Dari Lahan Sempit, Sharp Ingin Tumbuhkan Ibu Berdaya dan Keluarga Lebih Sehat
Sharp Hydro Heroes di Bekasi tak sekadar mengajarkan ibu muda menanam sayuran. Program ini dirancang untuk membuka peluang ekonomi sekaligus menumbuhkan kesadaran gizi keluarga.
NUMLIT, BEKASI — Sebidang lahan berukuran 15 meter x 5 meter di area SAGA Life School, Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara, Jawa Barat, kini memiliki fungsi baru. Di lahan yang relatif terbatas itu, sayuran ditanam tanpa membutuhkan hamparan tanah yang luas.
Table Of Content
Namun, yang hendak ditumbuhkan di tempat tersebut bukan hanya tanaman. Di sana, 20 ibu muda akan belajar bercocok tanam dengan sistem hidroponik, mengelola hasil panen, menghitung peluang usaha, memasarkan produk melalui media digital, sekaligus memahami pentingnya pangan bergizi bagi keluarga.
Program tersebut merupakan bagian dari Sharp Hydro Heroes, program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan PT Sharp Electronics Indonesia. Setelah sebelumnya menyasar generasi muda di Karawang pada 2024, program ini hadir di Bekasi dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan keluarga.
Sharp melihat hidroponik bukan sekadar aktivitas bercocok tanam. Di tangan ibu-ibu peserta, keterampilan tersebut diharapkan berkembang menjadi peluang usaha sekaligus pintu masuk untuk membangun kebiasaan konsumsi pangan yang lebih sehat di rumah.
“Melalui Sharp Hydro Heroes, kami ingin hadir lebih dekat dengan kebutuhan keluarga di sekitar kami. Kami percaya pemberdayaan perempuan tidak hanya berbicara mengenai peningkatan ekonomi, tetapi juga mengenai bagaimana seorang ibu dapat menjadi penggerak perubahan di dalam keluarganya, termasuk dalam membangun kebiasaan makan yang lebih sehat bagi anak-anak,” ujar Presiden Direktur PT Sharp Electronics Indonesia, Shinji Teraoka, Jumat (21/8/2026).
Dua Persoalan dalam Satu Program
Pilihan untuk menggabungkan pemberdayaan ekonomi dan edukasi gizi bukan tanpa alasan. Di satu sisi, keluarga membutuhkan peluang tambahan pendapatan. Di sisi lain, pemenuhan gizi anak masih menjadi pekerjaan bersama.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dicantumkan dalam program tersebut menunjukkan prevalensi stunting di Kota Bekasi sebesar 11,7 persen, terdiri atas 2,5 persen anak sangat pendek dan 9,2 persen anak pendek.
Pemerintah Kota Bekasi juga menempatkan penurunan stunting sebagai salah satu indikator pembangunan. Dalam RPJMD Kota Bekasi 2025–2029, prevalensi stunting ditargetkan turun dari 9,05 persen pada 2025 menjadi 8,50 persen pada 2026 dan terus menurun hingga 7,06 persen pada 2029.
Karena itu, pendekatan program tidak berhenti pada produksi sayuran. Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai manfaat sayuran, pola makan beragam, pengelolaan hasil panen, hingga cara memperkenalkan sayuran kepada anak agar lebih mudah diterima dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, sayuran yang tumbuh di lahan hidroponik diharapkan tidak hanya berujung pada hasil panen dan transaksi jual beli, tetapi juga masuk ke meja makan keluarga.
“Kami ingin peserta memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola hasilnya menjadi peluang ekonomi, sekaligus memahami nilai penting sayuran dan pola makan yang beragam bagi pertumbuhan keluarga,” kata Shinji.
Lurah Teluk Pucung, Bekasi Utara, Ismail Marzuki, mengapresiasi program tersebut. Menurut dia, Sharp Hydro Heroes menjadi bentuk kolaborasi yang menghubungkan pemberdayaan perempuan, ekonomi keluarga, dan kesadaran terhadap pangan bergizi.
“Kami mengapresiasi Sharp Hydro Heroes sebagai bentuk kolaborasi nyata dalam memberdayakan kaum perempuan, meningkatkan ekonomi keluarga, sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya pangan bergizi bagi anak,” ujarnya.
Ibu Muda Tak Hanya Diajari Menanam
Sebanyak 20 peserta yang terpilih mengikuti pelatihan terstruktur. Materinya cukup luas, mulai dari dasar pertanian dan hidroponik, teknik penanaman dan perawatan, pengelolaan serta pemanenan, hingga pengolahan hasil panen.
Mereka juga diperkenalkan pada dasar-dasar kewirausahaan, perhitungan biaya dan potensi usaha, branding produk, pemasaran melalui media sosial, serta edukasi pola makan beragam.
Artinya, peserta tidak diposisikan hanya sebagai orang yang mampu menanam sayuran.
