Maulid Nabi di Masjid An Nuur Solo: Teladani Rasulullah dari Salat Tepat Waktu hingga Tak Boros Air dan Pangan
Momentum Maulid Nabi menjadi ruang untuk memperkuat spiritualitas sekaligus memperbaiki kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
NUMLIT, SURAKARTA — Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan mengenang perjalanan hidup Rasulullah.
Table Of Content
Keteladanan Nabi justru perlu diterjemahkan dalam kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga salat, mencintai Al-Qur’an hingga tidak berlebihan dalam menggunakan air, listrik, dan pangan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid An Nuur, Jalan Biak Gang II Nomor 15, Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Surakarta, Minggu (16/8/2026).
Pengajian yang digelar bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah itu menghadirkan mubalig Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko.
Kegiatan Ahad ketiga tersebut berlangsung khidmat dan dimeriahkan penampilan Hadroh TPQ Al Amin Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kepatihan Wetan.
Dalam tausiyahnya, Dwi Jatmiko mengajak jamaah menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai ruang untuk memperkuat spiritualitas sekaligus memperbaiki kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, salah satu bentuk penguatan spiritual dapat dilakukan dengan membiasakan diri memanjatkan doa untuk kebaikan kehidupan dunia dan akhirat.
Ia mengingatkan jamaah pada doa yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 201. “Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.”
Doa tersebut, kata Jatmiko, mengajarkan umat Islam untuk tidak hanya mengejar kebaikan dunia, tetapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat.
Meneladani Nabi Lewat Kebiasaan Sehari-hari
Dai yang juga merupakan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta itu menekankan bahwa akhlak mulia tidak berhenti pada ibadah ritual.
Keteladanan Rasulullah juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan kebiasaan hidup yang tidak berlebihan.
Karena itu, jamaah diajak menjaga kebersihan serta mengurangi perilaku boros, termasuk dalam penggunaan listrik, air, dan pangan.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Menurut Jatmiko, rasa syukur kepada Allah dapat diwujudkan dengan memanfaatkan berbagai nikmat secara bijak.

Ia juga mengajak jamaah memperkuat rasa syukur dalam momentum menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia dengan tetap mengingat sejarah perjuangan bangsa.
Selain itu, jamaah dianjurkan membiasakan doa, “Allahumma inni as’aluka ilman nafi’an, wa rizqan wasi’an, wa syifa’an min kulli dain.”
Doa tersebut berisi permohonan kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, serta kesembuhan dari segala penyakit.
Salat dan Al-Qur’an Jadi Fondasi
Dalam ceramahnya, Jatmiko juga mengingatkan jamaah agar menjaga salat tepat waktu dan meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an.
Ia tidak hanya mendorong jamaah membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami maknanya, termasuk memahami arti setiap kata yang dibaca.
Menurutnya, salat memiliki posisi penting karena menjadi amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. “Jika salatnya baik, amal lain ikut baik,” pesannya.
Kecintaan kepada Rasulullah, lanjutnya, juga dapat diwujudkan dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Ia mengutip hadis riwayat Muslim mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an yang akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat.
Jatmiko juga mengingatkan bahwa setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca memiliki nilai kebaikan yang dilipatgandakan.
Maulid Nabi sebagai Momentum Memperbaiki Diri
Pengajian di Masjid An Nuur tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda peringatan Maulid Nabi secara seremonial. Pesan yang disampaikan diarahkan pada bagaimana umat Islam membawa nilai keteladanan Rasulullah ke dalam kehidupan nyata.
Menjaga salat, membaca dan memahami Al-Qur’an, menjaga kebersihan, tidak boros, bersyukur atas nikmat, serta peduli terhadap lingkungan menjadi bagian dari praktik sederhana yang dapat dilakukan setiap hari.
Momentum Maulid Nabi pun menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah bukan hanya dengan mengenang sosoknya, tetapi juga dengan berusaha menghadirkan akhlak dan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.