Belajar Membaca Arah Marketing Era AI di Edutech AI Expo 2026
Di balik data dan algoritma, tetap ada manusia yang menentukan arah.
NUMLIT, SURAKARTA — Edutech AI Expo 2026 di atrium The Park Mall Solo Baru, Kamis (30/4/2026), menghadirkan sesi diskusi yang cukup berdaging.
Audiens yang berasal dari kalangan mahasiswa, pelajar, pebisnis, dan pekerja dari sejumlah perusahaan diajak melihat dunia marketing dari sudut pandang yang lebih dalam.
Mengusung tema Marketing Intelligence: Data Driven & Benchmarking Competitor Set Up, sesi ini tak hanya bicara soal angka dan teknologi tetapi juga tentang manusia di baliknya.
Dipandu oleh Damar Sri Prakoso, pengajar broadcasting profesional sekaligus jurnalis dengan pengalaman panjang di industri media, diskusi berlangsung cair namun tetap tajam.
Dua narasumber dihadirkan dengan latar belakang kuat di bidangnya. Salah satunya Bambang Prakoso yang dikenal memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di ekosistem digital dan pengembangan brand.
Ia banyak terlibat dalam berbagai proyek besar, mulai dari Nusa Dua Fiesta, Toyota, Jakarta Marathon, hingga pengembangan brand di industri hospitality seperti Archipelago International, Marriott International, dan Starwood Hotel & Resort.
Kepakarannya terletak pada strategi monetisasi konsep, AI, serta marketing intelligence.
Narasumber lainnya, Suwarmin merupakan jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di dunia media. Ia juga dikenal sebagai penulis sekaligus tim penyusun buku “20 Tahun Solopos”, serta kini aktif sebagai CEO Coolosal Academy.
Sejak awal, Bambang membuka sesi dengan pendekatan yang tidak biasa. Ia tidak langsung membahas data atau AI, melainkan hal yang lebih mendasar.
“Kosakata akan mengarahkan ke kalimat. Kalimat menjadi bahasa, dan bahasa membentuk logika berpikir,” ujarnya.
Dari sana, pembahasan mengalir pada satu benang merah, marketing bukan hanya soal strategi, tapi juga cara manusia membangun makna.
Sesi ini semakin hidup saat peserta mulai terlibat. Bianca (17), siswi kelas XII SMA Al Abidin Bilingual Boarding School (ABBS) Surakarta, mengangkat pertanyaan tentang bagaimana mempromosikan jasa gambar di tengah maraknya AI art, sekaligus membangun branding dari nol.
Menjawab itu, Bambang menekankan pentingnya memahami siapa audiens yang dituju sebelum melangkah lebih jauh.
“Hal pertama yang kita jual sebenarnya adalah diri kita sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan, koneksi dengan audiens tidak dimulai dari logika, tetapi dari emosi. Cara berkomunikasi, sikap, hingga pembawaan diri menjadi pintu awal sebelum orang benar-benar melihat produk yang ditawarkan.
“Kalau emotional connection-nya sudah terbentuk, baru orang akan melihat apa yang kita jual,” lanjutnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menemukan nilai eksklusif dari sebuah produk, bukan sekadar berbeda, tetapi mampu menjawab masalah yang nyata di pasar.
Di sisi lain, Suwarmin mengingatkan bahwa di tengah kecanggihan AI, tetap ada batas yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
Ia mencontohkan dunia keuangan yang membutuhkan lisensi dan tanggung jawab profesional.
“AI bisa membantu menjawab banyak hal, tapi tetap butuh manusia untuk memilih dan memutuskan,” ujarnya.
Pertanyaan lain datang dari Restu Wicak (30), perwakilan Cimory Group, yang menyoroti peran teknis AI dalam dunia marketing.

Bambang menjawab dengan menekankan bahwa AI pada dasarnya adalah alat untuk membantu proses pengambilan keputusan berbasis data, mulai dari analisis kompetitor hingga data penjualan.
Namun, ia kembali mengingatkan satu hal penting, siapa yang mengendalikan AI jauh lebih menentukan daripada teknologinya itu sendiri.
Di akhir sesi, moderator Damar merangkum diskusi dengan satu kalimat sederhana namun kuat, AI tetaplah alat, dan manusia tetaplah tuannya.
“AI tetap jadi media atau tools, sebagai pembantu bagi manusia. Manusia tetaplah tuannya,” ujar Damar.
Menutup diskusi, kedua narasumber meninggalkan pesan reflektif. Bambang mengingatkan bahwa setiap proses pasti melalui fase sulit. Sementara Suwarmin menekankan pentingnya niat, kerja keras, dan relasi.
“AI itu hanya pemanis. Puncaknya tetap pada ikhtiar manusia,” kata Suwarmin.
Di tengah euforia teknologi, sesi ini seolah menjadi penyeimbang, bahwa di balik data dan algoritma, tetap ada manusia yang menentukan arah. (Alfarisa Khusni F. R.)



No Comment! Be the first one.