Guru Tak Bisa Lagi Menjauh dari Dunia Gim Anak, Klaten Dorong Pendampingan di Era Digital
Program MLBB Teacher Ambassador menjadi salah satu bentuk upaya untuk mengajak guru mengenali ekosistem gim digital sehingga memiliki perspektif yang lebih utuh ketika berhadapan dengan siswa yang...
NUMLIT, KLATEN – Ketika anak-anak semakin akrab dengan gim digital, tantangan bagi guru dan orang tua bukan lagi sekadar bagaimana melarang mereka bermain.
Table Of Content
Tantangan yang lebih penting adalah memahami dunia yang mereka masuki, lalu memastikan teknologi tersebut tidak justru mengambil alih masa depan mereka.
Pesan itulah yang mengemuka dalam program MLBB Teacher Ambassador yang digelar di Grand Tjokro Klaten, Sabtu (8/8/2026).
Program yang melibatkan Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, Indonesia E-Sport Association (IESPA) Kabupaten Klaten, dan Moonton tersebut membekali guru dengan pemahaman mengenai ekosistem gim digital sekaligus cara mendampingi anak agar aktivitas bermain dapat diarahkan menjadi lebih sehat dan produktif.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah keseharian anak. Karena itu, pendekatan pendidikan juga perlu ikut berubah.
Menurutnya, guru maupun orang tua tidak cukup hanya memberikan larangan tanpa memahami apa yang sebenarnya dilakukan anak ketika bermain gim.
“Kita tidak bisa hanya membiarkan mereka bermain sendiri karena jika tidak didampingi dapat menimbulkan dampak negatif. Justru kita harus masuk ke dunia mereka, memahami apa yang mereka lakukan, lalu mengarahkan agar memberikan manfaat,” tutur Hamenang.
Bukan Sekadar Soal Menang atau Kalah
Di balik permainan digital, terdapat sejumlah keterampilan yang dapat dikembangkan apabila aktivitas tersebut mendapatkan pendampingan yang tepat.
Melalui gim, anak dapat belajar mengenai kerja sama tim, komunikasi, penyusunan strategi, pengambilan keputusan hingga sportivitas. Pada saat yang sama, dunia esports juga berkembang menjadi ekosistem yang membuka peluang prestasi maupun karier.

Karena itu, Hamenang menilai guru perlu memiliki literasi yang cukup untuk membedakan antara aktivitas bermain yang sekadar menghabiskan waktu dengan aktivitas yang berpotensi dikembangkan secara positif.
“Esports saat ini telah menjadi cabang olahraga resmi. Karena itu, guru perlu memahami bagaimana permainan tersebut dapat diarahkan ke hal-hal yang positif,” jelasnya.
Bagi anak yang memiliki bakat, permainan dapat menjadi pintu masuk menuju pembinaan prestasi. Sementara bagi mereka yang menjadikannya sekadar hobi, pendampingan tetap diperlukan agar aktivitas bermain tidak mengganggu pendidikan dan kehidupan sosial.
Dengan pendekatan tersebut, sekolah tidak ditempatkan sebagai pihak yang berseberangan dengan dunia digital anak. Sebaliknya, sekolah dapat menjadi ruang untuk membantu siswa mengelola teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi.
Guru Perlu Masuk ke Dunia Anak
Perubahan ini sekaligus menunjukkan tantangan baru dunia pendidikan. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga memahami lingkungan sosial dan digital yang membentuk kehidupan peserta didik.
Hamenang menilai literasi digital bagi guru menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi transformasi teknologi.
Pemahaman tersebut dibutuhkan agar guru dapat memberikan pendampingan yang lebih tepat, mulai dari mengatur aktivitas bermain, mengenali potensi anak, hingga mengarahkan ketertarikan mereka pada kegiatan yang produktif.
Program MLBB Teacher Ambassador menjadi salah satu bentuk upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Guru diajak mengenali ekosistem gim digital sehingga memiliki perspektif yang lebih utuh ketika berhadapan dengan siswa yang memiliki ketertarikan terhadap gim.
Pendekatan semacam ini menjadi semakin relevan ketika teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak.
Dari Hobi Menjadi Potensi Prestasi
Pemerintah Kabupaten Klaten bahkan melihat peluang yang lebih jauh. Ketertarikan anak terhadap esports tidak hanya dipandang sebagai persoalan yang harus dikendalikan, tetapi juga sebagai potensi yang dapat dikembangkan melalui pembinaan.
Hamenang mengatakan Pemkab Klaten berencana menghadirkan kompetisi esports resmi sebagai ruang bagi anak-anak untuk menyalurkan bakat secara positif.
“Ke depan kami akan menyiapkan turnamen resmi, seperti Piala Bupati, sehingga anak-anak yang memiliki bakat dapat tersalurkan melalui kompetisi yang positif, terarah, dan berprestasi,” katanya.
Rencana tersebut menunjukkan perubahan cara pandang terhadap esports. Dari aktivitas yang sebelumnya kerap identik dengan kekhawatiran orang tua, kini gim digital mulai dilihat sebagai salah satu ruang baru untuk pembinaan bakat, prestasi, dan keterampilan generasi muda.
Namun, kuncinya tetap pada pendampingan. Sebab, persoalannya bukan semata-mata apakah anak bermain gim atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah apakah anak memahami batas, mampu mengelola waktunya, tetap menjalankan tanggung jawab belajar, dan mendapatkan lingkungan yang membantu mengembangkan potensinya.
Di tengah percepatan teknologi, guru pun dituntut mengambil peran baru. Bukan menjadi penjaga gerbang yang menjauhkan anak dari dunia digital, melainkan menjadi pendamping yang memahami dunia tersebut dan membantu anak menemukan arah di dalamnya. Dan mungkin, di situlah pendidikan digital yang sesungguhnya dimulai. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.