60 Tahun UIN Sunan Kudus, Kini Bidik Pusat Keunggulan Ilmu di Pantura Timur
Momentum 60 tahun UIN Sunan Kudus tidak hanya diisi seremoni peringatan, tetapi juga pengukuhan dua guru besar, peluncuran buku bunga rampai, serta pemberian penghargaan bagi mahasiswa dan insan...
NUMLIT, KUDUS – Enam dekade perjalanan UIN Sunan Kudus memasuki babak baru. Setelah bertransformasi dari IAIN Kudus menjadi universitas Islam negeri pada Mei 2025, kampus tersebut kini menegaskan ambisinya untuk tidak hanya menjadi perguruan tinggi bagi masyarakat Kudus, tetapi juga pusat keunggulan akademik dan intelektual di kawasan Pantura Timur.
Pesan tersebut mengemuka dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-60 UIN Sunan Kudus di Gedung Lab. Terpadu, Senin (10/8/2026).
Momentum enam dekade itu tidak hanya diisi seremoni peringatan, tetapi juga pengukuhan dua guru besar, peluncuran buku bunga rampai, serta pemberian penghargaan bagi mahasiswa dan insan akademik berprestasi.
Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si., mengatakan usia 60 tahun menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan institusi sekaligus mempersiapkan langkah baru.
Menurutnya, transformasi dari IAIN menjadi UIN membawa tanggung jawab yang lebih besar karena mandat keilmuan perguruan tinggi kini semakin luas.
“Transformasi IAIN Kudus menjadi UIN Sunan Kudus bukan sekadar perubahan status kelembagaan. Ini adalah babak baru PTKIN Pantura Timur,” ujar Abdurrohman.
Menurut dia, perubahan tersebut harus diikuti dengan penguatan kualitas akademik, riset, inovasi, serta kontribusi kampus bagi masyarakat.
“UIN Sunan Kudus harus menjadi cahaya ilmu bagi Pantura Timur. Dari Kudus, kita ingin membangun pusat keunggulan akademik, melahirkan generasi intelektual yang berkarakter, memperkuat riset dan inovasi, serta menghadirkan lulusan yang mampu berkontribusi di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.

Komitmen memperkuat kapasitas akademik tersebut salah satunya tercermin dari pengukuhan dua guru besar pada puncak Dies Natalis ke-60.
Keduanya yakni Prof. Dr. Adri Effery, M.Ag. sebagai Guru Besar Bidang Kepemimpinan Pendidikan Islam dan Prof. Dr. Ma’mun Mu’min, M.Ag., M.Si., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Ilmu Tafsir.
Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sumber daya akademik UIN Sunan Kudus di tengah mandat baru sebagai universitas.
Kehadiran guru besar juga diharapkan memperkuat tradisi keilmuan dan riset sehingga transformasi kelembagaan tidak berhenti pada perubahan nama maupun status, tetapi benar-benar menghasilkan peningkatan kualitas akademik.
1.048 Halaman, 87 Penulis Bicara Masa Depan Peradaban
Jika pengukuhan guru besar menjadi simbol penguatan sumber daya intelektual, peluncuran buku bunga rampai menjadi gambaran lain dari geliat pemikiran di lingkungan UIN Sunan Kudus.
Buku berjudul Spirit Sunan Kudus dan Islam Kosmopolitan untuk Peradaban Masa Depan tersebut melibatkan 87 penulis dari kalangan profesor, akademisi, intelektual, dan peneliti.
Tidak tanggung-tanggung, buku itu memiliki ketebalan mencapai 1.048 halaman dan memuat beragam gagasan mengenai Islam kosmopolitan serta tantangan peradaban masa depan.
Kehadiran buku tersebut menjadi salah satu penanda bahwa peringatan 60 tahun UIN Sunan Kudus tidak hanya berbicara tentang usia institusi, tetapi juga tentang gagasan yang ingin diwariskan.

Melalui karya kolaboratif tersebut, pemikiran para akademisi dan intelektual dihimpun menjadi dokumentasi pengetahuan yang dapat menjadi bagian dari perjalanan baru UIN Sunan Kudus.
Prestasi Mahasiswa hingga Publikasi Akademik Diganjar
Puncak Dies Natalis ke-60 juga memberikan ruang bagi mereka yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem akademik kampus.
Sejumlah mahasiswa berprestasi mendapatkan penghargaan atas capaian yang telah mengharumkan nama UIN Sunan Kudus melalui berbagai bidang.
Apresiasi juga diberikan kepada tiga dosen dengan raihan skor SINTA tertinggi. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kontribusi dosen dalam memperkuat publikasi ilmiah dan budaya akademik.
Rangkaian tersebut memperlihatkan tiga fondasi yang ingin dikuatkan UIN Sunan Kudus dalam memasuki fase barunya: sumber daya akademik, produksi pengetahuan, dan prestasi sivitas akademika.
Enam puluh tahun perjalanan kini menjadi titik pijak untuk langkah berikutnya. Setelah bertransformasi menjadi UIN, tantangannya bukan lagi sekadar mempertahankan eksistensi, melainkan membuktikan bahwa dari Kudus dapat lahir pusat ilmu pengetahuan yang mampu memberi pengaruh lebih luas bagi Pantura Timur, Indonesia, bahkan dunia.
“Ini adalah babak baru PTKIN Pantura Timur,” tegas Abdurrohman.



No Comment! Be the first one.