Tiga Pelajar Buktikan Seni dan Budaya Bisa Dibaca dari Banyak Perspektif di Lomba Jurnalistik FLS3N 2026
Dari proses kompetisi terlihat bahwa tantangan utama yang dihadapi peserta bukan hanya bagaimana menghasilkan tulisan yang baik, tetapi bagaimana menemukan cerita di balik sebuah objek budaya.
NUMLIT, SURAKARTA — Seni dan budaya tidak selalu berhenti pada panggung pertunjukan, karya visual, atau warisan tradisi.
Di tangan para pelajar SMA sederajat se-Jawa Tengah yang mengikuti Lomba Jurnalistik FLS3N 2026, seni dan budaya justru menjadi pintu masuk untuk menemukan cerita yang lebih luas tentang karakter, keteladanan, perjuangan, hingga inspirasi kehidupan.
Cara pandang itulah yang mengantarkan tiga pelajar meraih posisi terbaik dalam kompetisi jurnalistik pada ajang Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026.
Juara pertama diraih Jihan Aptha Kautsar dari SMA Negeri 1 Tahunan, Kabupaten Jepara. Posisi kedua ditempati Asyifa Almeira Ramadhani dari SMA Unggulan Rushd, Kabupaten Sragen, sedangkan juara ketiga diraih Adiba Apriliani Putri dari SMA Negeri 1 Cepiring, Kabupaten Kendal.
Ketiganya dinilai mampu menghadirkan karya jurnalistik yang tidak hanya kuat dari sisi penulisan, tetapi juga berhasil mengembangkan sudut pandang yang lebih luas terhadap tema yang diangkat.
Lomba Jurnalistik FLS3N 2026 mengusung tema besar “Menumbuhkan Karakter Bangsa Melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya”, dengan subtema “Seni Memperkuat Karakter”.
Kompetisi tersebut dirancang untuk menguji kemampuan peserta dalam melakukan peliputan, mengolah informasi, menyusun tulisan feature, sekaligus mempertanggungjawabkan hasil liputannya di hadapan dewan juri.
Rangkaian lomba dimulai dengan technical meeting pada Senin malam (20/7/2026). Pada Selasa (21/7/2026), peserta melakukan liputan sejak pukul 07.00 WIB hingga selesai, kemudian kembali ke hotel untuk mengolah hasil liputan menjadi karya jurnalistik.
Peserta diberikan waktu menulis dan mengumpulkan karya kepada dewan juri hingga pukul 15.00 WIB. Proses penjurian dilanjutkan pada sore hari, sebelum peserta mengikuti sesi presentasi dan evaluasi pada malam harinya.
Dalam sesi tersebut, peserta tidak hanya mempresentasikan karya, tetapi juga diuji secara lisan untuk memastikan sejauh mana mereka memahami proses liputan, data, serta narasi yang mereka bangun dalam tulisan.
Sejumlah lokasi yang menjadi tempat peserta melakukan peliputan antara lain kawasan Pasar Gede Solo, Pura Mangkunegaran, Kampung Batik Laweyan, Kampung Batik Kauman, Museum Radya Pustaka, Museum Keris Nusantara, Lokananta, Pasar Triwindu, dan Keraton Surakarta Hadiningrat.
Peserta kemudian ditantang mengolah hasil liputan dalam bentuk tulisan feature dengan panjang maksimal sekitar 6.000 karakter dan dilengkapi dua hingga tiga foto pendukung.
Tidak Sekadar Menulis tentang Seni
Salah satu anggota dewan juri dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo, Ika Yuniati, mengatakan kekuatan utama karya tiga pemenang terletak pada kemampuan mereka menggali nilai yang lebih dalam dari isu yang diangkat.

