Mahasiswa DKV ISI Surakarta Juara II Komik Strip Peksimida Jateng 2026
Penilaian lomba dilakukan secara ketat berdasarkan standar Peksiminas, meliputi kesesuaian tema, kemampuan komunikasi visual, teknik visualisasi, hingga orisinalitas karya.
NUMLIT, SURAKARTA – Kegagalan sering kali menjadi akhir bagi sebagian orang. Namun bagi Nurul Haqi Septyaningrum, justru menjadi awal perjalanan menuju prestasi.
Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta itu membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan mampu mengubah kegagalan menjadi kebanggaan setelah meraih Juara II Lomba Komik Strip Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui karya berjudul “Mencari dan Menemukan Sesuatu yang Tidak Biasa dalam Batik”, yang berhasil memikat dewan juri di tengah persaingan ketat 24 delegasi mahasiswa dari perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Jawa Tengah.
Ajang cabang Komik Strip Peksimida Jawa Tengah berlangsung pada 4–5 Juli 2026 di Kampus VI Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), dengan tema “Ceritaku, Makna Untukmu”. Kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan melalui kekuatan visual dan cerita.

Penilaian dilakukan secara ketat berdasarkan standar Peksiminas, meliputi kesesuaian tema, kemampuan komunikasi visual, teknik visualisasi, hingga orisinalitas karya.
Dewan juri pun bukan nama sembarangan, yakni komikus nasional Beng Rahadian, praktisi komik internasional Zulkarnaen Hasan Basri, serta ilustrator dan kreator komik Wawan Priyanto.
Namun, bagi Nurul, penghargaan ini bukan sekadar soal piala. Di balik komik yang ia ciptakan, tersimpan perjalanan panjang yang penuh penolakan dan pembelajaran.
Saat kali pertama menjadi mahasiswa baru, ia pernah mengikuti seleksi internal Peksimida di kampus. Hasilnya, ia gagal lolos.
Alih-alih menyerah, Nurul justru terus mengasah kemampuannya dengan mengikuti berbagai kompetisi. Berkali-kali ia harus menerima kenyataan pahit ketika karya yang dibuat tidak berhasil menembus penilaian juri.
“Sebelum Peksimida kembali diadakan, saya banyak mengikuti lomba. Banyak karya yang tidak lolos, riset yang kurang mendalam, dan berbagai tantangan lainnya. Tetapi dukungan dari teman, orang tua, dan banyak pihak membuat saya perlahan bangkit lagi,” ungkapnya.
Pengalaman itulah yang kemudian menjadi fondasi cerita dalam komik yang mengantarkannya meraih juara.
Komik karya Nurul mengisahkan seorang perempuan yang ingin memenangkan lomba batik dengan cara instan, yakni meminta bantuan seorang “orang sakti”. Namun harapannya justru berbalik arah.
Sang tokoh menolak membantu berbuat curang dan memilih memberikan nasihat tentang makna kejujuran, proses, dan menemukan kekuatan dalam diri sendiri.
Cerita sederhana itu menjadi refleksi bahwa keberhasilan tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari proses panjang yang penuh perjuangan.
Untuk mewujudkan ide tersebut, Nurul menggunakan teknik komik digital semi full color melalui aplikasi Medibang Paint dengan format webtoon berukuran 800 x 20.000 piksel.
Selama proses kreatif, ia mendapat pendampingan dari dosen DKV ISI Surakarta, Indriati Suci Pravitasari dan Rendya Adi Kurniawan.
Pada kompetisi tersebut, Juara I diraih Davin Arya Nirwanda dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, juara II Nurul Haqi Septyaningrum (ISI Surakarta), dan Juara III diraih Deva Destianto dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).
Sementara itu, gelar Harapan I diraih Tabaza Zahwa Khozein dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Harapan II diraih Mawa Ziorahman Kuntoro dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dan Harapan III diraih Taoya Milati Nabila dari Universitas Tidar (Untidar) Magelang.

Bagi Nurul, kemenangan kali ini terasa sangat emosional karena menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan.
“Sudah lama saya tidak merasakan euforia seperti ini. Dulu saya pernah gagal, tetapi ternyata kegagalan itu justru mengajarkan banyak hal dan menjadi bekal untuk terus berkembang,” tuturnya.
Ia berharap semakin banyak mahasiswa ISI Surakarta berani mengikuti kompetisi, berproses, dan tidak takut gagal.
“Semoga ISI Surakarta terus melahirkan prestasi-prestasi yang membanggakan sekaligus tetap menunjukkan karakter seni dan budaya yang menjadi identitas kampus,” pungkasnya.
Prestasi Nurul menjadi pengingat bahwa karya terbaik sering lahir bukan dari perjalanan yang mulus, melainkan dari keberanian untuk bangkit setiap kali menghadapi kegagalan.
Di dunia seni, sebagaimana dalam kehidupan, proses selalu menjadi bagian terpenting dari sebuah pencapaian. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.