Dari Sound Check hingga Improvisasi, Twenty One Plus Bikin Solo Square Bernyanyi
Panggung di Solo Square tidak sekadar menjadi tempat Twenty One Plus menghibur pengunjung. Penampilan itu sekaligus menjadi semacam etalase bagi identitas baru band Twenty One Plus.
NUMLIT, SURAKARTA — Panggung hiburan di Solo Square berubah menjadi ruang pertunjukan musik yang penuh energi pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Table Of Content
Di tengah hiruk-pikuk Himpera Property Expo 2026, band Britpop/Britrock asal Solo Raya, Twenty One Plus, berhasil menarik perhatian pengunjung mal melalui sembilan lagu, aksi improvisasi spontan, hingga deretan karya baru yang belum dirilis.
Penampilan tersebut menjadi salah satu suguhan hiburan dalam Himpera Property Expo 2026 yang digelar Himpera (Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat) DPC 4 Solo Raya.
Berbeda dengan konser di venue tertutup, panggung Twenty One Plus berada di ruang publik yang mempertemukan berbagai jenis penonton, mulai dari panitia, peserta expo, perwakilan sponsor, hingga pengunjung Solo Square yang awalnya sekadar melintas.
Menariknya, perhatian publik sudah mulai muncul sejak sesi sound check. Alunan musik yang dimainkan sebelum pertunjukan resmi dimulai membuat sejumlah pengunjung berhenti dan mendekat ke area panggung.
Suasana kemudian semakin hidup ketika Twenty One Plus mulai memainkan setlist mereka.
Sembilan Lagu, dari Nostalgia hingga Karya Baru
Dalam penampilan tersebut, Twenty One Plus membawakan sembilan lagu yang terdiri atas tujuh karya original dan dua lagu cover.
Dua lagu cover yang dipilih bukan sembarang nomor. Mereka membawakan “There Is a Light That Never Goes Out” milik The Smiths dan “Creep” dari Radiohead. Pilihan tersebut sekaligus mempertegas karakter musikal Twenty One Plus yang bergerak di jalur Britpop/Britrock.

Kedua lagu tersebut juga berhasil mengajak penonton bernyanyi bersama. Namun, kekuatan utama penampilan malam itu justru terletak pada karya-karya original yang menjadi penanda babak baru perjalanan band tersebut.
Dua di antaranya, “Outdated” dan “Mirror”, bahkan belum dirilis untuk publik.
Ada pula “Honey Bee”, karya dari double single sebelumnya, “She Said and He Said”, yang dirilis ketika band masih menggunakan nama 21 +. Lagu tersebut rencananya akan diremaster dan dirilis kembali dalam diskografi resmi Twenty One Plus melalui EP “She Said, He Said, and I Said”.
Sementara itu, “Charade” juga dipersiapkan untuk masuk dalam EP tersebut. Dua lagu lain, “Just You and Me Eternally” dan “Song 4”, menjadi bagian dari proyek EP trilogi cinta yang diproyeksikan sebagai rilisan berikutnya setelah single debut mereka.
Adapun single perdana Twenty One Plus, “Judas”, saat ini sudah tersedia di berbagai platform musik digital.
Dengan komposisi tersebut, panggung di Solo Square tidak sekadar menjadi tempat Twenty One Plus menghibur pengunjung. Penampilan itu sekaligus menjadi semacam etalase bagi identitas baru band setelah bertransformasi dari 21 + menjadi Twenty One Plus.
Ketika Setlist Menipis, Improvisasi Jadi Senjata
Salah satu momen menarik justru lahir dari situasi yang tidak sepenuhnya direncanakan.
Menjelang membawakan “Just You and Me Eternally” dan “Judas”, personel Twenty One Plus melakukan improvisasi spontan. Aryo yang memegang gitar sekaligus backing vocal bersama Rio pada bass membangun jalinan akor pembuka.
Improvisasi tersebut kemudian disambut petikan melodi dari Ditya sebagai frontman.
Aksi itu dilakukan karena durasi panggung masih tersisa cukup panjang sementara daftar lagu yang disiapkan mulai menipis. Alih-alih membiarkan situasi tersebut menjadi kendala, mereka justru mengubahnya menjadi bagian dari pertunjukan.
Momen tersebut menunjukkan kemampuan para personel dalam membaca situasi panggung sekaligus menjaga energi pertunjukan tetap hidup.
