Saat Beli Bendera Merah Putih Tinggal Klik, Pedagang Ini Tetap Bertahan di Pinggir Jalan
Menjelang berakhirnya bulan Agustus, permintaan bendera masih muncul dari berbagai kebutuhan, terutama kegiatan karnaval.
NUMLIT, SUKOHARJO — Dulu, mencari bendera merah putih menjelang Hari Kemerdekaan berarti mendatangi penjual di pinggir jalan, memilih ukuran, menawar harga, lalu membawanya pulang. Kini, semua bisa dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel.
Perubahan cara berbelanja itulah yang dalam beberapa tahun terakhir ikut dirasakan Zahid, 47, pedagang bendera di kawasan Pandean RT 03/RW 01, Ngadirejo, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Di tengah gempuran penjualan online, Zahid masih membuka lapaknya pada Rabu (26/8/2026). Deretan bendera dan pernak-pernik kemerdekaan tetap terpajang di pinggir jalan, menunggu pembeli yang datang secara langsung.
Bagi Zahid, aktivitas tersebut bukan pekerjaan musiman yang baru dimulai beberapa tahun terakhir. Ia sudah sekitar 20 tahun berjualan bendera.
“Kalau tiga tahunan ini omzet agak menurun karena persaingan online,” ujar Zahid saat ditemui di tempatnya berjualan.
Namun, penurunan omzet tidak membuatnya meninggalkan usaha yang sudah dijalani selama dua dekade tersebut.
Pembeli masih datang setiap hari. Menjelang akhir Agustus, permintaan bahkan masih muncul dari berbagai kebutuhan, terutama kegiatan karnaval. Sekolah dan perkantoran juga menjadi pelanggan yang memesan bendera dalam jumlah tertentu.
Ada pula pembeli yang sengaja membeli dalam jumlah banyak untuk disimpan dan digunakan kembali pada tahun berikutnya.
Artinya, meski cara masyarakat berbelanja berubah, kebutuhan terhadap bendera fisik belum sepenuhnya berpindah ke dunia digital.
Bertahan Bukan Berarti Menunggu Pembeli
Zahid tampaknya memahami bahwa bertahan di tengah perubahan bukan sekadar terus membuka lapak dan menunggu pembeli datang. Karena itu, ia tidak hanya mengandalkan penjualan bendera pada bulan Agustus.
Pada hari-hari biasa, Zahid menerima pesanan bendera custom sesuai kebutuhan pelanggan. Model usaha tersebut membuat aktivitas produksi tetap berjalan ketika musim perayaan kemerdekaan telah berakhir.
Strategi itu menjadi penting karena penjualan bendera memang memiliki karakter musiman. Ketika Agustus berlalu, permintaan bendera merah putih akan ikut turun. Namun, kebutuhan bendera dengan desain atau spesifikasi tertentu masih bisa muncul sepanjang tahun.
Untuk pembelian, Zahid juga menerapkan harga berdasarkan jumlah. Pembeli satuan tidak mendapatkan potongan harga, sedangkan pembelian dalam jumlah satu kodi memperoleh harga khusus.
“Kalau satuan tidak didiskon, kalau satu kodi didiskon,” katanya.
Cara tersebut membuat usahanya tidak hanya bergantung pada pembeli eceran, tetapi juga pesanan dalam jumlah besar.
Usaha yang Berawal dari Keluarga
Ada alasan lain mengapa Zahid memilih tetap bertahan. Bisnis tersebut merupakan bagian dari perjalanan keluarganya.
Ayah Zahid lebih dahulu menjalankan usaha penjualan bendera dan pernak-pernik kemerdekaan di kawasan Pajang, Kota Solo. Dari usaha keluarga itulah Zahid kemudian meneruskan dan mengembangkan bisnis serupa hingga sekarang.
Selama sekitar 20 tahun menjalankan usaha, berbagai jenis pelanggan pernah datang.
Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah ketika ia pernah menerima pembeli yang disebutnya berkaitan dengan Kedutaan Malaysia.
“Pernah dulu dipesan untuk kedutaan di Malaysia, tahu-tahu ke sini untuk beli, Mas,” tuturnya.
Cerita tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang usaha yang mungkin terlihat sederhana dari luar, tetapi telah menjadi sumber penghidupan keluarga selama bertahun-tahun.
Pada Agustus 2026, Zahid menyebut omzetnya mencapai kisaran jutaan rupiah. Angka tersebut mungkin tidak lagi sebesar masa ketika persaingan penjualan online belum seketat sekarang. Namun, Zahid tetap memilih bertahan.
Sebab, baginya, berjualan bendera bukan semata soal berapa banyak bendera yang terjual dalam satu bulan.
Ada jaringan pelanggan yang sudah terbentuk, ada kemampuan memproduksi bendera sesuai pesanan, dan ada pengalaman selama dua dekade yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan.
Di saat sebagian konsumen memilih mencari harga dan produk melalui layar ponsel, Zahid tetap menawarkan sesuatu yang berbeda. Pembeli bisa datang langsung, melihat barang, berdiskusi mengenai pesanan, dan memesan bendera sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, persaingan dengan toko online mungkin tidak akan berhenti. Cara masyarakat membeli barang juga akan terus berubah.
Namun, di pinggir jalan kawasan Kartasura, Zahid masih memilih membuka lapaknya. Bendera merah putih yang berjajar di depan lapaknya bukan hanya menjadi tanda datangnya bulan kemerdekaan.
Bagi Zahid, deretan kain merah dan putih itu juga menjadi penanda perjalanan sebuah usaha keluarga yang telah bertahan selama dua puluh tahun. Dan, dia belum berniat berhenti hanya karena zaman berubah.



No Comment! Be the first one.