Ketika Cek Kesehatan Gratis Menjadi Alarm, Warga Kian Tersadar Risiko yang Tak Terasa
CKG menjadi penting karena pemeriksaan bukan sekadar mencari tahu apakah seseorang sedang sakit atau tidak. Namun, menjadi kesempatan untuk mengenali kebiasaan dan kondisi tubuh yang berpotensi...
NUMLIT, SRAGEN — Minggu pagi biasanya menjadi waktu bagi sebagian orang untuk berolahraga, berburu sarapan, atau sekadar berjalan-jalan menikmati suasana di suatu tempat. Bisa di pusat kota maupun daerah pinggiran. Termasuk, di daerah yang ada kegiatan Car Free Day (CFD).
Table Of Content
Seperti di wilayah Desa Saren, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Setiap Minggu pagi, jalan desa yang membentang di depan kantor desa tersebut disulap menjadi kawasan CFD.
Banyak warga sekitar yang menggelar aneka dagangan di sepanjang jalur itu. Tak sedikit pula warga dari berbagai penjuru datang berkunjung untuk berburu kuliner, berolahraga, atau sekadar menikmati suasana CFD.
Namun bagi Suyamto, pagi itu bukan sekadar rutinitasnya gowes ke daerah pinggiran kota. Pensiunan guru asal Tuban Kidul, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, itu sengaja datang ke lokasi CFD Desa Saren untuk memeriksa kondisi tubuhnya. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahnya yang berbatasan dengan wilayah Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
Di sebuah stan Cek Kesehatan Gratis (CKG) milik Puskesmas Kalijambe yang berdiri di kawasan CFD Desa Saren, pria 59 tahun itu menjalani pemeriksaan sederhana. Hasilnya membuatnya kembali diingatkan untuk menjaga kesehatan.
Angka tekanan darah Suyamto menunjukkan 167/95 mmHg, yang oleh petugas dikategorikan tinggi.
Bagi Suyamto, angka itu bukan sesuatu yang sepenuhnya mengejutkan. Sejak usianya menginjak 48 tahun, ia memang mulai rutin memeriksa tekanan darah dan mengonsumsi obat amlodipine. Sesekali ia juga merasakan leher kaku dan terasa berat. Namun justru di situlah pentingnya pemeriksaan rutin.
“Kadang, leher belakang rasanya itu cengeng. Saya sadar, berarti kalau pas rasanya begitu, ini pasti tensinya naik. Nah, saya tiap Minggu itu rutin menyempatkan diri untuk cek kesehatan. Biar tahu status kesehatan saya seperti apa. Kalau ada apa-apa atau ada yang enggak beres, biar segera ketahuan,” kata Suyamto, saat diwawancarai di sela-sela mengikuti pelayanan CKG di stan Puskesmas Kalijambe di kawasan CFD Desa Saren, Minggu (9/8/2026) pagi.
Ia sadar, menjaga kesehatan pada usia lanjut bukan hanya soal mengonsumsi obat rutin. Pola makan pun harus dikendalikan. Ia bahkan sudah cukup lama mengurangi konsumsi daging dan makanan asin, meskipun sesekali ia masih menyantap makanan yang menjadi pantangannya tersebut, tetapi dalam jumlah terbatas.
“Kadang juga makan sedikit, hanya untuk tamba pengin. Tapi jangan sampai banyak-banyak. Harus bisa mengukur sendiri,” ujarnya.
Selain menjaga pola makan dan jenis makanan, Suyamto berusaha tetap aktif. Setidaknya dua kali dalam sepekan ia bersepeda dengan jarak sekitar 6-7 kilometer. Baginya, aktivitas fisik menjadi bagian dari cara menjaga tubuh tetap bugar.

Ia juga belajar bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memeriksa tubuh.
“Yang penting di usia lansia ini, pikiran juga dijaga. Dibikin enak saja. Santai, banyak bergaul dengan teman-teman, tidak berpikir yang berat-berat,” katanya sambil terkekeh.