Bagi sebuah band yang sedang membangun identitas baru, kemampuan beradaptasi seperti itu menjadi modal penting. Pertunjukan musik tidak selalu berjalan sesuai skenario, dan justru dalam situasi spontan itulah karakter sebuah band sering kali terlihat.
Bukan Hanya soal Musik, Ada Kolaborasi di Belakang Panggung
Penampilan Twenty One Plus di Solo Square juga tidak berdiri sendiri. Ada dukungan dari sejumlah pihak yang ikut memastikan kebutuhan teknis mereka terpenuhi.
Kesuksesan pertunjukan tersebut turut ditopang oleh pinjaman sejumlah perlengkapan dari tiga personel Llarr, yakni Ivansyah Dwi Mustofa (Ivan), Candra Iqbal Maulana (Iqbal), dan Illham Surya Aditama (Illham) yang juga menjadi bagian dari The Rubanah.
Beberapa perlengkapan yang dipinjamkan antara lain kabel, adaptor, efek gitar, hingga efek bass tambahan.
Dukungan sederhana di balik layar tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah pertunjukan. Di atas panggung, penonton mungkin hanya melihat lima personel memainkan musik. Namun di baliknya terdapat kerja kolektif, mulai dari memastikan instrumen siap, kebutuhan teknis tersedia, hingga koordinasi antarpersonel dan kru.
Formasi utama Twenty One Plus sendiri terdiri atas Ditya Sri Pramudita (Ditya) sebagai lead vocal dan guitarist, Satryo Herlambang (Aryo) sebagai backing vocal dan guitarist, Keanu Ario Putra Rachmansyah (Rio) sebagai bassist, serta Belva Kynan Sahasika (Kynan) sebagai drummer.

Di belakang mereka terdapat Shintia Purnama Sari sebagai manager sekaligus field photographer, Jory Naszal Syahputra sebagai driver dengan dukungan pinjaman mobil dari Agustinus Arya Wicaksana (Arya), serta Aqila Sulthan Santoso dan Verdiansyah Hernyana Rudra Perkasa sebagai crew lapangan.
Rangkaian dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pertunjukan musik bukan hanya persoalan siapa yang berada di depan mikrofon. Ada banyak tangan yang bekerja agar sebuah penampilan dapat berlangsung dengan baik.
Dari Panggung Expo Menuju Babak Baru
Himpera Property Expo sendiri merupakan ajang yang mempertemukan pengembang dan pelaku usaha sektor perumahan serta properti di wilayah Solo Raya. Kehadiran Twenty One Plus memberikan warna berbeda di tengah aktivitas pameran hunian tersebut.
Musik menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kelompok di satu ruang yang sama. Pengunjung yang semula datang untuk melihat pameran properti bisa berhenti menikmati musik, sementara peserta expo dan masyarakat umum mendapatkan hiburan dalam suasana yang lebih cair.
Bagi Twenty One Plus, panggung tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan wajah baru mereka kepada publik.
Transformasi dari 21 + menjadi Twenty One Plus bukan sekadar pergantian nama. Band ini tengah menyiapkan materi baru sekaligus memperluas identitas musikal mereka melalui sejumlah proyek yang akan datang.
“Setelah ‘Judas’, kami mempersiapkan EP trilogi cinta. Namun, ada satu kejutan lain yang sengaja masih dirahasiakan dan diposisikan sebagai proyek di antara perilisan ‘Judas’ dan EP tersebut,” ujar Ditya, saat diwawancarai seusai tampil di Solo Square.
Mereka belum membocorkan detail proyek itu. Yang jelas, penampilan di Solo Square memberikan satu gambaran. Twenty One Plus sedang memasuki fase baru. Mereka tidak hanya membawa lagu-lagu lama ke atas panggung, tetapi juga memperkenalkan karya baru, menguji materi yang belum dirilis, dan menunjukkan kemampuan beradaptasi ketika situasi panggung berubah.
Dan mungkin, justru dari panggung-panggung seperti inilah perjalanan sebuah band menemukan bentuknya. Bukan hanya melalui lagu yang sudah selesai direkam, tetapi juga lewat improvisasi, kolaborasi, dan keberanian untuk terus mencoba.
Perjalanan Twenty One Plus masih panjang. Namun setelah malam di Solo Square, satu hal menjadi semakin jelas. Babak baru mereka sudah dimulai. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.