The Lavishe, Ketika Komunitas Penari Mahasiswa Tumbuh Menjadi Organisasi Kreatif yang Solid
Nama The Lavishe sendiri menyimpan filosofi yang menggambarkan semangat komunitas tersebut.
NUMLIT, SURAKARTA ā Gemerlap panggung mungkin menjadi wajah yang paling mudah dilihat dari sebuah komunitas seni.
Table Of Content
Namun, di balik penampilan yang memukau, selalu ada cerita tentang orang-orang yang bekerja dalam senyap. Mulai dari menyusun konsep, membagi peran, mengatur penampilan hingga memastikan setiap detail berjalan sesuai rencana. Cerita itu pula yang sedang dibangun The Lavishe.
Berawal dari inisiatif empat mahasiswi Sastra Inggris FIB UNS Surakarta, komunitas ini perlahan berkembang bukan hanya sebagai tempat berkumpul para penari, tetapi menjadi organisasi kreatif yang memiliki sistem manajemen dan pembagian kerja yang semakin tertata.
Nama The Lavishe sendiri menyimpan filosofi yang menggambarkan semangat komunitas tersebut.
Bella, salah satu penggagasnya, menjelaskan nama itu berakar dari kata lavish dalam bahasa Inggris yang berarti mewah atau berlimpah. Namun, huruf āeā yang ditambahkan di bagian akhir bukan sekadar pemanis nama.
“Huruf tersebut membawa harapan agar seluruh anggota komunitas memperoleh experience atau pengalaman berharga bersama,” ujar dia saat diwawancarai belum lama ini.
Dengan filosofi tersebut, kata dia, The Lavishe sejak awal ingin menjadi ruang yang memberikan dukungan moral sekaligus apresiasi kepada setiap anggotanya.
Berawal dari Empat Perempuan
Fondasi The Lavishe dibangun oleh empat mahasiswi Sastra Inggris yang memiliki semangat yang sama untuk menghidupkan komunitas.
Mereka adalah Fathia Nafisa Azzahra atau Nara angkatan 2023 yang kini dipercaya sebagai ketua, Salsabilla Aprillia Putri atau Sasa angkatan 2023, Naza yang kini menjadi wakil ketua, serta Bella yang turut menangani bidang media dan publikasi.
Pada masa awal berdiri, struktur organisasi The Lavishe belum sepenuhnya terbentuk. Mereka harus belajar mengurus berbagai kebutuhan komunitas secara langsung.
Pembagian tugas pun berlangsung dinamis. Sasa, misalnya, sempat menjalankan fungsi Hubungan Masyarakat sebelum akhirnya mengundurkan diri karena kesibukan lain. Peran tersebut kemudian diteruskan Naza.
Dalam fase tersebut, Nara, Naza, dan Bella saling berbagi pekerjaan. Mereka tidak hanya memikirkan bagaimana sebuah penampilan bisa berjalan, tetapi juga belajar mengelola komunitas dari balik layar.
Proses itulah yang kemudian menjadi modal penting bagi perkembangan The Lavishe.
Tak Lagi Sekadar Kumpulan Dancer
Waktu membuat The Lavishe berkembang. Komunitas ini kini mulai meninggalkan pola kerja yang serba spontan dan membangun sistem organisasi yang lebih jelas. Penampilan mereka di panggung Pra-Event SIPA menjadi salah satu gambaran bagaimana kerja kreatif dan manajemen berjalan beriringan.
Nara, sebagai ketua, turun langsung menjadi Person In Charge (PIC) yang mengarahkan berbagai detail penampilan.

Sementara para dancer menjalankan konsep tersebut sekaligus memiliki ruang untuk menambahkan kreativitas melalui koreografi.
Di balik panggung, terdapat pula tim yang memastikan seluruh proses berjalan.
Adiandra Surya Sakti dari Sastra Inggris angkatan 2023 dipercaya sebagai General Manager, sementara Cintania Diva Riyanto dari Sastra Inggris angkatan 2024 mengisi posisi Visual Manager.
Pada bidang media dan publikasi, Bella kini mendapat dukungan Hafshoh Aulia Fitriani dari Sastra Inggris angkatan 2024.
Struktur tersebut menunjukkan satu hal. The Lavishe mulai memahami bahwa pertunjukan yang baik tidak hanya lahir dari kemampuan tampil di atas panggung, tetapi juga dari kerja tim yang kuat di belakangnya.
Belajar Tumbuh Bersama
Perjalanan The Lavishe sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas mahasiswa dapat menjadi ruang belajar di luar bangku kuliah.
Para anggotanya tidak hanya belajar menari atau mempersiapkan pertunjukan. Mereka juga berhadapan dengan persoalan komunikasi, kepemimpinan, pembagian kerja, manajemen acara, publikasi, hingga bagaimana mengelola sebuah proyek kreatif bersama-sama. Di sinilah filosofi nama The Lavishe menemukan relevansinya.
Pengalaman (experience) yang ingin dibangun bukan hanya pengalaman tampil di atas panggung, melainkan pengalaman menjadi bagian dari sebuah ekosistem yang saling mendukung dan memberi ruang bagi anggotanya untuk berkembang.
Mereka belajar bahwa sebuah karya tidak pernah berdiri sendiri. Ada penampil, ada pengarah, ada tim visual, ada media, ada manajemen, dan ada banyak pekerjaan lain yang mungkin tidak terlihat oleh penonton.
Menyiapkan Langkah Berikutnya
Perjalanan organisasi ini belum berhenti. The Lavishe bahkan berencana membuka kembali rekrutmen khusus untuk memperkuat formasi tim manajerial.
Langkah tersebut menunjukkan keinginan mereka untuk membangun komunitas yang tidak hanya aktif ketika ada panggung, tetapi memiliki sistem yang mampu menopang berbagai proyek ke depan.
Bagi komunitas yang tumbuh dari empat mahasiswi Sastra Inggris, perkembangan tersebut menjadi perjalanan yang cukup berarti.
Dari membagi tugas secara fleksibel di masa awal, kini mereka mulai memiliki struktur yang lebih jelas. Dari sekadar berkumpul dan menari, mereka belajar mengelola sebuah organisasi kreatif. Dan dari panggung, mereka menemukan ruang untuk tumbuh bersama.
Sebab, bagi The Lavishe, pengalaman terbaik bukan hanya ketika lampu panggung menyala dan tepuk tangan terdengar.
Pengalaman itu justru dibangun sejak jauh sebelum pertunjukan dimulai, ketika setiap orang belajar mengambil peran, bekerja bersama, dan memastikan tidak ada yang berjalan sendirian. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.