Dari Salatiga ke Jepang, 15 Mahasiswa UKSW Membawa Misi Sederhana
Lima belas mahasiswa yang mengikuti EASE 2026 berasal dari berbagai fakultas di UKSW. Mereka datang dari FISKOM, Fakultas Bahasa dan Seni, Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer, Fakultas Teknologi...
NUMLIT, SALATIGA – Perdamaian dunia mungkin terdengar seperti gagasan yang terlalu besar bagi seorang mahasiswa. Namun, bagi 15 mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, perdamaian justru dimulai dari sesuatu yang sederhana yakni bertemu, saling mengenal, memahami perbedaan, lalu membangun persahabatan.
Table Of Content
Gagasan itulah yang mereka bawa ketika mengikuti East Asia Student Encounter (EASE) 2026 di Kwansei Gakuin University (KGU), Jepang.
Selama 18 hari hingga 18 Agustus mendatang, para mahasiswa UKSW akan berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya sekaligus belajar memahami bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih damai.
EASE 2026 mengusung tema “Manifest the Dream: Our Journey Toward Peace in a Divided World.” Tema tersebut menjadi semakin bermakna karena penyelenggaraan tahun ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan 50 tahun program EASE.
Bagi UKSW, keikutsertaan dalam program tersebut bukan sekadar kesempatan belajar ke luar negeri. Ada misi yang lebih besar yaitu membawa mahasiswa memahami bahwa dunia yang beragam tidak harus menjadi dunia yang terpecah.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian UKSW, Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy, berpesan agar para peserta menjadikan pengalaman di Jepang sebagai ruang untuk belajar sekaligus membangun jejaring persahabatan internasional.
“Jepang memiliki banyak hal yang dapat kita pelajari. Yang terpenting adalah percaya pada diri sendiri, memberikan yang terbaik, dan membawa nama baik UKSW,” pesannya saat melepas rombongan di UKSW, Kamis (30/7/2026).

Persahabatan yang Menjadi Gerakan Perdamaian
EASE memiliki perjalanan panjang. Selama hampir lima dekade, program ini berkembang dari ruang pertukaran budaya menjadi jejaring persahabatan lintas institusi dan negara.
Lebih dari 1.000 alumni telah lahir dari program tersebut dan kini berkiprah di berbagai bidang dan negara. Jejaring itu menjadi modal sosial yang terus menghubungkan orang-orang dari latar belakang berbeda.
Co-Leader EASE 2026, Maryanah, S.Pd., mengatakan tema tahun ini dirumuskan bersama KGU dan pimpinan EASE dengan mengambil inspirasi dari EASE Anthem.
“Bagian Manifest the Dream menggambarkan harapan dan masa depan, sedangkan Our Journey mengajak UKSW dan KGU merefleksikan hampir lima dekade perjalanan EASE. Menjelang usia ke-50, kami ingin kembali menegaskan visi utama program, yaitu membangun perdamaian dunia melalui persahabatan,” jelasnya.
Menurut Maryanah, gagasan tersebut menjadi penting di tengah dunia yang semakin mudah terhubung secara teknologi, tetapi pada saat yang sama masih menghadapi berbagai bentuk perpecahan.
Karena itu, EASE dirancang bukan hanya untuk mempertemukan mahasiswa dari negara berbeda, tetapi juga membangun kemampuan memahami perbedaan.
Mahasiswa belajar mengenai toleransi, kerja sama tim, kepemimpinan, jejaring internasional, hingga pemahaman lintas budaya.
Dengan kata lain, pengalaman selama program menjadi latihan kecil untuk menghadapi dunia yang lebih besar.
Membawa Indonesia ke Jepang Lewat Makanan dan Budaya
Menariknya, para mahasiswa UKSW tidak hanya datang sebagai peserta yang belajar dari Jepang. Mereka juga membawa Indonesia untuk diperkenalkan kepada peserta lain.
Dalam sesi Food Sharing, delegasi UKSW akan menyajikan sejumlah makanan khas Indonesia, mulai dari Soto Lamongan, bakwan sayur, perkedel, kue cubit, hingga es gula asam.
Sementara dalam sesi Culture Sharing, mereka akan menampilkan keragaman budaya Nusantara melalui fashion show busana adat, fragmen Pelog karya Jaya Suprana, lagu Pemuda, Tari Tabola Bale, serta Tari Gemu Fa Mi Re dari Maumere.
Di sinilah pertukaran budaya menemukan maknanya. Mereka tidak sekadar menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak makanan dan tarian, tetapi memperkenalkan sebuah Indonesia yang dibangun dari keberagaman.
Dan pengalaman mengenal budaya orang lain pun diharapkan menjadi jalan untuk belajar menghargai identitas yang berbeda.
Peringatan 50 Tahun dengan Pesan Perdamaian
Salah satu agenda istimewa EASE 2026 adalah peringatan 50th Years Commemorative of EASE yang digelar melalui simposium perdamaian pada 8 Agustus 2026.
Simposium tersebut menghadirkan Koko Kondo, penyintas bom atom Hiroshima sekaligus pegiat perdamaian dunia, sebagai keynote speaker.
Forum kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel bersama Profesor Willi Toisuta, Profesor Petrus Ari Santoso, dan Profesor Yasuko Shimizu, serta penampilan Culture Sharing dari peserta EASE 2026.
Kehadiran Koko Kondo menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan sekadar tema akademik. Di Hiroshima, perang meninggalkan pengalaman kemanusiaan yang panjang. Karena itu, pesan perdamaian yang dibawa EASE memiliki konteks sejarah sekaligus relevansi bagi generasi muda saat ini.
Para mahasiswa tidak hanya diajak berbicara mengenai perdamaian, tetapi juga melihat bagaimana pengalaman masa lalu dapat menjadi pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Belajar Menjadi Warga Dunia
Lima belas mahasiswa yang mengikuti EASE 2026 berasal dari berbagai fakultas di UKSW. Mereka datang dari FISKOM, Fakultas Bahasa dan Seni, Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer, Fakultas Teknologi Informasi, serta Fakultas Teologi.
Keberagaman bidang keilmuan tersebut menjadi modal tersendiri. Mereka membawa perspektif yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu pengalaman yang sama yaitu belajar hidup bersama dalam keberagaman.
Bagi UKSW yang selama ini dikenal dengan semangat “Kampus Indonesia Mini”, pengalaman tersebut sekaligus memperluas ruang pembelajaran keberagaman dari tingkat nasional menuju internasional.
EASE menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menguasai bidang ilmu, tetapi juga tentang memahami manusia dan dunia tempat ilmu tersebut digunakan.
Karena itu, pengalaman 18 hari di Jepang diharapkan tidak berhenti ketika para mahasiswa kembali ke Salatiga.
Persahabatan yang dibangun, perspektif yang diperoleh, serta pengalaman memahami budaya lain dapat menjadi bekal untuk membawa semangat kolaborasi tersebut ke lingkungan kampus dan masyarakat.
Pada akhirnya, misi perdamaian yang dibawa EASE mungkin memang tidak dimulai dari ruang diplomasi atau meja perundingan.
Ia bisa dimulai dari 15 mahasiswa yang berani melangkah keluar dari ruang nyamannya, bertemu orang-orang yang berbeda, membuka percakapan, dan memilih untuk saling memahami.
Sebab, hampir lima dekade perjalanan EASE telah menunjukkan satu hal yaitu perdamaian dunia dapat dibangun dari persahabatan, dan persahabatan lahir ketika manusia bersedia mengenal satu sama lain. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.