Iuran Rp25.000 per KK, Warga Sulap Lapangan RT Jadi Panggung Budaya
Pentas seni menjadi cara warga merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus mempererat kebersamaan.
NUMLIT, KARANGANYAR — Tak perlu panggung megah, proposal sponsor, atau anggaran besar untuk membuat perayaan kemerdekaan terasa istimewa.
Warga RT 01 Jurang Kambil, Desa Jeruksawit, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, membuktikannya lewat pentas seni yang sepenuhnya lahir dari swadaya masyarakat.
Digelar di Lapangan RT 01, Sabtu (22/8/2026) malam, pentas seni tersebut menjadi cara warga merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus mempererat kebersamaan. Acara berlangsung sejak pukul 20.00 WIB hingga tengah malam dan diikuti puluhan warga dari RT 01 hingga RT 03.
Yang menarik, warga RT 01 sengaja memilih konsep pentas seni, bukan perlombaan seperti yang lazim digelar di sejumlah lingkungan saat momentum kemerdekaan.
Ketua RT 01 Sutimin mengatakan seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari masyarakat. Setiap kepala keluarga (KK) menyumbang iuran Rp25.000, sementara sejumlah warga lainnya turut memberikan bantuan secara sukarela sebagai donatur.
“Dananya dari warga RT 01 sendiri. Setiap KK iuran Rp25.000 dan beberapa warga juga bersedia menjadi donatur,” ujar Sutimin.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan malam tirakatan. Pentas seni dirancang sebagai ruang hiburan sekaligus sarana mempertemukan warga dalam suasana santai dan penuh kebersamaan.
Konsep itu membuat warga tidak hanya datang sebagai penonton. Mereka juga menjadi bagian dari pertunjukan.
Warga RT 01 tampil bersama membawakan yel-yel serta lagu khas atau ciptaan RT 01. Penampilan tersebut menjadi salah satu momen yang menunjukkan bagaimana kreativitas sederhana dapat berubah menjadi hiburan ketika dikerjakan secara bersama-sama.
Suasana semakin meriah dengan penampilan campursari dari Boyolali. Warga dari beberapa RT turut hadir menikmati rangkaian pertunjukan yang berlangsung hingga tengah malam.
Bagi warga, panggung tersebut bukan sekadar tempat tampil. Lapangan RT berubah menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan warga dalam satu kegiatan yang mereka biayai, mereka persiapkan, dan mereka nikmati bersama.
Semangat tersebut terangkum dalam slogan yang disampaikan Sutimin dalam sambutannya, “Tanpa Bersatu Mboten Saged Maju.”
Slogan berbahasa Jawa tersebut menjadi gambaran sederhana mengenai filosofi kegiatan. Kemajuan lingkungan, menurut semangat yang dibangun warga, tidak dapat dilepaskan dari persatuan dan kekompakan masyarakat.
Pentas seni RT 01 pun menjadi contoh bahwa perayaan kemerdekaan di tingkat kampung tidak selalu membutuhkan konsep yang rumit. Dengan iuran sederhana, kreativitas warga, dan semangat gotong royong, masyarakat dapat menciptakan ruang hiburan sekaligus memperkuat hubungan sosial.
Di tengah berbagai bentuk perayaan kemerdekaan yang semakin beragam, apa yang dilakukan warga RT 01 Desa Jurang Kambil mengingatkan bahwa esensi perayaan bukan semata-mata seberapa besar acaranya, melainkan seberapa banyak warga yang terlibat di dalamnya.
Sebab, ketika warga ikut menyumbang, tampil, berkumpul, dan tertawa bersama, sebuah lapangan sederhana bisa berubah menjadi panggung yang memiliki arti lebih besar yaitu panggung kebersamaan.



No Comment! Be the first one.