Datang untuk Memastikan, Bukan Menunggu Sakit
Cerita serupa datang dari Sri Wahyuni, warga Salam RT 12, Desa Saren, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
Sri Wahyuni datang ke stan CKG Puskesmas Kalijambe yang rutin dibuka setiap Minggu kedua di CFD Desa Saren. Perempuan berusia 45 tahun itu mengaku memilih melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin karena memiliki riwayat kesehatan keluarga yang patut diwaspadai.
Ibunya memiliki riwayat diabetes melitus (DM), sementara Sri Wahyuni sendiri memiliki riwayat tekanan darah tinggi.
Pada pemeriksaan tersebut, tekanan darah Sri Wahyuni tercatat 151/78. Selepas ujung jarinya ditusuk jarum, diketahui kadar gula darahnya 151.
Bagi Sri Wahyuni, pemeriksaan bukan dilakukan karena menunggu tubuh memberikan tanda-tanda sakit. Justru sebaliknya, ia ingin mengetahui kondisi tubuh lebih awal.
“Saya rutin cek kesehatan. Kalau riwayat kesehatan, ibu saya ada riwayat DM. Darah tinggi juga. Setiap Minggu saya rutin kontrol, kadang di puskesmas, atau ikut CKG di stan Puskesmas Kalijambe di CFD Desa Saren ini,” tutur Sri Wahyuni.
Kebiasaan Sri Wahyuni dan Suyamto memperlihatkan satu hal sederhana bahwa pemeriksaan kesehatan bisa menjadi pintu masuk untuk mengenali risiko sebelum seseorang benar-benar merasa sakit. Dan, itulah salah satu pesan penting CKG.
Bukan Sekadar Cek Tensi
Bagi warga yang datang ke stan CKG, pemeriksaan mungkin terlihat sederhana. Ada alat pengukur tekanan darah, pemeriksaan gula darah, penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, hingga penghitungan indeks massa tubuh (IMT).
Namun di balik pemeriksaan sederhana itu, ada upaya untuk membangun rekam kondisi kesehatan masyarakat.
Hal itu disampaikan Bidan Puskesmas Kalijambe, Arni Hidayah, yang memimpin timnya untuk membuka stan pelayanan CKG di CFD Desa Saren. Ia bahkan mengatakan layanan CKG tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. Puskesmas juga mendekatkan layanan tersebut ke ruang-ruang aktivitas masyarakat.
“Setiap Minggu kedua, misalnya, tim Puskesmas Kalijambe membuka stan CKG di CFD Desa Saren. Selain itu, CKG juga dilaksanakan di mana-mana. Di semua sekolah di wilayah Kecamatan Kalijambe, di kegiatan-kegiatan desa, di Posyandu malah wajib, juga di pertemuan-pertemuan warga,” kata Arni saat diwawancarai di CFD Desa Saren.
Pada Minggu (9/8/2026) itu, layanan CKG di CFD Desa Saren dibuka mulai pukul 06.00 WIB hingga 09.00 WIB. Sebanyak 21 orang mengikuti pemeriksaan hingga saat itu. Jumlah tersebut sebenarnya masih bisa jauh lebih besar, namun kebetulan pada hari itu berbarengan dengan banyak kegiatan lomba 17-an di mana-mana.
“Makanya, jumlah pengunjung CFD di sini tidak seramai biasanya. Ini tadi cuma ada 21 orang yang periksa CKG. Dalam kegiatan sebelumnya, peserta pernah mencapai 40-50 orang, bahkan jumlah tertinggi mencapai sekitar 100 orang,” ujar Arni.
Suasana CFD Desa Saren sendiri mendukung pendekatan tersebut. Warga datang untuk berolahraga, berjalan-jalan, atau menikmati suasana Minggu pagi. Anak-anak hingga lansia banyak beraktivitas di sepanjang jalur CFD dengan aneka kegiatan.
