Sekolah yang Kembali Hidup: Bekas SD di Delanggu Disulap Jadi Warung Soto Bernuansa Kelas
Bangunan bekas SD Tlobong, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, berubah fungsi menjadi Warung Soto Kwali Legend Mbah Mento Berek.
NUMLIT, KLATEN — Dulu suara anak-anak memenuhi ruang-ruang kelas. Kini, aroma soto dan ragam kuliner justru menghidupkan kembali bangunan yang sempat sunyi.
Table Of Content
Itulah wajah baru bangunan bekas SD Tlobong, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Setelah lama kosong karena tidak lagi memiliki murid, bangunan tersebut kini berubah fungsi menjadi Warung Soto Kwali Legend Mbah Mento Berek.
Alih-alih menghapus jejak masa lalunya, pengelola justru mempertahankan identitas bangunan sebagai sekolah. Suasana kelas, ruang guru hingga kantin tetap dipertahankan dan dipadukan dengan konsep warung makan.
Perubahan itu membuat bangunan yang sebelumnya nyaris kehilangan aktivitas kini kembali ramai setiap hari.
Di area kasir, misalnya, terdapat tulisan “Bayar SPP”. Bagian lain diberi penanda “Taman Kelas 6”, “Ruang Guru”, hingga “Kantin Sekolah”.
Konsep tersebut bukan sekadar dekorasi. Pengunjung seolah diajak kembali memasuki lingkungan sekolah, tetapi kali ini bukan untuk mengikuti pelajaran, melainkan menikmati seporsi makanan.
Bagi mereka yang pernah mengalami suasana sekolah tempo dulu, konsep tersebut juga menghadirkan pengalaman nostalgia yang berbeda.
Dari Sekolah Kosong Menjadi Ruang Ekonomi
Sebelum berubah menjadi warung kuliner, bangunan bekas SD Tlobong sempat dimanfaatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai tempat bagi pelaku UMKM desa.
Namun, lokasi tersebut dinilai kurang ramai sehingga pemanfaatannya tidak berjalan optimal. Setelah itu, pengelolaannya beralih menjadi lahan pribadi yang dikelola oleh suami Sari, 44.
“Warung mulai dibangun sekitar dua hingga tiga tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, pemanfaatan bangunan tersebut berkembang. Kami tidak hanya menjalankan usaha kuliner sendiri, tetapi juga mulai membuka ruang bagi warga sekitar untuk ikut memasarkan berbagai produk mereka,” ujar Sari, saat diwawancarai, Kamis (27/8/2026).

Dengan pola tersebut, bangunan bekas sekolah perlahan memiliki fungsi baru. Bukan hanya menjadi tempat makan, tetapi juga ruang bertemunya aktivitas ekonomi masyarakat.
Produk warga mendapatkan tempat untuk dipasarkan, sementara warung memperoleh tambahan daya tarik dari keberagaman produk yang tersedia.
Nostalgia Sekolah di Tengah Kuliner
Konsep sekolah menjadi salah satu hal yang membuat Warung Soto Kwali Legend Mbah Mento Berek berbeda.
Jejak ruang pendidikan masih terasa melalui penamaan sejumlah bagian bangunan. Pengunjung dapat menemukan kembali istilah-istilah yang akrab dengan kehidupan sekolah, mulai dari ruang guru hingga kantin.
Namun, fungsi ruang telah berubah. Ruang yang dahulu menjadi tempat belajar kini menjadi area untuk menikmati makanan. Lingkungan yang sebelumnya identik dengan kegiatan pendidikan kini dipenuhi aktivitas kuliner dan interaksi warga.
Konsep tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah bangunan lama dapat diberi kehidupan baru tanpa sepenuhnya menghilangkan cerita masa lalunya.
Warung tersebut beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 14.00 WIB. Soto menjadi menu utama yang ditawarkan. Namun, pilihan makanan tidak berhenti pada kuliner tersebut.
Pengunjung juga dapat menemukan berbagai menu lain seperti nasi goreng, dimsum, steak, opor, sop iga, makanan ringan, dan beragam pilihan lainnya.
Keberagaman menu tersebut membuat bangunan bekas sekolah ini tidak hanya menjadi tempat bagi mereka yang ingin bernostalgia, tetapi juga menjadi pilihan untuk sarapan, makan siang, atau sekadar berkumpul.
Ketika Bangunan Lama Mendapat Kesempatan Kedua
Perjalanan bekas SD Tlobong memperlihatkan bahwa bangunan yang kehilangan fungsi tidak selalu harus berakhir sebagai ruang kosong.
Dari tempat yang dahulu tidak lagi memiliki murid, bangunan tersebut kini kembali memiliki aktivitas. Bedanya, yang memenuhi ruang bukan lagi siswa dengan seragam sekolah, melainkan pelanggan, pedagang, dan warga yang menjalankan aktivitas ekonomi.

Di satu sisi, konsep warung bernuansa sekolah menghadirkan pengalaman kuliner yang berbeda. Di sisi lain, pemanfaatan bangunan tersebut membuka ruang kolaborasi bagi warga sekitar.
Ke depan, kolaborasi dengan masyarakat diharapkan terus berkembang. Dengan begitu, keberadaan warung tidak hanya menjadi cerita tentang perubahan sebuah bangunan, tetapi juga tentang bagaimana ruang yang pernah mati dapat kembali memberikan manfaat.
Sebab, terkadang sebuah bangunan tidak benar-benar kehilangan kehidupan. Ia hanya menunggu seseorang memberikan fungsi baru.
Dan di bekas SD Tlobong, kehidupan itu kini kembali hadir. Bukan melalui bel masuk sekolah, melainkan melalui riuh percakapan pelanggan dan aroma soto yang mengepul dari dapur.



No Comment! Be the first one.