Menurutnya, para pemenang tidak sekadar berhenti pada persoalan seni dan budaya sebagai objek liputan. Mereka mampu melihat unsur lain yang memperkuat cerita sehingga tulisan menjadi lebih kaya dan memiliki relevansi yang lebih luas.
“Kekuatan dari tiga pemenang ini terlihat dari konten dan substansi. Value yang disampaikan sesuai dengan tema dan cukup mendalam,” kata Ika saat memberikan pandangan umum terhadap karya para pemenang.
Ia menilai para peserta juga mampu menghadirkan narasumber yang cukup komprehensif. Penggunaan lebih dari satu narasumber membuat tulisan memiliki perspektif yang lebih beragam sekaligus memperkuat kedalaman informasi.
Selain substansi, kekuatan lain terlihat dari cara peserta menyajikan cerita.
“Pemilihan angle beritanya menarik karena tidak hanya berhenti pada isu seni budaya. Mereka jeli melihat unsur-unsur lain yang menguatkan isu tersebut. Salah satunya penguatan karakter dan inspirasi dari isu utama yang dibuat,” tambah Ari Suryawati Secio Chaesar, juri lainnya.

Kemampuan tersebut, menurut Ika, menunjukkan bahwa peserta mulai memahami bahwa jurnalistik bukan sekadar aktivitas menulis fakta. Seorang jurnalis dituntut mampu menemukan sudut pandang yang membuat sebuah peristiwa memiliki makna dan relevansi bagi pembaca.
Karya para pemenang juga dinilai telah memenuhi unsur dasar jurnalistik melalui penerapan 5W+1H. Tulisan diperkuat dengan foto ilustrasi yang relevan dan sesuai dengan isi berita sehingga membantu pembaca memahami cerita yang disampaikan.
Membaca Budaya, Menemukan Karakter
Dari proses kompetisi tersebut terlihat bahwa tantangan utama yang dihadapi peserta bukan hanya bagaimana menghasilkan tulisan yang baik, tetapi bagaimana menemukan cerita di balik sebuah objek budaya.
Pasar tradisional, keraton, kampung batik, museum, hingga ruang kreatif seperti Lokananta tidak hanya dilihat sebagai lokasi peliputan. Tempat-tempat tersebut menjadi pintu masuk bagi peserta untuk menggali kisah manusia, nilai budaya, proses kreatif, dan karakter yang hidup di dalamnya.
Di sinilah jurnalistik bertemu dengan pendidikan karakter. Peserta belajar bahwa sebuah karya seni dan budaya selalu memiliki cerita yang lebih panjang. Di balik sebuah tradisi ada ketekunan. Di balik sebuah karya ada perjuangan. Di balik sebuah ruang budaya ada orang-orang yang menjaga warisan agar tetap hidup.
Kemampuan menemukan sisi-sisi tersebut kemudian diolah menjadi tulisan yang tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif.
Dewan juri lomba terdiri atas Ari Suryawati Secio Chaesar, S.Pd., M.Pd., dosen FKIP UNS Solo; Damar Sri Prakoso, S.S., M.M., Direktur media Numeralitera sekaligus dosen jurnalistik UIN Raden Mas Said Surakarta; serta Ika Yuniati dari AJI Solo. Mereka dibantu asisten juri, Adinda H.P dari SMA Budi Utomo Surakarta.
Keterlibatan juri dari latar belakang akademisi, praktisi media, dan organisasi profesi jurnalistik memberikan perspektif yang beragam dalam menilai karya peserta. Aspek substansi, kedalaman tulisan, pemilihan angle, kelengkapan narasumber, penerapan prinsip jurnalistik, hingga kekuatan visual menjadi bagian penting dalam proses penilaian.

Bagi para peserta, kompetisi ini pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang menjadi juara.
Lebih dari itu, FLS3N 2026 menjadi ruang belajar untuk memahami bahwa seni dan budaya dapat diceritakan dengan banyak cara.
Dengan pendekatan jurnalistik, sebuah karya budaya dapat menjadi cerita tentang manusia. Sebuah tradisi dapat menjadi cerita tentang karakter. Dan, sebuah ruang seni dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya.
Kemenangan Jihan Aptha Kautsar, Asyifa Almeira Ramadhani, dan Adiba Apriliani Putri menjadi penanda bahwa generasi muda memiliki kemampuan untuk melihat seni dan budaya tidak hanya dari permukaan.
Mereka belajar mengamati, bertanya, menggali, memverifikasi, lalu menyusun fakta menjadi cerita yang bermakna.
Pada akhirnya, dari tangan para pelajar inilah seni dan budaya menemukan cara baru untuk terus diceritakan. Bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi untuk membentuk karakter dan menatap masa depan. (Redaksi)



No Comment! Be the first one.