Punggung-Punggung Panggung
Hal yang tak kalah sulit untuk menjadi anak band adalah harus bisa menemukan orang-orang untuk diajak bersama-sama membangun kekuatan atau menemukan kru yang tepat.
NUMLIT, SURAKARTA – Saya akan mengawali tulisan ini dengan nada yang dipenuhi subjektivitas tinggi, karena terutama sekali dipengaruhi oleh hal-hal yang berasal dari pancaindra yang serba terbatas ini.
Tulisan ini nanti mungkin juga akan dipenuhi oleh romantisasi kekaguman-kekaguman terhadap hal-hal yang mungkin terlalu kecil dan seolah tertutup oleh sorot lampu dan dentuman dahsyat dari pelantang suara berkapasitas puluhan ribu watt di panggung.
Ada salah satu episode dalam hidup saya. Bercita-cita menjadi anak band. Main di panggung-panggung besar dengan teriakan-teriakan histeris dari ribuan penonton dan disaksikan oleh mata yang seolah tak ingin berkedip menyaksikan aksi panggung tersebut.
Cita-cita itu kemudian membawa saya kepada realita yang justru membuat mata saya lebih terbuka. Bahwa di balik ingar-bingar panggung tersebut ada manusia-manusia yang seolah tak kenal lelah menjaga agar semua keajaiban demi keajaiban itu terjadi di panggung.
Iya. Kemudian saya mengenal kata itu. Kru, yang berasal dari bahasa Inggris crew yang memiliki arti awak. Bisa awak kapal, awak pesawat, atau para pekerja.
Ternyata, berdasarkan amatan saya, hal yang tak kalah sulit untuk menjadi anak band adalah harus bisa menemukan orang-orang untuk diajak bersama-sama membangun kekuatan atau menemukan kru yang tepat.
Karena sangat melelahkan sekali jika semua harus dikerjakan sendiri. Dan kru menjadi bagian penting dari band itu sendiri. Profesionalisme band bisa salah satunya diukur dari kesiapsiagaan para kru, utamanya pada saat konser berlangsung. Tidak hanya pra dan pascaacara saja.
Pada 17 Juli 2026 lalu, Tantri, vokalis band Kotak, mengalami kejadian yang tak menyenangkan saat Kotak menjalani ajang Syukuran Nelayan Ke-69 di Pantai Palangpang, Geopark Ciletuh, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Sebagaimana diberitakan detik.com, seorang penonton tiba-tiba naik ke panggung dan merangkul sang vokalis dari belakang. Sontak, hal ini membuat shock banyak orang, termasuk sang vokalis. Tapi ada satu fenomena yang menarik. Bagaimana teknisi vokal langsung sigap mengamankan kondisi dengan sangat cepat.
Menurut beberapa sumber, kru kemudian terbagi berdasarkan fungsi kerjanya. Dalam kasus Tantri, misalnya, teknisi vokal ini juga bagian dari kru yang bertugas.
Ada road manager, stage manager, FOH engineer, teknisi tiap alat musik, teknisi tata lampu, dokumentasi visual foto dan video, termasuk kemudian, yang hari ini terjadi di era digital, salah satunya kemunculan social media specialist, baik clipper maupun content creator untuk sebuah band.
Bahkan, salah satu temuan yang menarik, saat band mulai merintis karier di dunia panggung, ada yang bahkan mengutamakan bayaran hanya untuk para kru yang terlibat. Para pemain dikesampingkan terlebih dahulu. Karena merintis tentu saja penuh perjuangan. Dan kru yang direkrut bisa jadi memang dalam kondisi yang secara skill dan jam terbang sudah teruji, terutama untuk kondisi panggung live. Bukan rekaman.
Seorang kru harus menepuk-nepuk kaki sang drummer karena ear monitor bermasalah. Seorang kru siap menangkap gitar yang dilempar begitu saja setelah pertunjukan. Seorang kru yang siap ketika kondisi panggung mengalami kendala teknis yang kadang tidak bisa diprediksi. Pelantang suara terbakar? Sumber daya listrik mati?
Kru menjadi brand bagi sebuah band. Dengan identitas yang juga menjadi penanda khas suatu band. Sebut saja Jaddah Slank atau Crew of Saints dari Superman Is Dead (SID). Istilah umum yang kita temui adalah roadies, atau mereka yang memastikan semua berjalan lancar selama pertunjukan berlangsung.
Terkadang kita memang lebih suka menikmati hasilnya tanpa mau tahu siapa saja yang terlibat membuat pertunjukan lancar di baliknya. Ada banyak yang terlibat meski tak terlihat. Itu sebabnya para kru lebih dominan memakai kostum berwarna hitam. Memang sepertinya sengaja, supaya tak terlihat.
Seharusnya ekosistem pertunjukan seperti live concert seperti ini dibaca sebagai media edukasi tentang bagaimana sistem manajerial bekerja. Tidak hanya dilihat sebagai upaya untuk sekadar mencari hiburan dan melepas penat semata.
Ada di sisi lain yang masih bisa kita ulik untuk kita sampaikan ke generasi selanjutnya. Ada peluang untuk paling tidak didiskusikan bagaimana ekosistem seni pertunjukan ini memberikan ruang-ruang pengetahuan baru yang tentu saja tidak banyak ilmu yang kita serap.
Industri musik yang dinamis juga melahirkan para roadies, para pekerja kreatif, yang juga memiliki sisi musikalitas yang patut diapresiasi.
Kru menjadi bagian dari seni pertunjukan itu sendiri. Kru menjadi tulang punggung panggung. Menjadi punggung-punggung panggung. Kalau tidak percaya, mari kita bertemu di Projek-D. Melakukan stage tour, siapa tahu bisa kita temui ada orang yang sedang tidur di bawah panggung. Yang meski dalam kondisi berisik, tapi tak terusik.
Artikel ini ditulis oleh Didik W. Kurniawan, Redaktur Numeralitera.



No Comment! Be the first one.