Bagaimana SciRank Global Menentukan Peneliti Terbaik Dunia?
Kualitas seorang ilmuwan diukur berdasarkan data dan dampak ilmiah, bukan reputasi institusi atau popularitas pribadi.
NUMLIT, SURAKARTA — Sebanyak 10 dosen UNS Surakarta berhasil masuk dalam daftar Top 5% Global Scientist Index 2025 yang dirilis lembaga pemeringkatan internasional independen SciRank Global.
Table Of Content
Pemeringkatan Top 5% Global Scientist Index 2025 yang dirilis SciRank Global disusun berdasarkan analisis bibliometrik terhadap lebih dari 10 juta profil peneliti dan sekitar 50 juta karya ilmiah dari berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia.
“SciRank menegaskan bahwa kualitas seorang ilmuwan diukur berdasarkan data dan dampak ilmiah, bukan reputasi institusi atau popularitas pribadi,” ujar Prof. Dr. Ir. Wahyudi Sutopo, S.T., M.Si., salah satu dosen UNS yang masuk dalam daftar Top 5% Global Scientist Index 2025 tersebut, Kamis (11/6/2026).
Prof. Dr. Ir. Wahyudi Sutopo, S.T., M.Si., merupakan Dekan Fakultas Teknik dan menempati rangking global 793.434.

Menggunakan Basis Data OpenAlex
Dalam proses pemeringkatan, SciRank menggunakan data dari OpenAlex, salah satu basis data metadata ilmiah terbuka terbesar di dunia.
Berbeda dengan sejumlah basis data komersial yang hanya mencakup jurnal tertentu, OpenAlex menghimpun informasi penelitian dari berbagai bidang ilmu secara lebih luas, mencakup lebih dari 50 juta publikasi ilmiah dan jutaan profil peneliti dari seluruh dunia.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti dari negara berkembang maupun bidang-bidang ilmu yang sedang tumbuh mendapatkan peluang yang sama untuk dinilai.
Siapa yang Bisa Masuk Pemeringkatan?
Tidak semua peneliti otomatis masuk dalam daftar penilaian.
Untuk dapat dihitung dalam pemeringkatan Global Scientist Index 2025, seorang peneliti harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain memiliki minimal 10 karya ilmiah terverifikasi dalam profil OpenAlex.
Kemudian, teridentifikasi sebagai individu peneliti yang valid. Bukan organisasi, lembaga, kelompok riset kolektif, atau akun duplikasi.
Peneliti juga harus aktif melakukan penelitian pada berbagai bidang ilmu, mulai dari sains, teknik, kedokteran, ilmu sosial, hingga humaniora.
Dari sekitar 10 juta peneliti aktif yang memenuhi kriteria tersebut, hanya sekitar 500 ribu peneliti terbaik yang berhasil masuk kelompok Top 5% dunia.
Tidak Hanya Menghitung Jumlah Publikasi
SciRank menggunakan metode yang disebut Normalized Composite Score (NCS) atau skor gabungan terstandarisasi.
Metode ini dirancang untuk menghindari bias yang sering muncul dalam pemeringkatan ilmiah.
Sebagai contoh, jika hanya menghitung jumlah sitasi, peneliti senior akan lebih diuntungkan karena memiliki karya yang lebih lama beredar. Sebaliknya, jika hanya menghitung jumlah publikasi, peneliti yang menghasilkan banyak artikel belum tentu memiliki dampak ilmiah yang besar.
Karena itu, SciRank memberikan bobot yang seimbang terhadap dua aspek utama. Pertama, Produktivitas (Productivity) yaitu jumlah total karya ilmiah yang telah dipublikasikan dan terverifikasi.
Kedua, Dampak (Impact) yaitu jumlah sitasi atau seberapa sering karya ilmiah tersebut digunakan dan dirujuk oleh peneliti lain di seluruh dunia.
Kedua indikator tersebut kemudian dinormalisasi ke dalam skala 0 hingga 100 dan dihitung secara proporsional untuk menghasilkan skor akhir.
Melalui metode ini, peneliti yang memiliki dampak penelitian tinggi tetap dapat bersaing dengan peneliti yang menghasilkan publikasi dalam jumlah besar.
Dua Kategori Peneliti Terbaik Dunia
Berdasarkan hasil penghitungan skor tersebut, SciRank membagi peneliti ke dalam dua kategori utama yaitu Top 1% Global Scientist dan Top 5% Global Scientist.
Top 1% Global Scientist yaitu kelompok elite ilmuwan dunia yang berada di puncak komunitas akademik internasional. Mereka umumnya memiliki ribuan sitasi dan berpengaruh besar dalam perkembangan bidang ilmunya.
Top 5% Global Scientist merupakan kelompok peneliti yang secara statistik memiliki produktivitas dan dampak riset lebih tinggi dibandingkan 95 persen peneliti lainnya di seluruh dunia.
Data Diambil Setahun Sekali
SciRank tidak memperbarui peringkat secara real-time. Pemeringkatan dilakukan menggunakan sistem snapshot tahunan, yakni mengambil data pada satu titik waktu tertentu.
Untuk indeks tahun 2025, data yang digunakan merupakan kondisi hingga 22 November 2025.
Dengan metode tersebut, capaian seorang peneliti pada tahun tertentu akan tercatat sebagai rekam jejak akademik permanen untuk periode tersebut, meskipun peringkatnya dapat berubah pada tahun-tahun berikutnya.
Baca juga: 10 Dosen UNS Masuk 5 Persen Peneliti Terbaik Dunia, Bukti Kuat Kampus Riset Berkelas Global

Melalui metodologi tersebut, masuknya seorang akademisi ke dalam daftar Top 5% Global Scientist Index menunjukkan bahwa peneliti tersebut memiliki kombinasi produktivitas dan dampak ilmiah yang berada di atas mayoritas peneliti dunia.
Karena itu, keberhasilan 10 dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta masuk dalam daftar ini menjadi indikator kuat bahwa kualitas riset dan kontribusi ilmiah UNS semakin mendapat pengakuan di tingkat internasional. (Damar Sri Prakoso)



[…] Bagaimana SciRank Global Menentukan Peneliti Terbaik Dunia? […]