Bukan Cuma Jual Kopi, UNS Ajari Pelaku UMKM Wonogiri Menjual Cerita di Balik Robusta
Peserta pelatihan didorong untuk menemukan cerita di balik kopi lokal dan mengubahnya menjadi narasi yang mampu membangun kedekatan dengan calon konsumen.
NUMLIT, WONOGIRI – Kopi Robusta Wonogiri memiliki potensi untuk berbicara lebih jauh di pasar digital. Namun, produk yang berkualitas tidak selalu otomatis menarik perhatian konsumen jika tidak dikemas dengan cerita yang kuat.
Table Of Content
Persoalan itulah yang coba dijawab Riset Grup (RG) Komunikasi Stratejik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui pelatihan manajemen media sosial berbasis storytelling bagi pelaku usaha kopi Robusta Wonogiri.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut digelar di Mall Pelayanan Publik (MPP) Nyawiji Kabupaten Wonogiri, Jumat (7/8/2026), dengan melibatkan 16 peserta yang terdiri atas petani, pengolah, dan pelaku UMKM kopi Robusta Wonogiri.
Bagi tim RG Komunikasi Stratejik UNS, tantangannya bukan semata-mata mengajarkan peserta cara membuat konten media sosial. Lebih jauh, mereka didorong untuk menemukan cerita di balik kopi lokal dan mengubahnya menjadi narasi yang mampu membangun kedekatan dengan calon konsumen.
Ketua RG Komunikasi Stratejik UNS, Dr. Andre Noevi Rahmanto, M.Si., mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengoptimalkan potensi kopi di Wonogiri.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat bersama para peserta dalam upaya mengoptimalkan potensi kopi di Kabupaten Wonogiri,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UNS.
Dari Produk Menjadi Cerita
Salah satu materi utama dalam pelatihan tersebut adalah pentingnya storytelling dalam pengelolaan media sosial.
Anggota RG Komunikasi Stratejik UNS, Monika Sri Yuliarti, S.Sos., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa konten berbasis cerita dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi audiens ketika mengenal sebuah produk.
Dalam konteks kopi Robusta Wonogiri, cerita dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan karakter dan keunikan kopi lokal kepada masyarakat secara lebih dekat.
Menurutnya, cerita yang mampu membangun keterlibatan emosional dapat menciptakan kesan positif sekaligus meningkatkan daya tarik produk.

Dengan pendekatan tersebut, media sosial tidak lagi hanya digunakan sebagai etalase untuk memajang produk. Platform digital dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan pengalaman, karakter, dan nilai yang melekat pada kopi Robusta Wonogiri.
Materi kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Pratomo Ambar Bawono, yang membahas strategi manajemen media sosial berbasis narasi cerita.
Peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep, tetapi juga diajak memahami bagaimana menentukan strategi komunikasi dan merancang konten yang mampu menonjolkan potensi serta karakteristik kopi Robusta Wonogiri.
Pelaku Kopi Langsung Praktik Membuat Konten
Pelatihan tidak berhenti pada sesi pemaparan materi. Para peserta dibagi dalam kelompok yang masing-masing terdiri atas empat orang untuk langsung menyusun konsep konten berbasis storytelling.
Mereka diminta menggali pengalaman dan pengetahuan masing-masing mengenai kopi Robusta Wonogiri, kemudian mengolahnya menjadi narasi yang relevan untuk media sosial.
“Pada sesi praktik ini, peserta akan bekerja dalam beberapa kelompok, lalu mulai berlatih mengembangkan pengalamannya masing-masing berkaitan dengan ciri khas dari kopi Robusta Wonogiri menjadi narasi cerita untuk konten media sosial,” jelas Pratomo.
Metode praktik tersebut membuat peserta tidak hanya belajar mengenai teori perencanaan konten, tetapi juga langsung mencoba menerjemahkan keunikan produk lokal ke dalam bahasa yang lebih dekat dengan audiens digital.
Sebelum pelatihan dimulai, peserta mengikuti pre-test untuk memetakan pemahaman awal mengenai manajemen media sosial. Hasilnya menunjukkan sebagian besar peserta telah memahami konsep dasar, meskipun masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperdalam.
Setelah materi dan praktik, peserta kembali mengikuti post-test. Hasil evaluasi menunjukkan perubahan jawaban dibandingkan pre-test, dengan pola jawaban yang lebih konsisten dan semakin sesuai dengan konsep yang diberikan selama pelatihan.
Membangun Ekosistem Kopi Wonogiri
Pelatihan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Wonogiri Haryanto, S.STP., M.Hum., Kepala Bapperida Wonogiri Purwadi, S.E., M.E., serta Ketua MPIG Kopi Robusta Wonogiri Yosep Bagus Adi Santoso.
Haryanto berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pelatihan satu kali, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang berkelanjutan antara pelaku kopi Wonogiri dan RG Komunikasi Stratejik UNS.
“Kami berharap pelatihan ini tetap dapat dilanjutkan dengan kerja sama yang terjalin, sehingga kolaborasi dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi pengembangan potensi kopi di Wonogiri,” ungkapnya.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena pengembangan produk lokal di era digital tidak hanya membutuhkan kualitas komoditas, tetapi juga kemampuan membangun identitas dan komunikasi produk.
Bagi kopi Robusta Wonogiri, media sosial dapat menjadi pintu untuk memperluas jangkauan pasar. Sementara bagi para petani, pengolah, dan pelaku UMKM, kemampuan bercerita tentang produk menjadi modal baru untuk bersaing di tengah pasar digital yang semakin ramai.
Dari pelatihan tersebut, pesan yang ingin dibangun cukup sederhana bahwa kopi Wonogiri tidak hanya perlu diminum, tetapi juga perlu diceritakan. Sebab, ketika sebuah produk memiliki cerita yang kuat, konsumen tidak sekadar membeli rasa, tetapi juga mengenal nilai dan identitas yang berada di balik secangkir kopi. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.