Ketika Ijazah Sarjana Kalah Sebelum Masuk Ruang Wawancara
Opini ini ditulis oleh Antika Rohqianawati, reporter magang Numeralitera dari Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta.
NUMLIT, SURAKARTA — Ada ironi yang semakin sering kita temui di sekitar kita yaitu seseorang menghabiskan waktu empat tahun untuk kuliah, menyelesaikan skripsi, mengikuti wisuda, lalu pulang membawa selembar ijazah sarjana.
Table Of Content
Setelah itu, ia justru menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit. “Setelah ini mau kerja di mana?”
Di Solo Raya, fenomena semacam ini bukan cerita yang sulit ditemukan. Banyak lulusan perguruan tinggi masih harus berjuang dari satu lowongan ke lowongan lain.
Ijazah S1 yang seharusnya menjadi tiket memasuki dunia profesional ternyata tidak selalu cukup untuk membuka pintu pekerjaan. Ironisnya, di saat yang sama, lowongan pekerjaan sebenarnya tersedia.
Sektor manufaktur dan pekerjaan lapangan, misalnya, masih membuka banyak kesempatan. Namun, pekerjaan tersebut memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Bekerja dengan upah setara UMR dari pagi hingga sore merupakan rutinitas bagi sebagian pekerja. Ketika lembur datang, jam kerja bisa berlangsung jauh lebih panjang.
Persoalannya kemudian bukan sekadar apakah seorang sarjana mau atau tidak mau bekerja di pabrik.
Menyederhanakan persoalan dengan mengatakan bahwa sarjana menganggur karena terlalu pilih-pilih pekerjaan justru mengabaikan masalah yang lebih besar.
Fresh Graduate dan Lingkaran Setan Pengalaman
Coba buka media sosial dan lihat sejumlah lowongan pekerjaan. Untuk posisi entry-level, bahkan pekerjaan yang secara keterampilan sebenarnya dapat dipelajari melalui pelatihan, kita kerap menemukan sederet persyaratan yang membuat calon pelamar berpikir dua kali.
Usia maksimal 25 tahun. Berpenampilan menarik. Mampu melakukan berbagai pekerjaan. Dan, yang paling paradoks adalah wajib memiliki pengalaman kerja satu hingga dua tahun. Di sinilah persoalannya menjadi pelik.
Bagaimana seorang lulusan baru bisa memiliki pengalaman kerja dua tahun jika perusahaan tidak pernah memberikan kesempatan pertama?
Ini seperti meminta seseorang memiliki SIM sebelum mengizinkannya belajar mengemudi.
Pengalaman memang penting. Tidak ada yang salah dengan perusahaan mencari kandidat yang sudah memahami dunia kerja. Namun, ketika pengalaman dijadikan syarat mutlak bahkan untuk posisi pemula, dunia kerja sedang menciptakan lingkaran yang sulit ditembus oleh lulusan baru.
Belum bekerja karena tidak punya pengalaman. Tidak punya pengalaman karena belum diberi pekerjaan. Tidak diberi pekerjaan karena tidak punya pengalaman. Begitu seterusnya.
Pada akhirnya, fresh graduate bukan kalah karena tidak mampu. Mereka bisa jadi kalah sebelum sempat masuk ruang wawancara.
Ketika “Good Looking” Ikut Menentukan Masa Depan
Ada persoalan lain yang juga patut dipertanyakan yaitu syarat “berpenampilan menarik” yang terlalu sering muncul dalam lowongan pekerjaan tertentu.
Untuk pekerjaan yang memang membutuhkan aspek presentasi dan komunikasi publik, tentu penampilan memiliki relevansi. Namun, persoalannya adalah ketika standar “menarik” digunakan sebagai filter yang tidak jelas dan berpotensi mengalahkan kompetensi.
Apa sebenarnya ukuran “menarik”? Siapa yang menentukan? Dan, apakah penampilan harus menjadi faktor yang lebih penting dibandingkan kemampuan seseorang dalam menjalankan pekerjaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dibicarakan karena proses rekrutmen pada dasarnya bukan kontes popularitas.
Perusahaan membutuhkan orang yang mampu bekerja. Dunia kerja membutuhkan kompetensi, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, komunikasi, dan kemauan belajar.
Jika semua itu kalah hanya karena usia atau standar fisik yang subjektif, maka proses rekrutmen telah kehilangan kesempatan untuk menemukan talenta yang sebenarnya potensial.
Satu Juta Lebih Sarjana Menganggur
Keresahan ini bukan semata-mata persoalan individu. Materi ini merujuk pada data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS per Mei 2026 yang mencatat terdapat 1.033.182 lulusan sarjana (D4-S3) yang menganggur, atau sekitar 14,31 persen dari total pengangguran nasional.
Angka tersebut seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Ketika lebih dari satu juta lulusan pendidikan tinggi belum mendapatkan pekerjaan, pertanyaannya tidak cukup berhenti pada “Kenapa mereka tidak mau bekerja?”
Kita juga harus bertanya “Apakah sistem pendidikan dan pasar kerja sudah benar-benar bertemu?”
Sebab pendidikan tinggi terus mendorong anak muda untuk meningkatkan kualifikasi. Mereka diminta kuliah, mendapatkan gelar, menguasai ilmu pengetahuan, dan menjadi tenaga profesional.
