Beasiswa Adalah Kepercayaan, 10 Mahasiswa Politeknik ATMI Surakarta Dapat Dukungan Pendidikan dari Kitano Foundation
Program beasiswa dari Kitano Foundation di Politeknik ATMI Surakarta membuka kesempatan baru bagi mahasiswa yang memiliki prestasi yang membutuhkan dukungan dalam pembiayaan pendidikan.
NUMLIT, SURAKARTA — Bagi sebagian mahasiswa, beasiswa bukan sekadar bantuan untuk membayar biaya pendidikan.
Table Of Content
Beasiswa bisa berarti berkurangnya kecemasan, lebih banyak waktu untuk belajar, sekaligus kesempatan untuk tetap mengejar cita-cita tanpa terus dibayangi kekhawatiran mengenai biaya pendidikan.
Hal itulah yang dirasakan Aloysius Naralintang, salah satu dari 10 mahasiswa Politeknik ATMI Surakarta yang menerima beasiswa dari Kitano Foundation melalui program Kitano Foundation of Lifelong Integrated Education PT Indonesia Stanley Electric.
Penyerahan beasiswa perdana tersebut berlangsung di Kampus Politeknik ATMI Surakarta, Kamis (27/8/2026).
Bagi Aloysius, bantuan tersebut datang pada saat yang berarti. Ia mengaku sempat menghadapi kendala keuangan dan sebagai anak ingin ikut membantu meringankan beban orang tua. Karena itu, ia aktif mencari informasi mengenai beasiswa hingga akhirnya mendapat kesempatan menjadi salah satu penerima program Kitano Foundation.
“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Bagi kami, beasiswa sangat berarti. Membantu pendidikan dan ada kepercayaan yang diberikan kepada kami,” ujar Aloysius.

Ia mengatakan beasiswa tersebut membuat kekhawatiran mengenai biaya pendidikan sedikit berkurang. Kondisi itu membuatnya bisa lebih fokus menjalani pendidikan vokasi di Politeknik ATMI Surakarta.
“Saya pribadi mengalami kendala keuangan. Sebagai anak, saya ingin membantu orang tua. Saya mencari informasi beasiswa. Ketika mendapat beasiswa ini, saya merasa sangat beruntung. Kekhawatiran soal biaya bisa sedikit berkurang. Saya bisa lebih fokus lagi dalam menimba ilmu di ATMI,” katanya.
Namun, bagi Aloysius, beasiswa tersebut bukan hanya bantuan finansial. Ia memandangnya sebagai bentuk kepercayaan yang harus dibalas dengan tanggung jawab.
“Beasiswa ini adalah sebuah kepercayaan yang harus saya jalani penuh tanggung jawab. Mari kita terus belajar, berkembang dan memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Tidak Semua Mahasiswa Berasal dari Keluarga dengan Kondisi Ekonomi Sama
Direktur Politeknik ATMI Surakarta Romo Dr. Ir. Andreas Sugijopranoto, SS, M.Sc., IPM., mengatakan keberadaan program beasiswa tersebut penting karena mahasiswa ATMI Surakarta memiliki latar belakang kondisi ekonomi yang beragam.
Tidak semua mahasiswa berasal dari keluarga yang memiliki kondisi ekonomi yang sama. Karena itu, dukungan biaya pendidikan dapat membantu mahasiswa menjalani perkuliahan dengan lebih tenang.
“Kan mahasiswa Politeknik ATMI Surakarta itu ada yang memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Dengan adanya bantuan begini tentu sangat membantu mereka. Mereka bisa sekolah dengan lebih tenteram, tidak terlalu memikirkan biaya. Orang tuanya juga tentu tidak terlalu khawatir,” kata Andreas seusai penyerahan beasiswa.
Menurut Andreas, penerima beasiswa diseleksi berdasarkan dua pertimbangan utama, yakni prestasi akademik dan kondisi ekonomi keluarga.
“Syaratnya cuma mahasiswanya pandai dan berasal dari keluarga yang membutuhkan dukungan dalam pembiayaan pendidikan,” ujarnya.
Informasi mengenai program tersebut disampaikan kepada mahasiswa agar kesempatan mengikuti seleksi terbuka secara luas. Dari proses tersebut, 10 mahasiswa kemudian ditetapkan sebagai penerima beasiswa.
Andreas menjelaskan bantuan diberikan setiap tahun, sedangkan besaran beasiswa mengikuti ketentuan dari pihak pemberi beasiswa.

