Grebeg Maulud Riuh, Warga Rela Datang Jauh Sejak Subuh
Gunungan yang dikirab tidak berhenti sebagai simbol dalam prosesi keraton, tetapi kemudian menjadi bagian dari cerita warga yang membawanya pulang ke rumah.
NUMLIT, SURAKARTA — Sejak pagi, kawasan Masjid Agung Keraton Surakarta dipadati warga. Sebagian datang untuk menyaksikan langsung prosesi tradisi Sekaten, sementara lainnya sengaja menunggu momen yang paling dinanti, ketika gunungan hasil bumi dibawa menuju masjid dan diperebutkan warga.
Table Of Content
Keramaian itu mewarnai puncak tradisi Sekaten melalui Grebeg Maulud 1960 BE/2026 yang digelar Rabu (26/8/2026). Empat pasang gunungan dikirab dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung Keraton Surakarta.
Bagi masyarakat, Grebeg Maulud bukan sekadar pertunjukan budaya tahunan. Di balik kerumunan warga yang rela berdesakan, terdapat tradisi ngalap berkah serta harapan untuk memperoleh kesehatan, keselamatan, kelancaran rezeki, dan ketenteraman hidup.
Prosesi kirab diawali satu perangkat gamelan Kiai Guntursari yang berada di barisan paling depan. Setelah itu, rombongan prajurit keraton berjalan mengiringi barisan gunungan.
Di bagian belakang, prosesi diisi kehadiran penyutro, yakni 13 penari laki-laki dari abdi dalem Langentoyo.
Rangkaian tersebut kemudian bergerak menuju Masjid Agung Keraton Surakarta sebagai bagian dari Hajaddalem Pareden Garebeg Mulud Tahun BE 1960.
Empat Pasang Gunungan Jadi Pusat Perhatian
Dalam Grebeg Maulud tahun ini, terdapat dua rangkaian hajaddalem yang masing-masing membawa dua pasang gunungan.
Rangkaian pertama membawa dua pasang gunungan hasil bumi. Rombongan tiba di Masjid Agung sekitar pukul 10.00 WIB.
Setibanya di halaman Masjid Agung, gunungan diletakkan untuk kemudian didoakan oleh perwakilan keraton bersama pengurus masjid.
Doa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam prosesi sebelum gunungan diperebutkan masyarakat.
Namun, antusiasme warga begitu tinggi. Bahkan ketika prosesi doa belum sepenuhnya selesai, warga sudah bergerak mendekati gunungan. Dalam hitungan detik, gunungan langsung habis diperebutkan.
Rangkaian kedua kemudian tiba di Masjid Agung sekitar pukul 11.30 WIB dengan membawa dua pasang gunungan hasil bumi.

Seperti prosesi sebelumnya, gunungan terlebih dahulu didoakan bersama oleh perwakilan keraton dan pengurus Masjid Agung sebelum kemudian diperebutkan warga dan pengunjung.
Momen inilah yang menjadi salah satu magnet terbesar Grebeg Maulud.
Begitu gunungan mulai dibuka, warga berusaha mendapatkan bagian dari hasil bumi yang dipercaya membawa berkah setelah melalui rangkaian doa.
Dari Gunungan hingga Harapan Warga
Tradisi ngalap berkah membuat warga rela datang sejak pagi dan berdesakan di sekitar Masjid Agung.
Sri Lestari, 52, warga Sukoharjo, mengaku sengaja datang untuk melihat secara langsung prosesi Grebeg Maulud sekaligus mengikuti tradisi ngalap berkah.
“Saya datang ingin tahu tradisi Grebeg Maulud dan ngalap barokah dari rangkaian Grebeg Maulud,” ujar Sri Lestari saat diwawancarai di lokasi.
Ia bahkan rela berdesakan dengan warga lain untuk mendapatkan bagian tertentu dari rangkaian gunungan. Salah satunya bambu yang menjadi bagian dari tradisi.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bambu tersebut dapat ditancapkan di sekitar tanaman maupun di depan rumah sebagai simbol perlindungan dari marabahaya.
Bagi Sri Lestari, benda yang didapat dari gunungan bukan sekadar bagian dari hasil kirab. Ada harapan dan keyakinan yang menyertainya ketika benda tersebut dibawa pulang.
Antusiasme lebih besar terlihat dari rombongan warga yang datang dari Klaten. Martini, 55, bersama sekitar 30 orang dalam rombongannya bahkan sudah tiba di lokasi sejak pukul 07.00 WIB.
Mereka datang menggunakan kereta mini dan bertahan hingga seluruh prosesi selesai. Tujuan mereka sederhana, tetapi sarat harapan.
“Saya dan rombongan ke sini mau ngalap berkah biar panjang umur, murah rezeki, terus tentrem ayem, diparingi sehat,” kata Martini.
Rombongan tersebut memperoleh sejumlah bagian gunungan, di antaranya daun pisang, kacang panjang, dan lombok. Bagi mereka, hasil tersebut kemudian akan dibawa pulang dan dimanfaatkan untuk dimasak.
Sementara itu, bagi Sutarni, warga Kaliwingko, Solo Baru, Sukoharjo, Grebeg Maulud tahun ini menjadi pengalaman pertamanya mengikuti tradisi Sekaten secara langsung.

