Berawal dari Tugas Osjur, Glarsa Tumbuh Jadi Ruang Aman Mahasiswa UNS untuk Belajar dan Berkarya
Glarsa Band tidak hanya belajar memainkan musik bersama, tetapi juga belajar mengelola perbedaan selera, meredam ego, berkompromi, hingga saling menguatkan ketika salah satu anggota merasa tidak...
NUMLIT, SURAKARTA – Sebuah tugas dalam Masa Orientasi Jurusan (Osjur) mungkin hanya berlangsung sesaat.
Table Of Content
Namun, bagi enam mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom) FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2025, tugas membuat penampilan band justru menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang.
Dari panggung Osjur, mereka kemudian membangun sebuah grup musik yang terus berkembang dan mulai tampil di berbagai panggung seni. Salah satunya adalah Pra-Event Solo International Performing Arts (SIPA) di Foodcourt Solo Paragon, Sabtu (18/7/2026).
Grup yang kini bernama Glarsa itu digawangi Gladys Chelsea Laureta (gitar), Lucas Christian Firdaus (drum), Alifya Mazaya Cahyaputri (kibor), Muhammad Raufa Aldivaro (bas), Sely Margaretha (vokal), dan Adnan Shavril Arpinsyah (gitar).
Namun, di balik penampilan mereka, Glarsa menyimpan cerita tentang bagaimana enam mahasiswa baru belajar membangun sebuah tim dari nol.
Mereka tidak hanya belajar memainkan musik bersama, tetapi juga belajar mengelola perbedaan selera, meredam ego, berkompromi, hingga saling menguatkan ketika salah satu anggota merasa tidak percaya diri.
Sejarah Lahirnya Glarsa
Saat pertama kali dibentuk, grup ini menggunakan nama Band.com. Nama tersebut mengambil unsur “Com” dari kata Communication, merujuk pada program studi Ilmu Komunikasi tempat mereka belajar.
Seiring perjalanan waktu, aktivitas mereka mulai meluas. Mereka tidak lagi hanya tampil untuk kegiatan internal program studi, tetapi mulai menjajal berbagai panggung di luar lingkungan Ilkom.
Perubahan nama pun dilakukan. Mereka memilih nama Glarsa, yang lebih personal karena merupakan gabungan inisial nama keenam personel utama.
Perubahan nama itu sekaligus menandai perjalanan baru sebuah grup yang awalnya lahir dari tugas Osjur menjadi ruang kreatif yang mempertemukan minat, karakter, dan latar belakang musik yang berbeda.
Belajar Meredam Ego untuk Menemukan Harmoni
Di atas panggung Pra-Event SIPA, Glarsa membawakan sejumlah lagu populer seperti “Aku Milikmu” milik Dewa 19, “Berharap Tak Berpisah” dari Reza Artamevia, dan “Terlalu Lama” milik Vierra.
Namun, menentukan lagu yang akan dimainkan bukan perkara sederhana. Raufa mengakui, setiap anggota memiliki selera musik dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, keputusan dalam band tidak bisa selalu mengikuti keinginan satu orang.
“Kalau ada teman yang sangat ingin membawakan sebuah lagu tapi anggota lain merasa kesulitan, kami harus bisa meredam ego serta saling mengerti kemampuan satu sama lain,” jelasnya saat diwawancarai seusai acara.
Bagi Glarsa, bermusik akhirnya menjadi latihan nyata untuk memahami orang lain.
Mereka belajar bahwa sebuah band tidak akan menghasilkan harmoni jika setiap orang hanya ingin didengar. Ada kalanya seseorang harus mengalah agar keseluruhan tim dapat berjalan lebih baik.
Nilai tersebut juga terlihat dari cara mereka mempersiapkan penampilan.
Selama dua pekan, mereka menjalani enam kali latihan intensif dengan memanfaatkan masa libur semester. Bahkan, Gladys rela mengatur ulang waktu liburannya.
Ia sempat pulang ke kampung halamannya di Tegal untuk bertemu keluarga sebelum kembali ke Solo demi mengikuti latihan.
Persoalan jarak juga mereka atasi dengan cara yang sederhana, tetapi mencerminkan semangat kebersamaan.
Mereka memilih studio latihan secara bergantian. Kadang latihan dilakukan di sekitar rumah Adnan, kemudian berpindah ke area kos Gladys dan Dindi, lalu bergeser ke lokasi yang lebih dekat dengan rumah Raufa.
Bagi mereka, tidak ada satu anggota yang harus selalu berkorban lebih banyak.