Namun setelah lulus, mereka memasuki pasar kerja yang memiliki kebutuhan berbeda. Industri membutuhkan pengalaman.
Riset McKinsey mencatat bahwa kurangnya pengalaman kerja formal adalah hambatan terbesar kedua yang menjebak langkah para pencari kerja pemula. Pada akhirnya, tingginya angka pengangguran sarjana ini adalah tamparan buat sistem rekrutmen dan dunia pendidikan kita. Industri kita terlalu malas untuk melatih anak-anak baru dan lebih memilih menggunakan filter administratif yang instan seperti batas umur dan penampilan fisik.
Kampus memberikan pengetahuan. Industri membutuhkan keterampilan praktis. Mahasiswa sering kali baru mendapatkannya setelah masuk dunia kerja. Di titik inilah terjadi kesenjangan.
Jangan Jadikan Kampus Pabrik Penghasil Ijazah
Perguruan tinggi juga perlu melakukan introspeksi. Kuliah tidak boleh berhenti pada kemampuan mahasiswa menyelesaikan mata kuliah dan mendapatkan nilai bagus. Mahasiswa harus dibiasakan berhadapan dengan persoalan nyata.
Magang, proyek industri, kerja berbasis portofolio, pengalaman organisasi, kewirausahaan, pekerjaan paruh waktu, hingga proyek kolaboratif dengan dunia usaha dapat menjadi jembatan agar mahasiswa tidak benar-benar “nol pengalaman” ketika lulus. Sebab pengalaman tidak selalu harus berarti bekerja penuh waktu selama dua tahun.
Seseorang yang pernah mengelola media sosial organisasi, membuat kampanye digital, mengelola sebuah acara, membangun usaha kecil, membuat desain, melakukan riset lapangan, atau mengerjakan proyek bersama industri sebenarnya sudah memiliki pengalaman.
Masalahnya, pengalaman-pengalaman tersebut sering kali belum diterjemahkan menjadi kompetensi yang dihargai oleh pasar kerja. Karena itu, kampus perlu membantu mahasiswa mengubah pengalaman menjadi portofolio.
Ijazah menunjukkan seseorang pernah menempuh pendidikan. Portofolio menunjukkan apa yang pernah ia kerjakan. Dan, dunia kerja membutuhkan keduanya.
Industri Harus Berani Memberi Kesempatan
Namun tanggung jawab tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada perguruan tinggi. Industri juga perlu berani mengubah cara pandang dalam merekrut tenaga kerja.
Perusahaan memang berhak mendapatkan pekerja terbaik. Tetapi pekerja terbaik tidak selalu berarti pekerja yang sudah memiliki pengalaman paling panjang.
Kadang-kadang, pekerja terbaik adalah mereka yang memiliki kemauan belajar paling tinggi, kemampuan beradaptasi, karakter yang baik, dan potensi untuk berkembang.
Merekrut fresh graduate memang membutuhkan investasi. Perlu pelatihan. Perlu pendampingan. Perlu waktu. Tetapi bukankah perusahaan juga membutuhkan regenerasi?
Jika semua perusahaan hanya mencari kandidat yang sudah “siap pakai”, lalu siapa yang akan mendidik generasi pekerja berikutnya?
Jangan sampai dunia industri terlalu nyaman mencari tenaga kerja yang sudah jadi, sementara tidak banyak pihak yang mau ikut membentuknya.
Ijazah Bukan Jaminan, Tapi Kesempatan Juga Bukan Kemewahan
Pada akhirnya, kita memang harus jujur bahwa ijazah sarjana bukan jaminan seseorang otomatis mendapatkan pekerjaan. Gelar pendidikan tinggi tidak serta-merta membuat seseorang kompeten dalam semua hal.
Lulusan perguruan tinggi tetap harus belajar, beradaptasi, membangun jaringan, memiliki keterampilan, dan mampu menunjukkan kemampuan secara nyata.
Tetapi di sisi lain, kesempatan pertama juga bukan kemewahan yang hanya boleh diberikan kepada mereka yang sudah berpengalaman.
Seseorang harus diberi ruang untuk membuktikan dirinya. Karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti melihat pengangguran sarjana hanya dari satu sisi.
Bukan hanya bertanya mengapa lulusan tidak bekerja, tetapi juga melihat bagaimana kampus menyiapkan mereka, bagaimana industri merekrut mereka, dan bagaimana negara menciptakan ekosistem pekerjaan yang mampu menyerap tenaga terdidik.
Sebab ada satu hal yang sering kita lupakan. Setiap orang yang berpengalaman hari ini pernah menjadi pemula. Mereka pernah tidak tahu. Mereka pernah melakukan kesalahan. Mereka pernah membutuhkan seseorang yang mau mengajari. Dan, mereka pernah mendapatkan kesempatan pertama.
Maka, jika kita ingin mengurangi pengangguran sarjana, mungkin yang harus diperbanyak bukan hanya lowongan pekerjaan. Kita juga perlu memperbanyak pintu masuk bagi mereka yang belum pernah diberi kesempatan.
Sebab dunia kerja tidak semestinya hanya mencari orang yang sudah terbukti. Dunia kerja juga harus berani memberi ruang kepada mereka yang belum terbukti, tetapi layak diberi kesempatan untuk membuktikan diri.
Opini ini ditulis oleh Antika Rohqianawati, reporter magang Numeralitera dari Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta.



No Comment! Be the first one.