuhnya bebas dari aturan. Justru, hukum diperlukan agar kreativitas dan kebebasan manusia dapat berjalan secara tertib serta tidak merugikan orang lain.
Ia menjelaskan masyarakat terdiri atas individu dengan kepentingan yang beragam. Karena itu, diperlukan hukum untuk mengatur agar berbagai kepentingan tersebut dapat berjalan secara adil.
“Hukum itu ada untuk mengatur agar masyarakat tertib, sebab setiap orang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri baik secara ekonomi maupun biologis. Sama halnya seperti inovasi, itu harus menuruti aturan-aturan hukum,” katanya.
Mahfud bahkan mengaitkan keberadaan hukum dengan kemampuan manusia untuk berkreasi. Menurutnya, kebebasan berinovasi justru membutuhkan sistem hukum yang mampu memberikan perlindungan terhadap hak dan kepemilikan.
Ia mengutip pemikiran Sun Tzu yang menyebut tiga hal penting bagi keberlangsungan bangsa, yakni pangan, tempat tinggal, dan hukum. Dalam pandangannya, hukum menjadi penting karena menjamin seseorang memiliki hak untuk mencari nafkah sekaligus melindungi apa yang dimilikinya.
“Begitu pula dengan kreativitas. Kita tidak mungkin bisa berkreasi dan berinovasi tanpa ada hukum. Kita bisa berinovasi karena ada hukum yang mengatur dan menjaga kebebasan itu,” tutur Mahfud.
Ketika Kecerdasan Tidak Cukup
Di hadapan mahasiswa teknik yang kelak berpotensi menjadi pengembang teknologi dan inovasi, Mahfud juga menyampaikan kritik terhadap persoalan penegakan hukum di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh. Namun, potensi tersebut membutuhkan sistem hukum yang kuat dan adil.
“Kita bangsa besar, tapi andaikan itu diiringi dengan penegakan hukum yang baik, kita akan jauh lebih baik dari sekarang,” ujarnya.
Mahfud juga menyinggung masih adanya persoalan seperti rekayasa perkara dan praktik suap yang dapat membuat hukum kehilangan fungsi keadilannya.
Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan kecerdasan saja tidak otomatis membuat seseorang mampu menggunakan ilmunya secara benar. Di titik inilah moral menjadi penting.
Mahfud menegaskan seseorang bisa saja memiliki kecerdasan tinggi, menguasai teknologi, serta mampu menghasilkan inovasi. Namun, semua kemampuan itu dapat kehilangan makna apabila tidak disertai karakter dan moral yang kuat.
“Oke, Anda cerdas, jago berinovasi, berkreasi, tapi tidak bermoral? Anda adalah gelombang baru masa depan. Perkuat moral Anda, miliki watak yang mulia. Jadilah sarjana yang sujana,” tegasnya, dikutip dari laman resmi UGM.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan utama Mahfud kepada mahasiswa baru Fakultas Teknik UGM. Kemampuan menciptakan sesuatu harus berjalan beriringan dengan kemampuan mempertanggungjawabkan dampaknya.
Jangan Serakah dengan Hasil Inovasi
Mahfud juga mengajak mahasiswa untuk tidak menjadikan kecerdasan dan inovasi semata-mata sebagai jalan mengejar keuntungan pribadi.
Ia menekankan pentingnya hati nurani dalam setiap tindakan, termasuk ketika mahasiswa kelak menghasilkan teknologi, membangun usaha, maupun memegang posisi strategis di masyarakat.
“Setiap tindakan kita harus berlandaskan hati nurani dan bisikan moral. Kita harus berbagi, jangan serakah. Orang lain juga memiliki hak dan kesempatan untuk menikmati kekayaan yang ada hari ini,” tuturnya.
Menurut Mahfud, kemauan untuk berbagi merupakan bagian dari moral yang perlu ditanamkan sejak mahasiswa.
Dengan demikian, inovasi tidak hanya dinilai dari seberapa canggih teknologi yang dihasilkan atau seberapa besar nilai ekonominya, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi kehidupan masyarakat.
Dari Kampus untuk Masyarakat
Pesan Mahfud kemudian bermuara pada satu nilai yang selama ini menjadi bagian dari tradisi UGM yaitu pengabdian kepada masyarakat.
Ia mengingatkan mahasiswa baru agar tidak kehilangan hubungan dengan realitas sosial di tengah kesibukan akademik dan perkembangan teknologi.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang menurut Mahfud pertama kali lahir di UGM. KKN, kata dia, bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan sarana bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung persoalan masyarakat.
“Dulu, KKN itu lahir pertama kali di UGM. Tujuannya adalah agar mahasiswa bisa tahu kehidupan masyarakat sesungguhnya, dan menaruh hati pada masyarakat dengan cara membantu mengatasi persoalan yang terjadi,” katanya.
Bagi Mahfud, pengalaman tersebut penting agar mahasiswa tidak hanya menjadi orang pintar, tetapi juga manusia yang memahami persoalan di sekitarnya.
Pesannya kepada 1.803 Kesatria Muda UGM pun menjadi jelas. Ia ingin mahasiswa menjadi generasi yang berani menciptakan perubahan, tetapi jangan kehilangan kompas moral.
Sebab, teknologi bisa membuat manusia mampu melakukan banyak hal. Tetapi hukum dan moral-lah yang menentukan untuk apa kemampuan itu digunakan dan siapa yang akhirnya merasakan manfaatnya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.