Kampus Buddha di Wonogiri Sulap 5 Kg Plastik Jadi 5 Liter BBM
Konsep yang dikembangkan STABN Raden Wijaya adalah Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi, yakni ruang belajar yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.
NUMLIT, WONOGIRI – Selama bertahun-tahun, plastik dikenal sebagai salah satu penyumbang persoalan lingkungan terbesar. Sulit terurai, menumpuk di tempat pembuangan akhir, hingga mencemari sungai dan lautan.
Table Of Content
Namun di sebuah laboratorium sederhana di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, sampah plastik justru dipandang sebagai sumber energi yang belum dimanfaatkan.
Di Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi milik Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri, lima kilogram sampah plastik kini dapat diubah menjadi sekitar lima liter bahan bakar minyak (BBM).
Teknologi tersebut diperkenalkan bersamaan dengan peresmian Laboratorium Dharma Ekologi oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, Selasa (30/6/2026).
Yang menarik, gagasan itu tidak lahir dari laboratorium canggih atau proyek industri besar. Semua bermula dari tumpukan sampah di lingkungan asrama mahasiswa.
Berawal dari Keresahan
Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri, Sulaiman, mengaku prihatin melihat limbah plastik yang terus menumpuk di kawasan kampus. Baginya, persoalan sampah tidak cukup hanya diselesaikan dengan membuang atau membakarnya.
“Banyak sampah menumpuk di asrama. Dari keresahan itu kami berpikir bahwa sampah tidak boleh hanya menjadi masalah, tetapi harus menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Dari kegelisahan tersebut, STABN Raden Wijaya menggandeng Yayasan Get Plastic untuk menghadirkan pelatihan teknologi pirolisis selama tujuh hari. Teknologi ini mengubah limbah plastik menjadi energi tanpa proses pembakaran terbuka sehingga lebih ramah lingkungan.
Kolaborasi itu kemudian melahirkan Laboratorium Dharma Ekologi, yang diharapkan menjadi pusat pembelajaran pengelolaan sampah berbasis teknologi sekaligus laboratorium hidup bagi mahasiswa dan masyarakat.
Plastik Bernilai Rendah Disulap Menjadi BBM
Bagi banyak orang, plastik bekas gelas air mineral, bungkus makanan, atau botol deterjen hanya berakhir sebagai limbah. Di tangan para peserta pelatihan, sampah tersebut justru menjadi bahan baku energi alternatif.
Pelatih dari Yayasan Get Plastic, Ine, menjelaskan mesin pirolisis yang dimiliki STABN Raden Wijaya mampu mengolah sekitar lima kilogram plastik dalam satu siklus selama kurang lebih tiga jam.
“Hasilnya sekitar lima liter bahan bakar minyak,” jelasnya.
Tidak semua plastik bisa diproses. Jenis yang direkomendasikan antara lain HDPE, LDPE, PP, dan PS, dengan plastik berbahan polypropylene (PP) seperti gelas air mineral dan botol infus dinilai menghasilkan kualitas bahan bakar terbaik.
Sebaliknya, plastik jenis PET dan PVC tidak dianjurkan karena kandungan klorinnya dapat mengganggu proses pirolisis sekaligus merusak mesin.
Bukan Sekadar Solar
Yang dihasilkan dari mesin pirolisis ternyata bukan hanya satu jenis bahan bakar.
Berdasarkan pengujian yang dilakukan Yayasan Get Plastic, hasil olahan plastik dapat berupa solar, minyak sejenis minyak tanah, pertamax, hingga gas cair.
Bahkan, bahan bakar setara bensin yang dihasilkan memiliki angka oktan (RON) sekitar 92,3, sedikit di atas spesifikasi Pertamax dengan RON 92.
Solar hasil pirolisis juga telah melalui uji laboratorium dan dinyatakan dapat digunakan untuk mesin diesel seperti traktor pertanian, genset, maupun peralatan mekanis lainnya.
Menariknya lagi, hampir tidak ada limbah yang benar-benar terbuang. Sisa proses berupa black carbon masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku paving block, media tanam, briket, hingga produk kerajinan seperti patung, piala, dan vandel.
Laboratorium yang Mengajarkan Kepedulian
Bagi STABN Raden Wijaya, laboratorium ini bukan sekadar tempat menguji teknologi.
Konsep yang dikembangkan adalah Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi, yakni ruang belajar yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Menurut Sulaiman, program tersebut juga akan dikembangkan sebagai Program Kredensial Mikro bagi mahasiswa sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat agar mampu mengelola sampah sejak dari rumah tangga.
“Program ini diarahkan menjadi pusat pembelajaran, pemberdayaan masyarakat, sekaligus membuka peluang ekonomi sirkular yang hasilnya dapat mendukung berbagai kegiatan sosial,” katanya.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung menciptakan solusi atas persoalan lingkungan yang nyata.
Dari Kampus untuk Wonogiri
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyambut positif inovasi tersebut. Menurutnya, pengelolaan sampah berbasis teknologi menjadi langkah konkret dalam menjawab tantangan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Ia mengapresiasi sinergi antara dunia pendidikan dan komunitas yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan limbah domestik.
“Kami berharap model pengelolaan sampah berkelanjutan seperti ini dapat direplikasi di berbagai sektor sehingga kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya semakin meningkat,” ujarnya.
Lebih jauh, laboratorium ini diharapkan tidak hanya mengurangi volume sampah plastik, tetapi juga melahirkan masyarakat yang lebih mandiri dalam pengelolaan energi dan ekonomi sirkular.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik di berbagai daerah, langkah kecil yang dimulai dari sebuah kampus di Wonogiri menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi mahal.
Kadang, ia bermula dari keberanian melihat tumpukan sampah bukan sebagai akhir, melainkan awal dari sebuah peluang. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.