Menariknya, program tersebut juga tidak disertai ikatan dinas. Artinya, penerima beasiswa tidak memiliki kewajiban untuk bekerja di perusahaan pemberi beasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
“Tidak ada ikatan dinas. Setelah lulus tidak harus kerja di pemberi beasiswa. Ini hanya memberi bantuan beasiswa saja,” jelas Andreas.
Skema tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan dukungan selama pendidikan tanpa harus terikat pada pilihan karier tertentu setelah lulus.
Pertama Kali untuk Mahasiswa ATMI Surakarta
Perwakilan Kitano Foundation sekaligus jajaran direksi PT Indonesia Stanley Electric, Shimabara, mengatakan pihaknya senang dapat hadir langsung dalam penyerahan beasiswa tersebut.
Program beasiswa Kitano Foundation kali ini menjadi yang pertama diberikan kepada mahasiswa Politeknik ATMI Surakarta.
“Kami sangat merasa senang bisa menghadiri acara penyerahan beasiswa ini secara langsung kepada mahasiswa penerima. Program beasiswa ini merupakan yang pertama kali di Politeknik ATMI Surakarta,” kata Shimabara.
Ia berharap bantuan tersebut tidak berhenti sebagai dukungan biaya pendidikan, tetapi juga menjadi pemicu bagi mahasiswa untuk semakin serius mengembangkan kemampuan.
Mahasiswa penerima diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan prestasi dan mengoptimalkan proses belajar selama menempuh pendidikan vokasi.
Harapan itu menjadi relevan dengan karakter pendidikan Politeknik ATMI Surakarta yang menekankan pengembangan kemampuan mahasiswa melalui pendidikan vokasi.
Mendorong Semangat Belajar Sepanjang Hayat
Program beasiswa tersebut merupakan bagian dari misi Kitano Foundation of Lifelong Integrated Education, sebuah yayasan yang didirikan Takaharu Kitano pada 23 Juni 1975.
Yayasan tersebut membawa misi menyediakan kesempatan pendidikan bagi masyarakat dengan prinsip belajar sepanjang hayat, termasuk melalui bantuan biaya pendidikan kepada peserta didik.

Sementara itu, PT Indonesia Stanley Electric merupakan bagian dari jaringan Stanley Electric yang bergerak antara lain di bidang manufaktur dan penjualan peralatan otomotif serta produk elektronik terapan. Perusahaan tersebut memiliki basis manufaktur di Kabupaten Tangerang, Banten.
Program beasiswa Kitano Foundation juga telah dijalankan bersama sejumlah perguruan tinggi vokasi di Indonesia.
Kehadiran program tersebut di Politeknik ATMI Surakarta kini membuka kesempatan baru bagi mahasiswa yang memiliki prestasi yang membutuhkan dukungan dalam pembiayaan pendidikan.
Bagi 10 penerima beasiswa, bantuan itu mungkin hanya berlangsung dalam satu periode pendidikan dan diberikan sesuai ketentuan program. Namun, dampaknya dapat jauh lebih panjang.
Setidaknya, bagi Aloysius, beasiswa tersebut telah memberikan satu hal yang sangat berarti yaitu kesempatan untuk mengurangi kekhawatiran mengenai biaya dan mengalihkan energi untuk belajar.
Di situlah beasiswa menemukan maknanya. Bukan hanya membantu mahasiswa tetap berada di bangku kuliah, tetapi juga memberi mereka ruang untuk berkembang, membuktikan kemampuan, dan menyiapkan masa depan tanpa sepenuhnya dibatasi kondisi ekonomi keluarga. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.