Di tengah suasana santai itu, pemeriksaan kesehatan diselipkan sebagai bagian dari aktivitas warga.
“Pesan saya untuk para lansia yang ikut CKG supaya bisa cek rutin, mengubah perilaku hidup sehat, melakukan aktivitas fisik secara rutin, dan pola makan harus terjaga. Itu kuncinya menjaga kesehatan di usia senja,” ujar Arni.
Dari Gula Darah hingga Kesehatan Jiwa
CKG sendiri tidak berhenti pada pemeriksaan tekanan darah dan gula darah. Arni menjelaskan, pemeriksaan juga mencakup kondisi kesehatan umum, termasuk berat badan, tinggi badan, dan IMT untuk mengetahui apakah seseorang masuk kategori obesitas atau terlalu kurus.
Untuk anak sekolah, kata dia, pemeriksaan dapat mencakup kesehatan gigi, telinga, dan mata. Pemeriksaan mata juga menjadi penting karena kondisi seperti mata minus pada anak terkadang tidak terdeteksi sejak awal.
Bahkan, aspek kesehatan jiwa pun mendapat perhatian. Dijelaskan Arni dan timnya, deteksi kesehatan jiwa pada program CKG dilakukan melalui skrining atau pemeriksaan dini menggunakan kuesioner atau instrumen resmi dari Kementerian Kesehatan.
Petugas kesehatan akan memeriksa gejala stres, rasa cemas, atau depresi secara terintegrasi di sekolah, Puskesmas, atau via aplikasi SATUSEHAT Mobile untuk skrining mandiri. Jika ditemukan gejala cemas atau depresi, pasien akan dirujuk ke Puskesmas atau psikolog untuk pendampingan lebih lanjut.
Dengan demikian, CKG tidak sekadar mencari penyakit. Pemeriksaan menjadi upaya untuk melihat kondisi kesehatan seseorang secara lebih utuh.

Data hasil pemeriksaan warga juga dimasukkan ke dalam sistem CKG. Menurut Arni, data tersebut dapat digunakan untuk memantau riwayat kesehatan warga.
Dari pemeriksaan sederhana di ruang publik, terbentuk data yang dapat membantu tenaga kesehatan memahami kondisi masyarakat secara lebih luas.
Angka-Angka yang Menunjukkan Alarm
Jika pengalaman Suyamto dan Sri Wahyuni menunjukkan bagaimana risiko kesehatan ditemukan pada tingkat individu, data Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen memberikan gambaran yang lebih besar.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sragen, dr. Sri Subekti, saat diwawancarai terpisah mengatakan hasil CKG di wilayah Kabupaten Sragen menunjukkan masih cukup besarnya beban faktor risiko penyakit kronis di masyarakat.
Dia memerinci datanya hingga pertengahan Agustus 2026. Pada kelompok dewasa, misalnya, sekitar 50 persen peserta yang diperiksa memiliki tingkat aktivitas fisik yang kurang.
Masalah lain juga terlihat. Sekitar 30,2 persen mengalami obesitas sentral, sekitar 29 persen mengalami obesitas berdasarkan IMT, dan sekitar 42 persen memiliki tekanan darah yang tidak normal.
Masalah kesehatan gigi juga masih cukup menonjol. Sekitar 40 persen peserta dewasa yang diperiksa mengalami karies gigi dan sekitar 44 persen ditemukan memiliki gigi yang hilang.
Sementara pada kelompok anak sekolah dan remaja, sekitar 60 persen peserta yang diperiksa memiliki tingkat aktivitas fisik yang kurang. Karies gigi juga ditemukan pada sekitar 37 persen peserta.
Pada kelompok anak prasekolah, masalah gigi dan mulut bahkan menjadi persoalan utama dengan proporsi sekitar 66 persen dari total balita dan anak prasekolah yang diperiksa.
