Dosen Politeknik Assalaam Sulap Eceng Gondok Waduk Cengklik Jadi Inovasi Kuliner Wisata
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen dari Prodi Pengelolaan Perhotelan dan Manajemen Informatika Politeknik Assalaam Surakarta memperkenalkan Nasi Cengklik yang membawa pesan kuat...
NUMLIT, BOYOLALI — Selama ini eceng gondok di Waduk Cengklik, Boyolali, Jawa Tengah, kerap dianggap sebagai gulma yang mengganggu keindahan dan aktivitas perairan.
Table Of Content
Namun, di tangan para akademisi Politeknik Assalaam Surakarta, tanaman yang selama ini dipandang sebagai masalah justru disulap menjadi inspirasi lahirnya sebuah inovasi kuliner yang berpotensi menjadi identitas baru destinasi wisata.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim dosen dari Program Studi Pengelolaan Perhotelan dan Manajemen Informatika memperkenalkan Nasi Cengklik, sebuah sajian yang tidak hanya menawarkan cita rasa khas, tetapi juga membawa pesan kuat tentang keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan potensi lokal.
Ketua tim PkM, Sri Purnaningsih, M.M., M.Pd., mengatakan bahwa pengembangan destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan panorama alam.

Sebuah kawasan wisata juga membutuhkan identitas yang mampu melekat dalam ingatan pengunjung, salah satunya melalui kuliner khas.
“Kami ingin membantu masyarakat menemukan nilai ekonomi dari potensi yang selama ini ada di sekitar mereka. Kuliner bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat daya tarik wisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM,” ujarnya dalam kegiatan yang digelar di kawasan Waduk Cengklik, Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Kamis (9/7/2026).
Kuliner yang Bercerita tentang Waduk Cengklik
Berbeda dari pecel gendar pada umumnya, Nasi Cengklik hadir dengan sentuhan yang lebih sehat sekaligus ramah lingkungan.
Gendar diganti dengan lontong beras merah organik, kemudian dipadukan dengan rebusan batang eceng gondok muda, ikan wader pari hasil tangkapan nelayan lokal, dan saus kacang premium.
Setiap bahan dipilih bukan sekadar untuk menciptakan rasa yang unik, tetapi juga untuk mengangkat kekayaan hayati Waduk Cengklik sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Konsep tersebut juga sejalan dengan penerapan Green Supply Chain, yakni pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta pelestarian ekosistem daratan.
Wisata Tak Lagi Hanya Soal Pemandangan
Tak berhenti pada inovasi menu, tim dosen yang juga beranggotakan Riszki Wijayatun Pratiwi, S.Kom., M.Cs., bersama mahasiswa dari kedua program studi, turut membekali pelaku wisata dengan keterampilan pemasaran digital.
Pendampingan dilakukan kepada Komunitas Peduli Waduk Cengklik (PWC), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta pelaku UMKM melalui pelatihan pengelolaan media sosial dan pengenalan Sistem Informasi Kuliner.
Melalui langkah ini, berbagai informasi mengenai kuliner khas, pelaku usaha, hingga potensi wisata diharapkan dapat diakses lebih luas oleh wisatawan melalui platform digital.
Bagi masyarakat, digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjadi strategi agar produk lokal mampu bersaing di tengah semakin ketatnya persaingan destinasi wisata.
Kolaborasi untuk Membangun Destinasi
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Ngargorejo, tokoh masyarakat, Komunitas Peduli Waduk Cengklik, Pokdarwis, serta para pelaku UMKM di kawasan Plaza Waduk Cengklik.

Selama sesi pendampingan berlangsung, peserta aktif berdiskusi mengenai berbagai peluang pengembangan wisata, mulai dari pemasaran digital hingga diversifikasi produk berbasis potensi lokal.
Hasilnya tidak hanya berupa peningkatan pemahaman mengenai strategi pemasaran digital, tetapi juga terbangunnya fondasi awal sistem informasi kuliner yang diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata Waduk Cengklik di masa depan.
Mimpi Menjadikan Nasi Cengklik Ikon Wisata Boyolali
Program pengabdian ini menjadi awal dari langkah yang lebih besar. Masyarakat berharap pendampingan tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan terus berlanjut melalui pelatihan lanjutan, termasuk pengembangan aneka olahan berbahan dasar eceng gondok.
Harapannya, Nasi Cengklik tidak hanya dikenal sebagai menu baru, tetapi berkembang menjadi signature dish yang mampu memperkuat citra Waduk Cengklik sebagai destinasi wisata berbasis alam, budaya, dan inovasi.
Sebab, terkadang sebuah destinasi tidak dikenang hanya karena pemandangannya, melainkan karena cerita, cita rasa, dan pengalaman yang berhasil dibawanya pulang bersama setiap pengunjung. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.