Saat AI Makin Dekat dengan Anak, Orang Tua Diminta Kembali Jadi “Benteng Pertama”
Pendidikan anak tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat, akses internet, atau memasukkannya ke sekolah yang baik. Ada kebutuhan yang lebih mendasar, yakni kehadiran orang tua dalam kehidupan...
NUMLIT, SURAKARTA — Ketika kecerdasan buatan (AI) semakin mudah diakses anak-anak, tantangan orang tua bukan lagi sekadar membatasi penggunaan gawai. Yang jauh lebih penting adalah memastikan anak memiliki fondasi yang cukup kuat untuk membedakan mana yang baik, benar, dan layak diikuti.
Table Of Content
Di tengah derasnya arus media sosial dan perkembangan teknologi digital, orang tua dinilai perlu kembali memperkuat tiga hal mendasar dalam diri anak yaitu keimanan, ilmu pengetahuan, dan adab.
Pesan tersebut disampaikan khatib dan Imam Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, dalam naskah khutbah bertajuk “Mendidik Generasi Alpha di Era Media Sosial dan Kecerdasan Buatan” di Lapangan SD Muhammadiyah 1 Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (21/8/2026).
Menurut Dwi, anak-anak yang termasuk Generasi Alpha, yakni mereka yang lahir pada kurun 2010 hingga 2024, tumbuh dalam lingkungan yang hampir tidak dapat dipisahkan dari internet, media sosial, dan perangkat pintar.
Teknologi tersebut memang membuka peluang besar bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan dan belajar lebih cepat. Namun, di sisi lain, teknologi juga membawa risiko ketika anak belum memiliki kemampuan untuk menyaring informasi dan mengendalikan dirinya.
Berita bohong, konten yang tidak pantas, hingga penggunaan AI untuk mencontek atau sekadar mencari jawaban tanpa memahami prosesnya menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
Dwi menilai persoalannya bukan terletak pada teknologi semata. AI dan media sosial hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana anak dibimbing untuk menggunakannya.
Karena itu, pendidikan anak tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat, akses internet, atau memasukkannya ke sekolah yang baik. Ada kebutuhan yang lebih mendasar, yakni kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.
“Kehangatan keluarga tidak bisa digantikan oleh secanggih apa pun teknologi. Anak-anak lebih membutuhkan kehadiran orang tua daripada sekadar fasilitas yang lengkap,” ujar Dwi.
Ketika Anak Lebih Nyaman Bercerita kepada Mesin
Dwi mengingatkan, minimnya perhatian orang tua dapat membuat anak merasa terasing di rumah. Dalam kondisi tersebut, anak berpotensi mencari tempat lain untuk mendapatkan perhatian, termasuk melalui entitas digital.
Ia bahkan menyinggung kasus tragis seorang anak yang nekat bunuh diri setelah mendapatkan saran dari mesin AI. Kasus tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa teknologi tidak boleh mengambil alih ruang komunikasi dan pendampingan yang seharusnya hadir dalam keluarga.
Karena itu, orang tua perlu memastikan anak memiliki ruang untuk bercerita, bertanya, berdiskusi, bahkan menyampaikan persoalan yang mungkin dianggap sepele.
Kehadiran orang tua menjadi penting bukan hanya ketika anak melakukan kesalahan, tetapi juga ketika anak sedang berhadapan dengan informasi yang belum mampu ia pahami.
Di sinilah rumah, menurut Dwi, harus kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat pertama anak belajar memahami kehidupan.
Tiga Benteng Generasi Alpha
Dwi menyebut setidaknya ada tiga fondasi yang perlu diperkuat orang tua untuk membentengi anak di tengah derasnya perkembangan teknologi.
Pertama, keimanan. Anak perlu dibekali kesadaran bahwa setiap aktivitasnya, termasuk aktivitas di ruang digital, tetap berada dalam pengawasan Allah Swt. Kesadaran tersebut diharapkan menjadi kontrol dari dalam diri ketika tidak ada orang tua yang mengawasi.
Kedua, ilmu pengetahuan. Anak harus memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah menerima begitu saja setiap informasi yang muncul di media sosial maupun hasil pencarian melalui AI.
Dengan bekal pengetahuan, anak diharapkan mampu bertanya, memeriksa, membandingkan, dan mempertimbangkan informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Ketiga, adab dan etika. Kemampuan menggunakan teknologi tidak cukup hanya diukur dari seberapa mahir anak mengoperasikan perangkat. Anak juga perlu memahami bagaimana berkomunikasi secara santun, menghormati orang lain, serta menjaga perilaku di ruang digital. Sebab, ruang digital tetap merupakan bagian dari kehidupan sosial yang membutuhkan etika.
Sekolah Penting, tetapi Rumah Tetap yang Pertama
Dwi juga mengingatkan orang tua agar tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah.
Sekolah memang memiliki peran penting dalam memberikan ilmu dan membentuk karakter. Namun, pendidikan yang paling menentukan tetap membutuhkan keterlibatan keluarga.
Rumah harus menjadi tempat anak pertama kali mengenal nilai, belajar membedakan baik dan buruk, serta mendapatkan rasa aman untuk bertumbuh.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi anak-anak.
Menurut Dwi, kehadiran orang tua tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk pengawasan ketat terhadap penggunaan gawai. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang membuat anak merasa didengar dan memiliki tempat untuk kembali ketika menghadapi persoalan.
Pada akhirnya, anak akan tetap bersentuhan dengan teknologi. Mereka akan menggunakan media sosial, mesin pencari, dan AI. Tantangannya bukan menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi, melainkan membekali mereka agar mampu menggunakannya secara bertanggung jawab.
“Media sosial dan kecerdasan buatan hanyalah alat. Keduanya dapat menjadi sarana kebaikan atau pintu kerusakan, bergantung pada cara manusia menggunakannya,” tegas Dwi yang juga merupakan anggota Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Solo.
Di tengah dunia yang semakin digital, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi boleh semakin canggih, tetapi fondasi keluarga tidak boleh semakin renggang.
Sebab, sebelum anak belajar berbicara dengan mesin, mereka perlu terlebih dahulu memiliki orang tua yang bersedia mendengarkan mereka. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.