FISIP UNNES Ajak Mahasiswa Melihat Difabel sebagai Mitra Perubahan
Yang dibutuhkan penyandang disabilitas bukan belas kasihan maupun tuntutan berlebihan, melainkan kesempatan yang setara.
NUMLIT, SEMARANG — Masyarakat kerap memandang penyandang disabilitas dengan dua cara yang sama-sama keliru.
Table Of Content
Ada yang menaruh ekspektasi terlalu tinggi hingga mereka harus menjadi sosok luar biasa. Ada pula yang justru menganggap mereka tidak mampu berkontribusi dan hanya layak dikasihani.
Padahal, yang dibutuhkan penyandang disabilitas bukan belas kasihan maupun tuntutan berlebihan, melainkan kesempatan yang setara.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Kuliah Tamu Mata Kuliah Pendidikan Inklusi dan Gender Equality yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Jawa Tengah.
Melalui forum tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar teori di ruang kelas, tetapi cara pandang yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Yayasan Sahabat Mata Semarang, Basuki, yang hadir sebagai narasumber, berbagi pengalaman sebagai penyandang disabilitas netra sekaligus pegiat inklusi sosial.
Menurutnya, hambatan terbesar yang dihadapi penyandang tunanetra sering kali bukan keterbatasan fisik, melainkan cara masyarakat memperlakukan mereka.
“Sering kali penyandang tunanetra diposisikan pada dua kutub. Di satu sisi dituntut menjadi sosok yang luar biasa, di sisi lain dianggap tidak mampu. Padahal yang paling dibutuhkan adalah kesempatan yang sama untuk berkembang,” ungkap Basuki di hadapan mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi ruang yang terbuka bagi siapa saja tanpa membedakan kondisi fisik, gender, maupun latar belakang sosial.
Ketika Huruf Braille Menjadi Jalan Pemberdayaan
Kuliah tamu tersebut juga menghadirkan kisah inspiratif dari Andriyanto, S.Pd., M.Pd., mahasiswa Program Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (S3 P.IPS) UNNES yang dikenal di lingkungan kampus dengan julukan “Pak Braille.”
Julukan itu bukan tanpa alasan. Di tengah kesibukannya menempuh studi doktoral, Andriyanto memilih meneliti literasi Braille sekaligus mengembangkan usaha percetakan buku Braille yang kini melayani berbagai lembaga pendidikan.
Baginya, kewirausahaan tidak sekadar mencari keuntungan, tetapi menghadirkan solusi bagi kelompok yang selama ini kesulitan memperoleh bahan bacaan yang aksesibel.
Usaha tersebut berkembang pesat. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, nilai penjualannya mencapai ratusan juta rupiah.

Pendapatan itu bukan hanya digunakan untuk membiayai pendidikan doktoralnya secara mandiri, tetapi juga memperluas akses buku bagi penyandang disabilitas netra di berbagai daerah.
Respons positif pun terus berdatangan. Hanya dua hari setelah mengikuti kuliah tamu, Andriyanto mengaku menerima belasan naskah baru untuk dicetak dalam format Braille, termasuk tawaran kerja sama dari sejumlah perguruan tinggi negeri yang ingin menyediakan lebih banyak bahan ajar bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Pendidikan yang Mengubah Cara Pandang
Dosen pengampu mata kuliah, Dr.sos. Puji Lestari, M.Si., menilai pengalaman langsung dari para pegiat inklusi jauh lebih bermakna dibanding sekadar mempelajari konsep di buku.
Melalui dialog tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa membangun masyarakat inklusif dimulai dari keberanian mengubah perspektif terhadap kelompok rentan.
Tidak hanya mengenal konsep aksesibilitas, mahasiswa juga belajar mengenai pemberdayaan ekonomi, kesetaraan hak, serta pentingnya membuka ruang partisipasi bagi penyandang disabilitas dalam berbagai bidang kehidupan.
Sebagai simbol komitmen terhadap akses pendidikan yang setara, di pengujung acara Puji Lestari menyerahkan buku Braille berjudul “Perempuan, Politik, dan Kepemimpinan: Motivasi Perempuan Muda untuk Berpartisipasi Politik” kepada Basuki.
Penyerahan buku tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan seharusnya dapat diakses oleh siapa pun, tanpa terkecuali.
Inklusi Dimulai dari Cara Memperlakukan Sesama
Bagi FISIP UNNES, membangun pendidikan inklusif bukan hanya menyediakan ruang belajar yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Yang lebih penting adalah menumbuhkan generasi muda yang memiliki empati, menghargai keberagaman, dan memahami bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk belajar, berkarya, serta berkontribusi bagi masyarakat.
Lewat pertemuan sederhana antara mahasiswa, pegiat difabel, dan seorang pengusaha buku Braille, UNNES menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari perubahan cara pandang.
Karena masyarakat yang benar-benar inklusif bukanlah masyarakat yang sekadar menerima perbedaan, melainkan masyarakat yang memberi kesempatan agar setiap orang dapat tumbuh sesuai potensinya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.