Sedangkan pada kelompok lanjut usia, hasil CKG menunjukkan adanya risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) sekitar 16 persen, risiko penyakit jantung sekitar 5 persen, serta risiko stroke sekitar 3 persen.
“Angka-angka itu menunjukkan bahwa persoalan kesehatan tidak selalu dimulai dari rasa sakit. Sebagian justru berawal dari faktor risiko yang tidak terasa,” ujar dia, Selasa (18/8/2026).
Mencegah Sebelum Terlambat
Itulah mengapa CKG, menurut dia, menjadi penting. Pemeriksaan bukan sekadar mencari tahu apakah seseorang sedang sakit atau tidak.
Lebih jauh, pemeriksaan menjadi kesempatan untuk mengenali kebiasaan dan kondisi tubuh yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari.
“Seseorang mungkin merasa baik-baik saja, tetapi ternyata tekanan darahnya tinggi. Seseorang mungkin masih mampu beraktivitas seperti biasa, tetapi memiliki pola hidup yang kurang aktif. Seseorang mungkin belum mengeluhkan gangguan penglihatan, tetapi pemeriksaan mata menemukan adanya masalah,” terang dia.
Dalam konteks itu, lanjut Sri Subekti, pemeriksaan kesehatan gratis menjadi semacam alarm. Alarm yang berbunyi sebelum keadaan menjadi lebih serius.
Namun, pemeriksaan dini hanya akan bermakna apabila diikuti perubahan perilaku dan pengobatan ketika memang diperlukan.
Dinas Kesehatan Sragen kini mendorong penguatan tindak lanjut hasil CKG, terutama untuk pengendalian hipertensi, diabetes, obesitas, kolesterol, kebiasaan merokok, dan kurang aktivitas fisik.
“Peserta dengan hasil pemeriksaan yang tidak normal juga perlu mendapatkan pemeriksaan serta pelayanan lanjutan. Sedangkan, data CKG selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar perencanaan program kesehatan dan intervensi berbasis wilayah maupun Puskesmas,” imbuh dia.
Mengubah Cara Pandang
Pagi itu, CFD Desa Saren memang tetap berjalan seperti biasa. Ada warga yang berolahraga. Ada pedagang yang menjajakan makanan. Ada anak-anak yang bermain. Ada keluarga yang menikmati Minggu pagi.
Di antara keramaian itu, sebuah stan sederhana juga konsisten menawarkan sesuatu yang mungkin jauh lebih penting daripada sekadar aktivitas akhir pekan yaitu kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuh sendiri melalui pelayanan CKG.
Seusai melakukan CKG, Suyamto boleh jadi pulang dengan kembali membawa kesadaran untuk menjaga makanan, rutin berolahraga, mengontrol tekanan darah, sekaligus menjaga pikiran tetap tenang.
Sri Wahyuni pun demikian. Dia menegaskan untuk memilih terus memeriksakan kondisi tubuhnya, terutama karena memiliki riwayat kesehatan keluarga. Dia juga menyadari, usianya tak lagi muda. Maka, dia harus makin aware terhadap kondisi dan status kesehatan diri.
Keduanya memperlihatkan bahwa menjaga kesehatan tidak harus menunggu sakit. Karena ketika sebuah penyakit mulai terasa, bisa jadi prosesnya sudah berjalan jauh sebelumnya.
Maka, satu pemeriksaan sederhana dapat menjadi titik balik. Cek lebih awal. Kenali risikonya. Ikuti tindak lanjutnya. Dan, ketika memang membutuhkan pengobatan, jangan menundanya.
Sebab pada akhirnya, makna “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati” bukan hanya tentang datang ke tempat pemeriksaan. Ia adalah tentang keberanian untuk mengetahui kondisi diri sendiri, lalu mengambil keputusan untuk hidup lebih sehat sebelum terlambat. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.