Semua berusaha mencari titik tengah agar proses berkarya tetap berjalan tanpa memberatkan salah satu pihak.
Ketika Band Menjadi Ruang Aman untuk Mahasiswa Baru
Bagi mahasiswa baru, masa awal perkuliahan sering kali diwarnai proses adaptasi. Jadwal akademik, tugas, organisasi, hingga kepanitiaan dapat menjadi sumber tekanan tersendiri.
Di tengah situasi tersebut, Glarsa hadir bukan hanya sebagai grup musik, tetapi juga menjadi ruang untuk melepas penat.
Adinda Putri Aurelia Yustin atau Dindi, yang dalam penampilan Pra-Event SIPA menggantikan Sely sebagai vokalis, menyebut musik menjadi salah satu cara mereka menjaga keseimbangan di tengah kesibukan.
Namun, tampil menggantikan vokalis utama juga bukan perkara mudah bagi Dindi.
Ia sempat merasa takut karena menyadari adanya perbedaan teknik vokal. Sely memiliki pengalaman dalam dunia choir, sementara Dindi harus beradaptasi dengan kebutuhan bernyanyi dalam sebuah band.

Keraguan itu perlahan hilang karena dukungan dari anggota lainnya.
“Tapi yang membuat saya tetap berani ngeband dengan Glarsa adalah teman-teman selalu memberikan feedback. Mereka memberi tahu di mana letak kekurangan saya sekaligus memberikan solusinya. Ini membuktikan bahwa di dalam band selalu ada bonding yang saling menguatkan,” ungkap Dindi.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu kekuatan Glarsa. Di dalam kelompok ini, kesalahan tidak diperlakukan sebagai alasan untuk menghakimi. Sebaliknya, kekurangan menjadi bahan untuk belajar bersama.
Dari Rasa Minder Menjadi Keberanian untuk Tampil
Pengalaman serupa juga dirasakan anggota lainnya. Alifya, misalnya, sempat merasa ragu ketika kembali bermain kibor setelah cukup lama vakum dari aktivitas bermusik dan tampil di depan publik.
Namun, lingkungan yang suportif membuatnya berani mencoba kembali.
“Awalnya tidak ada niat dan sempat takut karena sudah lama tidak main kibor atau perform seperti ini. Intinya, jangan takut mencoba, karena pasti nanti akan dapat pengalaman dan teman-teman baru,” katanya.
Bagi Raufa, keberanian untuk mencoba justru menjadi pintu masuk menuju pengalaman baru.
“Jangan takut mencoba. Saya sendiri berawal dari tidak bisa, tapi teman-teman tidak ada yang menghakimi. Mereka sangat suportif dan selalu membantu dalam berproses,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa yang mungkin memiliki kemampuan, tetapi masih dibayangi rasa minder.
Gladys mengingatkan bahwa keberanian tampil dapat menjadi cara untuk mengatasi rasa tidak percaya diri.
“Kalau pengin ngeband, pasti ada rasa minder. Tapi kesampingkan saja. Dengan berani ikut event-event seperti ini, otomatis kita bisa melawan rasa minder tersebut,” ujarnya.
Glarsa dan Pelajaran tentang Toleransi
Perjalanan Glarsa menunjukkan bahwa musik bagi mereka bukan hanya tentang nada, irama, dan penampilan.
Ada pelajaran tentang bagaimana sebuah kelompok dibangun dari perbedaan.
Adnan menilai kemampuan meredam ego menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kekompakan.
“Meredam ego itu penting. Jangan memaksakan teman-teman untuk selalu bermain di genre nyamanmu, tapi pahami dan pelajari juga genre mereka,” pesannya.
Dari sebuah tugas Osjur, Glarsa akhirnya menemukan sesuatu yang lebih besar yaitu sebuah ruang untuk bertumbuh bersama.
Mereka belajar bahwa tidak semua orang harus memiliki kemampuan yang sama untuk dapat menghasilkan karya. Yang dibutuhkan justru kemauan untuk saling memahami, menerima kritik, dan memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang.
Kisah Glarsa menjadi bukti bahwa sebuah pertemanan yang sehat dapat melahirkan karya. Bahwa rasa minder bisa dilawan dengan keberanian untuk mencoba. Dan bahwa perbedaan selera maupun kemampuan tidak harus menjadi sumber perpecahan.
Di tangan enam mahasiswa tersebut, musik akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menjadi bahasa bersama yang mengajarkan satu hal penting.
Harmoni tidak lahir karena semua orang memainkan nada yang sama, tetapi karena setiap orang bersedia mendengarkan dan memberi ruang bagi yang lain. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.