Dari Kudus ke Asia Tenggara, UIN Sunan Kudus Menembus Panggung Global
UIN Sunan Kudus menandatangani enam dokumen kerja sama dengan perguruan tinggi di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand.
NUMLIT, KUDUS — Internasionalisasi perguruan tinggi sering kali identik dengan mahasiswa yang belajar ke luar negeri atau dosen yang menjadi pembicara di forum internasional.
Table Of Content
Namun, sebelum semua itu terjadi, ada satu langkah penting yang jarang terlihat publik yaitu membangun jejaring dengan kampus-kampus dunia.
Langkah itulah yang sedang dilakukan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Di sela-sela rangkaian The Asian Islamic Universities Association (AIUA) International Seminar and 15th Annual General Meeting 2026 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 23–25 Juni 2026, UIN Sunan Kudus menandatangani enam dokumen kerja sama dengan perguruan tinggi di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand.
Bagi UIN Sunan Kudus, penandatanganan tersebut bukan sekadar seremoni diplomasi akademik. Kerja sama ini menjadi pintu masuk agar mahasiswa, dosen, dan peneliti memiliki lebih banyak kesempatan belajar, meneliti, hingga berkolaborasi di tingkat internasional.
Delegasi UIN Sunan Kudus dipimpin langsung oleh Rektor Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si., didampingi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Prof. Dr. H. Kisbiyanto, S.Ag., M.Pd., Kepala Pusat Hubungan dan Kerja Sama Internasional Dr. Fauzan Adim, M.A., serta Muhammad Arif Al Hakim, M.TESOL.
“Kampus tidak bisa berkembang sendirian. Di era sekarang, kualitas perguruan tinggi juga ditentukan oleh kemampuan membangun kolaborasi lintas negara,” ujar Prof. Abdurrohman Kasdi.
Dari Brunei hingga Thailand
Enam institusi yang menjadi mitra baru UIN Sunan Kudus berasal dari tiga negara di kawasan Asia Tenggara, yakni Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam,Universiti Sultan Azlan Shah (USAS) Malaysia, Kolej Universiti Islam Antarabangsa Sultan Ismail Petra (KIAS) Malaysia, Institut Kemahiran Islam Darul Ridzuan (IKDAR) Malaysia, International Islamic College Bangkok (IICB) of Krirk University Thailand, dan Yala Rajabhat University (YRU) Thailand.

Lima kerja sama diwujudkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU), sedangkan dengan Yala Rajabhat University diawali melalui Letter of Intent (LoI) sebagai langkah awal menuju kolaborasi yang lebih luas.
Bukan Sekadar Tanda Tangan
Kerja sama tersebut membuka peluang berbagai program akademik lintas negara, mulai dari pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, penelitian bersama, publikasi ilmiah internasional, seminar, konferensi, pelatihan, hingga pengembangan program pendidikan kolaboratif.
Bagi mahasiswa, peluang ini berarti kesempatan memperoleh pengalaman belajar di luar negeri. Bagi dosen, terbuka ruang memperluas jejaring riset dan meningkatkan kualitas publikasi ilmiah.
Menurut Prof. Abdurrohman Kasdi, internasionalisasi bukan sekadar mengejar pengakuan global, tetapi menghadirkan pengalaman akademik yang lebih kaya bagi seluruh sivitas kampus.
“Melalui kolaborasi ini kami ingin memperkuat kualitas tridarma perguruan tinggi sekaligus meningkatkan mobilitas dosen maupun mahasiswa agar mampu berkompetisi di tingkat internasional,” katanya.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Prof. Dr. H. Kisbiyanto, menjelaskan bahwa nota kesepahaman tersebut akan segera ditindaklanjuti menjadi berbagai program konkret.
Beberapa agenda yang telah disiapkan antara lain visiting professor, student exchange, credit transfer, short course, konferensi internasional bersama, hingga kolaborasi penelitian lintas negara.
Sementara itu, Pusat Hubungan dan Kerja Sama Internasional UIN Sunan Kudus akan menyusun Implementation Arrangement agar setiap kesepakatan tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa dan dosen.
Menyiapkan Kampus yang Lebih Mendunia
Dalam beberapa tahun terakhir, internasionalisasi menjadi salah satu indikator penting dalam peningkatan kualitas perguruan tinggi, termasuk dalam berbagai pemeringkatan dunia.
Namun, bagi UIN Sunan Kudus, kerja sama ini memiliki makna yang lebih luas.
Kemitraan lintas negara dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun budaya akademik yang semakin terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap perkembangan global.
Dari sebuah forum internasional di Jakarta, UIN Sunan Kudus memulai langkah yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya hari ini.
Tetapi melalui jejaring yang terus diperluas, kampus ini sedang menyiapkan jalan agar semakin banyak mahasiswa dan dosennya dapat belajar, berkarya, dan berkontribusi bersama komunitas akademik dunia.



No Comment! Be the first one.