Mereka dipersiapkan untuk memahami bagaimana sebuah tanaman dapat berubah menjadi produk, bagaimana produk dapat dipasarkan, dan bagaimana keterampilan tersebut dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.
Pemilihan ibu muda sebagai penerima manfaat juga berkaitan dengan posisi mereka dalam kehidupan keluarga. Ibu memiliki peran penting dalam berbagai keputusan mengenai makanan yang dikonsumsi keluarga sehari-hari.
Melalui keterampilan dan pengetahuan yang diberikan, Sharp berharap para peserta dapat menjadi agent of change di lingkungan terdekatnya.
Seorang ibu yang memahami cara menanam sayuran dapat memiliki akses lebih dekat terhadap pangan segar. Seorang ibu yang memahami nilai gizi dapat lebih sadar memilih makanan keluarga. Dan seorang ibu yang memiliki keterampilan usaha memiliki peluang untuk berkontribusi terhadap pendapatan rumah tangga. Di situlah program ini mencoba membangun sebuah siklus manfaat.
Belajar dari Karawang
Sharp Hydro Heroes bukan program yang sepenuhnya baru. Program tersebut pertama kali diperkenalkan di Karawang pada November 2024 dengan melibatkan 20 pemuda-pemudi di sekitar lingkungan perusahaan. Para peserta mendapatkan pelatihan pertanian, hidroponik, pemasaran digital, hingga kewirausahaan.
Hasilnya mulai terlihat ketika tanaman selada yang dikembangkan peserta menghasilkan panen perdana pada Januari 2025.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi pijakan bagi Sharp untuk mengembangkan pendekatan yang berbeda di Bekasi.
Jika sebelumnya menyasar generasi muda, kali ini program diarahkan kepada ibu muda dengan perhatian lebih besar pada hubungan antara keterampilan produktif, ekonomi keluarga, dan kesehatan anak.
Dalam pelaksanaannya, Sharp menggandeng Benihbaik.com sebagai mitra yang mendukung penyediaan sumber daya, jaringan, serta pendampingan program.
Chief of Strategic & Business Development Benihbaik.com, Firdaus Juli, mengatakan pemberdayaan tidak seharusnya berhenti pada pelatihan.
“Program pemberdayaan akan memiliki makna ketika pengetahuan yang diberikan dapat menjadi bekal untuk menciptakan perubahan nyata. Karena itu, kami tidak ingin Sharp Hydro Heroes berhenti pada tahap pelatihan, tetapi terus memberikan pendampingan agar para peserta dapat mengembangkan keterampilannya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga dan memiliki potensi untuk menjadi sumber penghasilan,” katanya.
Dari Hidroponik ke Masa Depan Keluarga
Lebih jauh, program ini ditempatkan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Sharp mengaitkan Hydro Heroes dengan sejumlah tujuan SDGs, antara lain SDG 2 tentang Zero Hunger, SDG 3 mengenai Good Health and Well-being, SDG 5 tentang Gender Equality, SDG 8 mengenai Decent Work and Economic Growth, SDG 10 tentang Reduced Inequalities, serta SDG 12 tentang Responsible Consumption and Production.
Benang merahnya adalah satu. Pembangunan tidak cukup hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi. Kesehatan keluarga, pemberdayaan perempuan, akses terhadap pangan, dan keberlanjutan lingkungan juga harus berjalan bersama.
Karena itu, ukuran keberhasilan Sharp Hydro Heroes tidak semata-mata berapa banyak tanaman yang tumbuh atau berapa kilogram sayuran yang berhasil dipanen.
Keberhasilan justru diharapkan terlihat dari perubahan yang lebih sederhana, tetapi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika seorang ibu memiliki keterampilan baru untuk menghasilkan pendapatan. Ketika keluarga semakin memahami pentingnya makanan bergizi.
Ketika anak mulai mengenal sayuran sebagai bagian dari menu sehari-hari. Dan ketika lahan yang sebelumnya terbatas dapat dimanfaatkan menjadi ruang produktif.
PR & Brand Communication Department Head PT Sharp Electronics Indonesia, Pandu Setio, mengatakan program tersebut diharapkan berkembang menjadi gerakan kecil yang membawa dampak lebih luas.
“Sharp Hydro Heroes bukan sekadar program menanam sayuran, tetapi sebuah upaya untuk menanam pengetahuan, menumbuhkan kemandirian dan memanen masa depan yang lebih baik bagi keluarga Indonesia,” ujarnya.
Pada akhirnya, hidroponik di Teluk Pucung bukan hanya soal bagaimana tanaman dapat tumbuh di ruang yang sempit.
Lebih dari itu, program tersebut membawa gagasan bahwa keterbatasan lahan tidak harus berarti keterbatasan kesempatan.
Dari lahan seluas 75 meter persegi, Sharp mencoba menumbuhkan sesuatu yang lebih besar yaitu ibu yang berdaya, keluarga yang lebih sadar gizi, peluang ekonomi baru, dan harapan akan generasi yang tumbuh lebih sehat. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.