Di Balik Lomba 17-an BPVP Surakarta, Ada Cerita tentang Kerja Sama, Sportivitas, dan Harapan Masa Depan
BPVP Surakarta menyelenggarakan lomba pitulasan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI yang diikuti pegawai dan peserta pelatihan, Rabu-Kamis (12-13/8/2026).
NUMLIT, SURAKARTA – Sebuah pensil harus masuk tepat ke dalam botol. Tantangannya sederhana, tetapi ketika peserta mulai mencoba, permainan itu berubah menjadi adu konsentrasi, kesabaran, sekaligus tawa.
Bagi Fadil, peserta pelatihan kejuruan servis sepeda motor dan mobil di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Surakarta, lomba memasukkan pensil ke botol menjadi pengalaman yang berbeda dari aktivitasnya sehari-hari di ruang pelatihan.
“Tahun ini ikut lomba memasukkan pensil ke botol. Lombanya seru, tapi ternyata susah. Saya kalah,” kata Fadil, peserta asal Sukoharjo, sambil menceritakan pengalamannya mengikuti lomba dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di lingkungan BPVP Surakarta, Rabu (12/8/2026).
Kekalahan rupanya bukan persoalan utama. Bagi Fadil, yang lebih menarik adalah kesempatan untuk sejenak meninggalkan rutinitas pelatihan dan berbaur dengan peserta lainnya.
Apalagi, beberapa waktu sebelumnya Fadil baru saja menyelesaikan pendidikan di SMK Imam Syuhodo, Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Kini ia memilih melanjutkan langkah dengan mengikuti pelatihan kejuruan servis sepeda motor di BPVP Surakarta.
Di tempat itu, ia tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik sebagai bekal memasuki dunia kerja.
Setelah menyelesaikan pelatihan, Fadil sudah memiliki tujuan. Ia ingin bekerja di bengkel sepeda motor resmi.
“Setelah ikut kelas teori dan praktik di sini, saya ingin ikut kerja di bengkel motor resmi,” ujarnya.
Cerita Fadil menjadi gambaran kecil dari suasana berbeda yang muncul di BPVP Surakarta pada 12–13 Agustus 2026. Selama dua hari, lingkungan balai pelatihan tidak hanya dipenuhi aktivitas pembelajaran vokasi, tetapi juga semarak berbagai perlombaan khas perayaan kemerdekaan.
Sebanyak 11 jenis lomba digelar, mulai dari lomba 5S, tenis meja, e-sport football, estafet sarung, voli plastik dengan tirai, makan kerupuk, memasukkan paku ke dalam botol, kejuaraan got talent, basketball shoot contest, estafet karet tepung, hingga merias wajah dengan mata tertutup.

Pesertanya pun bukan hanya pegawai. Para peserta pelatihan dari berbagai kejuruan turut ambil bagian.
Kepala Subkoordinator Bidang Penyelenggaraan BPVP Surakarta, Ardanto Jati Winoto, mengatakan perlombaan tersebut dibagi dalam dua tahap. Hari pertama digunakan untuk babak penyisihan, sedangkan babak final digelar pada hari berikutnya.
“Dimulai pukul 07.30 WIB dan dibuka langsung oleh Kepala BPVP Surakarta,” kata Ardanto, saat diwawancarai di lokasi.
Menurutnya, kegiatan tersebut sengaja dirancang untuk melibatkan pegawai sekaligus peserta pelatihan. Saat ini BPVP Surakarta memiliki sekitar 20 kelas pelatihan dengan rata-rata 16 peserta di setiap kelas.
Dengan jumlah peserta pelatihan yang cukup banyak, perlombaan menjadi kesempatan untuk membangun interaksi yang lebih cair di luar suasana kelas.
Ardanto menyebut antusiasme peserta cukup tinggi. Semarak kegiatan juga semakin terasa dengan hadirnya sejumlah mitra yang ikut membuka stan, di antaranya Danamon dan Adira yang memberikan layanan maupun promosi. Peserta lomba juga mendapatkan fasilitas es teh gratis.
Namun, di balik kemeriahan itu, ada pesan yang ingin dibangun. Perlombaan tidak ditempatkan sekadar sebagai hiburan tahunan, tetapi menjadi bagian dari upaya menciptakan suasana kebersamaan di lingkungan pelatihan.
Bagi peserta seperti Fadil, suasana semacam itu menjadi pengalaman sosial yang melengkapi pembelajaran teknis yang ia dapatkan selama mengikuti pelatihan.
Sebab, dunia kerja yang kelak dimasukinya tidak hanya membutuhkan keterampilan memperbaiki mesin atau memahami teknologi kendaraan. Kemampuan berkomunikasi, bekerja bersama orang lain, menjaga sportivitas, dan membangun relasi juga menjadi bagian penting dari kesiapan seseorang memasuki dunia kerja.
Di titik inilah semangat kemerdekaan menemukan bentuknya yang sederhana di lingkungan BPVP Surakarta.

Kepala BPVP Surakarta, Verry Fahrudin, mengatakan agenda lomba pitulasan merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut sengaja diisi dengan aktivitas positif yang dapat dinikmati bersama oleh seluruh warga BPVP.
“Agenda lomba pitulasan ini sebagai salah satu rangkaian kegiatan untuk memeriahkan HUT RI. Mari kita isi dengan kegiatan positif dan dengan perlombaan ini kita tetap junjung sportivitas,” ujar Verry saat membuka acara.
Sportivitas menjadi kata kunci. Menang dan kalah hanya menjadi hasil akhir. Yang lebih penting, pesan Verry, adalah bagaimana peserta belajar mengikuti aturan, menghargai lawan, menerima hasil, dan tetap menikmati kebersamaan.
Nilai-nilai itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan semangat yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
Pelatihan vokasi mempersiapkan seseorang agar memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Namun, keterampilan teknis saja tidak selalu cukup. Dunia kerja juga membutuhkan orang-orang yang mampu bekerja dalam tim, beradaptasi, berkomunikasi, serta memiliki sikap profesional.

Karena itu, suasana di BPVP Surakarta selama lomba pitulasan memperlihatkan sisi lain dari proses pendidikan vokasi. Di sela-sela pembelajaran teknis, ada ruang untuk tertawa bersama. Di antara kompetisi, ada kesempatan saling mengenal. Dan di balik kemenangan, ada pelajaran tentang menerima kekalahan.
Fadil mungkin belum berhasil memasukkan pensil ke dalam botol. Ia bahkan dengan santai mengakui, “Seru. Susah. Kalah.”
Tetapi kekalahan dalam permainan itu tidak mengubah tujuan yang sedang ia perjuangkan.
Setelah lulus SMK, ia kini sedang menyiapkan diri melalui pelatihan vokasi. Targetnya jelas yaitu bekerja di bengkel sepeda motor resmi dengan bekal teori dan praktik yang diperolehnya di BPVP Surakarta.
Di situlah makna lain dari lomba kemerdekaan ini terasa. Sebuah permainan sederhana bisa menjadi jeda di tengah proses panjang menyiapkan masa depan.
Dan, seperti semangat kemerdekaan yang dirayakan setiap Agustus, perjalanan menuju masa depan juga membutuhkan keberanian untuk mencoba, kesiapan menerima kegagalan, serta kemauan untuk terus belajar dan tumbuh bersama. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.