Ketika Mimpi Tak Jadi Nyata, The Rubanah Ubah Fase Dewasa Menjadi Lagu
Single “Tak Jadi Nyata” menjadi refleksi para personel The Rubanah ketika memasuki fase kehidupan pascakampus yang penuh perubahan.
NUMLIT, SURAKARTA – Ada fase dalam hidup ketika pertemanan yang dulu terasa begitu dekat perlahan berubah menjadi jarak. Waktu berkumpul semakin sulit ditemukan, satu per satu kawan memilih merantau, sementara mimpi-mimpi yang pernah dibicarakan bersama ternyata tidak semuanya berujung pada kenyataan.
Table Of Content
Fase itulah yang coba direkam The Rubanah melalui karya terbaru mereka, “Tak Jadi Nyata”. Tidak sekadar menjadi single, lagu tersebut sekaligus menjadi refleksi para personel ketika memasuki fase kehidupan pascakampus yang penuh perubahan.
Melalui Music Video (MV) terbaru, The Rubanah mengajak pendengar melihat sisi lain dari proses pendewasaan. Tentang kehilangan, harapan yang tidak tercapai, sekaligus keberanian untuk menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Jika karya-karya The Rubanah sebelumnya identik dengan energi dan gairah muda yang mentah, “Tak Jadi Nyata” hadir dengan warna yang lebih kontemplatif. Lagu ini menjadi penanda perubahan musikal sekaligus perjalanan personal para personelnya.
Penulis lirik “Tak Jadi Nyata”, Illham Surya Aditama, mengatakan ide lagu tersebut berangkat dari pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan mereka.

Kesedihan muncul ketika teman-teman seperjuangannya mulai meninggalkan kota untuk merantau, sementara dirinya memilih menetap.
“Ada keinginan agar mereka tetap tinggal, tetapi pada akhirnya saya menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing,” ujar dia saat diwawancarai, Jumat (14/8/2026).
Situasi tersebut kemudian menjadi semacam ujian bagi dirinya untuk belajar bertahan dan berbenah.
Inspirasi lagu juga muncul dari percakapan ketika para personel maupun teman-temannya kembali berkumpul setelah masa kuliah.
“Obrolan yang semula sederhana justru banyak berujung pada cerita mengenai mimpi yang belum tercapai, pilihan hidup, hingga kisah percintaan yang tidak selalu berakhir bahagia,” kata dia.
Dari sanalah muncul kesadaran bahwa memasuki usia dewasa berarti berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak semua hal yang pernah direncanakan akan menjadi nyata.
Ketika Ketertinggalan Justru Menjadi Karya
Perasaan tersebut ternyata bukan hanya berkaitan dengan kehidupan personal, tetapi juga perjalanan The Rubanah sebagai sebuah band.
Mereka pernah berbagi panggung dengan sejumlah band yang kemudian berkembang jauh lebih cepat. Ketika melihat rekan-rekan sejawatnya melesat, The Rubanah juga merasakan pertanyaan yang sama. Mengapa perjalanan mereka belum sampai pada titik yang diharapkan?
Namun, mereka memilih tidak menjadikan perasaan tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, rasa tertinggal, kecewa, dan harapan yang belum menjadi kenyataan justru diolah menjadi karya.
“Tak Jadi Nyata” akhirnya menjadi semacam ruang bagi The Rubanah untuk berdamai dengan proses mereka sendiri. Bahwa perjalanan setiap orang tidak harus memiliki kecepatan yang sama.
Formasi Baru, Identitas Baru
Perubahan fase The Rubanah juga ditandai dengan perubahan formasi. Posisi vokalis yang sebelumnya diisi Mbe kini ditempati Tilis, sementara posisi bassist yang sebelumnya diisi Bagas Yunior kini diisi Haji Ian.
Kehadiran Tilis sebagai frontman membawa karakter baru bagi The Rubanah. Perubahan tersebut sekaligus memberikan warna berbeda dalam perjalanan musikal mereka.

Di tengah kesibukan masing-masing personel yang membuat waktu produksi musik semakin terbatas, The Rubanah memilih tetap produktif dengan memanfaatkan momentum untuk menggarap visualisasi “Tak Jadi Nyata”. Keputusan tersebut justru membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.
Produksi MV mempertemukan anggota The Rubanah dengan puluhan kreator muda dari berbagai latar belakang.
Tidak lagi terbatas pada lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS Surakarta, proyek tersebut berkembang menjadi ruang pertemuan bagi sineas, seniman visual, pemeran, hingga pekerja kreatif lainnya.
Puluhan Kreator Terlibat di Balik Layar
MV “Tak Jadi Nyata” disutradarai Kesit Maulana Prabandaru, dengan Ammara Nabila Azzahra (Ara) sebagai asisten sutradara. Keduanya menerjemahkan emosi dan pesan lagu ke dalam bahasa visual.
Penataan gambar dikerjakan Hanafi Reza Wibowo, sementara tata artistik melibatkan Yasmin Aqilla, Herendra Rangga Permana, Farhan Fatchurrahman, dan Jasmine Nada Atsmara.
Sejumlah pemeran juga terlibat dalam produksi tersebut, antara lain Adel Mustafa (Tilis), As’ad Zahlul Al Hakim, Setia Bela Adi Nugroho, Adi Wijoyo, Alif Salman Ghifari, Jory Naszal Syahputra, dan Firmanda Deska.
Sementara itu, barisan pewarta diperankan Rafi Primastyo Hatta, Arya Danendra Kurnia Dipraja, Tamara Istiana Safitri, dan Mochammad Thoriq Nur Furqon.
Dari sisi musik, komposisi lagu dikerjakan bersama oleh Adel Mustafa, Candra Iqbal Maulana, Illham Surya Aditama, Muhammad Jibran Zuliansyah, dan Rahmat Yanuar Iswardana.
Proses rekaman dilakukan di Pregnant Pause Records, dengan mixing dan mastering oleh Edo Rivai. Karya tersebut juga diperkuat objek patung karya Bahruddin Hafidz serta tata letak foto oleh Firmanda Deska.
Banyaknya kreator yang terlibat membuat “Tak Jadi Nyata” pada akhirnya bukan hanya menjadi karya musik The Rubanah, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi lintas talenta.
Tak Semua Harus Berakhir Sesuai Rencana
Di balik musik dan visual yang mereka tawarkan, “Tak Jadi Nyata” membawa pesan sederhana bagi mahasiswa dan anak muda yang sedang memasuki fase dewasa.
Ada kalanya teman-teman pergi, waktu bersama semakin sedikit, karier tidak bergerak secepat yang diharapkan, dan mimpi yang dulu terasa dekat justru semakin jauh. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berarti kegagalan.
The Rubanah memilih mengubah kegelisahan itu menjadi karya. Mereka menunjukkan bahwa ketika kehidupan memaksa seseorang untuk beradaptasi, kreativitas dapat menjadi salah satu cara untuk bertahan.
Sebab, mungkin tidak semua yang direncanakan akan menjadi nyata. Tetapi dari sesuatu yang gagal diwujudkan itu, tetap bisa lahir sesuatu yang bermakna. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.