Dari Ruang Kuliah Lahir Gerakan Literasi
Setiap buku yang berhasil diterbitkan bukan hanya menambah koleksi perpustakaan, melainkan juga membuka jalan bagi lahirnya pengetahuan baru yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
NUMLIT, KLATEN — Bagi sebagian orang, menerbitkan buku mungkin sekadar urusan bisnis. Namun bagi Andriyanto, S.S., M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, menerbitkan buku adalah bentuk pengabdian.
Table Of Content
Berangkat dari pengalaman panjang sebagai dosen, penulis, sekaligus editor, ia mendirikan Penerbit Lakeisha pada 29 Juli 2019 dengan sebuah moto sederhana, tetapi sarat makna: “Mengabdi untuk Literasi Negeri.”
Bagi Andriyanto, setiap buku yang berhasil diterbitkan bukan hanya menambah koleksi perpustakaan, melainkan juga membuka jalan bagi lahirnya pengetahuan baru yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Berawal dari Kesulitan Menerbitkan Buku
Ide mendirikan penerbit lahir bukan dari ruang rapat bisnis, melainkan dari keresahan yang ia rasakan selama menjadi akademisi.
Saat aktif mengajar, Andriyanto melihat banyak dosen, guru, mahasiswa, hingga penulis pemula yang memiliki naskah berkualitas, tetapi kesulitan menemukan penerbit yang ramah, terjangkau, dan bersedia mendampingi proses penerbitan.
“Sebagai dosen saya merasakan sendiri bagaimana sulitnya mencari penerbit dan tingginya biaya penerbitan buku. Dari situ muncul keinginan untuk menghadirkan penerbit yang lebih mudah dijangkau oleh siapa pun yang ingin berkarya,” ujarnya.
Pengalaman mengajar di berbagai daerah turut membentuk cara pandangnya. Sebelum mengabdi di Univet Bantara Sukoharjo, ia pernah mengajar di Pulau Rote, Kupang (Nusa Tenggara Timur), hingga Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.
Mobilitas tersebut memperlihatkan kepadanya bahwa semangat menulis tidak hanya dimiliki akademisi di kota besar. Banyak guru, dosen, maupun komunitas literasi di berbagai daerah memiliki gagasan yang layak dipublikasikan, tetapi terbatas aksesnya.
Dibangun Bersama Keluarga
Lakeisha lahir dari kerja sama sederhana di lingkungan keluarga.
Andriyanto menggandeng sang istri yang berperan sebagai editor, sementara proses pendirian perusahaan dibantu oleh seorang sahabat semasa SMA yang berprofesi sebagai notaris. Baginya, semua itu bukan sekadar kebetulan.
“Saya merasa semua ini adalah jalan yang diberikan Tuhan. Bukan semata mengejar keuntungan, tetapi bagaimana penerbit ini bisa menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin menghadirkan karya terbaiknya,” katanya, saat ditemui di kantor Penerbit Lakeisha di Srikaton RT 003/RW 001, Pucangmiliran, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, belum lama ini.
Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui pelayanan penerbitan yang sederhana, terbuka, dan memberikan pendampingan kepada penulis dari awal hingga buku siap terbit.
Menjangkau Penulis dari Seluruh Nusantara
Meski baru berdiri pada 2019, perkembangan Lakeisha terbilang cepat. Tidak lama setelah berdiri, Lakeisha resmi menjadi anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan mulai dipercaya oleh penulis dari berbagai daerah.
Dalam waktu kurang dari satu tahun, Lakeisha telah menerbitkan ratusan judul buku ber-ISBN yang berasal dari beragam latar belakang penulis.

Tidak hanya dari Pulau Jawa, naskah datang dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Maluku.
Para penulisnya pun beragam, mulai dari guru, mahasiswa, dosen, komunitas literasi, hingga akademisi bergelar doktor dan profesor. Bahkan beberapa di antaranya merupakan lulusan perguruan tinggi di Inggris, Jerman, Australia, dan Malaysia.
Keberagaman itu menjadi bukti bahwa literasi tidak mengenal batas wilayah maupun profesi.
Bukan Sekadar Menerbitkan Buku
Di tengah perkembangan teknologi digital, Andriyanto memandang buku tetap memiliki posisi penting sebagai medium yang merekam gagasan secara utuh.
Karena itu, Lakeisha tidak sekadar membantu proses cetak buku, tetapi juga mendorong lahirnya budaya menulis di lingkungan pendidikan.
Visi yang diusung Lakeisha adalah menjadi penerbit yang mengabdi untuk literasi negeri melalui penyebarluasan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.
Visi tersebut diwujudkan melalui sejumlah misi, mulai dari menghasilkan buku berkualitas ber-ISBN, mempermudah layanan penerbitan bagi berbagai kalangan, hingga membangun kolaborasi dengan lembaga pendidikan, komunitas, dan para penulis di seluruh Indonesia.
Literasi Adalah Investasi Peradaban
Bagi Andriyanto, membantu seseorang menerbitkan buku sesungguhnya berarti ikut membangun peradaban.
Ia meyakini setiap penulis memiliki pengalaman, pengetahuan, dan gagasan yang layak diwariskan kepada masyarakat luas.
“Ketika kita membantu seseorang menerbitkan buku, sebenarnya kita sedang membantu menyebarkan ilmu pengetahuan. Saya percaya buku adalah salah satu fondasi penting untuk membangun masa depan bangsa. Karena itu, Lakeisha akan terus berkomitmen mengabdi untuk literasi negeri,” tuturnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, perjalanan Andriyanto menunjukkan bahwa membangun budaya literasi tidak selalu dimulai dari institusi besar.
Kadang, perubahan justru lahir dari seorang dosen yang memilih menjadikan keresahannya sebagai gerakan, lalu mengubahnya menjadi rumah bagi ribuan gagasan yang kini telah menyebar ke berbagai penjuru Indonesia. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.