Ia sengaja datang ke Masjid Agung untuk menyaksikan prosesi sekaligus mencoba mengikuti tradisi berebut gunungan.
“Saya baru pertama kali ikut tradisi sekaten ini, sengaja datang mau lihat dan ikut berebut gunungan. Saya baru datang juga pas grebeg kedua, ini dapat beberapa. Semoga bisa berkah barokah, dikasih kelancaran,” ungkapnya.
Kehadiran warga dari berbagai daerah tersebut menunjukkan bahwa daya tarik Grebeg Maulud tidak hanya dirasakan masyarakat sekitar Keraton Surakarta.
Simbol Hasil Bumi dan Kehidupan Keluarga
Gunungan dalam tradisi Garebeg juga memiliki makna simbolik yang tidak sekadar berkaitan dengan bentuk dan isi yang dibawa dalam kirab.
Gunungan laki-laki atau Gunungan Jaler berwujud sumber makanan berupa hasil bumi. Sementara gunungan perempuan atau Gunungan Estri berwujud makanan siap saji.
Keduanya menjadi simbol tentang bagaimana hasil yang diperoleh kemudian dikelola untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Dengan demikian, gunungan tidak hanya menjadi bagian dari prosesi budaya, tetapi juga merepresentasikan hubungan antara hasil bumi, pengelolaan pangan, dan kehidupan masyarakat.
Setelah melalui rangkaian kirab dan doa, gunungan kemudian berpindah dari ruang tradisi keraton ke tangan masyarakat.
Di situlah makna Grebeg Maulud terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hasil bumi yang sebelumnya menjadi bagian dari simbol upacara kemudian dibawa pulang warga untuk dimanfaatkan.
Tradisi yang Bertahan Melintasi Zaman
Di balik riuhnya warga yang berkumpul dan berdesakan, Grebeg Maulud menyimpan makna yang lebih dalam.
Penghulu Tafsir Anom Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Raden Tumenggung KH Muhammad Muhtarom, mengatakan Grebeg Maulud merupakan wujud rasa syukur Keraton, masyarakat, dan abdi dalem dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Semoga masyarakat keraton, abdi dalem, dan semuanya bisa meneladani Nabi Agung Muhammad SAW,” katanya.
Pesan tersebut membuat Grebeg Maulud tidak semata-mata menjadi agenda budaya tahunan. Di dalamnya terdapat pertemuan antara tradisi, religiusitas, dan kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut menegaskan bahwa Grebeg Maulud memiliki dimensi religius yang berjalan beriringan dengan tradisi budaya.
Bagi masyarakat yang hadir, perayaan ini menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus memanjatkan berbagai harapan dalam kehidupan.
Ada yang berharap panjang umur, rezeki yang lancar, kesehatan, keselamatan, hingga kehidupan yang tenteram dan penuh keberkahan.
Sementara dari sisi budaya, tingginya partisipasi masyarakat memperlihatkan bahwa tradisi Sekaten masih memiliki tempat kuat dalam kehidupan warga.
Grebeg Maulud akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang mendapatkan bagian gunungan paling banyak.
Di balik warga yang berdesakan, tangan yang meraih hasil bumi, dan gunungan yang habis dalam hitungan detik, terdapat sebuah tradisi yang terus diwariskan: rasa syukur, doa, kebersamaan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Dari halaman Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung, lalu berakhir di tangan masyarakat, Grebeg Maulud kembali menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat bertahan melintasi zaman ketika masyarakat masih menemukan makna di dalamnya.



No Comment! Be the first one.