Bukan Sekadar Pawai, Solo Titip Pesan Pilah Sampah Lewat “Sayangi Semesta, Hidup Bahagia”
Sebanyak 48 peserta dari berbagai lembaga dan instansi mengikuti Pawai Pembangunan Kota Solo 2026, Jumat (21/8/2026), dengan rute dari kawasan Kota Barat hingga Balai Kota Surakarta.
NUMLIT, SURAKARTA — Jalan Slamet Riyadi berubah menjadi panggung raksasa pada Jumat (21/8/2026). Puluhan peserta berjalan membawa kostum, dekorasi, dan beragam atraksi untuk memeriahkan Pawai Pembangunan Kota Solo.
Namun di balik warna-warni parade itu, ada pesan yang sengaja dibawa lebih jauh. Jangan hanya menikmati lingkungan, tetapi ikut menjaganya.
Pesan tersebut terangkum dalam tema Pawai Pembangunan Kota Solo 2026, “Sayangi Semesta, Hidup Bahagia”. Sebanyak 48 peserta dari berbagai lembaga dan instansi mengikuti pawai yang mengambil rute dari kawasan Kota Barat hingga Balai Kota Surakarta.

Salah satu pesan paling kuat datang dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Surakarta. Alih-alih sekadar menampilkan dekorasi yang meriah, mereka mengusung konsep bunga sebagai simbol ekosistem sekaligus pintu masuk untuk berbicara tentang persoalan sampah.
Yoga, 35, salah satu peserta pawai dari BPKAD Surakarta, mengatakan konsep tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya melihat keindahan visual, tetapi juga menangkap pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.
“Bunga menunjukkan ekosistem. Di acara ini lebih difokuskan pada pengelolaan sampah. Jadi, dari penampilan tadi kami memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa kita harus memilah sampah sendiri seperti yang sudah dianjurkan oleh Bapak Wali Kota,” ujar Yoga saat diwawancarai di lokasi.
Pesan itu terasa relevan karena persoalan sampah bukan hanya urusan petugas kebersihan. Dari rumah, pasar, tempat kerja hingga ruang publik, sampah terus dihasilkan setiap hari. Karena itu, perubahan perilaku menjadi salah satu kunci agar persoalan tersebut tidak berhenti pada urusan mengangkut dan membuang.
Melalui pawai, pesan tersebut disampaikan dengan cara yang berbeda. Bukan lewat spanduk panjang atau ceramah, melainkan melalui kostum, simbol, kreativitas, dan interaksi langsung dengan warga yang memenuhi tepian jalan.
Yoga mengatakan persiapan penampilan BPKAD dilakukan sekitar satu pekan. Bagi dirinya, kesempatan tampil dalam pawai juga memberikan pengalaman berbeda karena dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Senang karena bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat,” katanya.
Pesan lingkungan yang dibawa peserta ternyata juga mendapat perhatian dari penonton. Dwi Yuliana, 21, salah seorang warga yang menyaksikan pawai, menilai kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan.
“Event-nya sangat menarik dan antusias warga juga tinggi karena memeriahkan acara. Banyak penampilan dari berbagai lembaga,” ujarnya.
Menurut Dwi, salah satu hal menarik justru muncul ketika peserta mengolah barang bekas menjadi bagian dari kostum dan fashion. Kreativitas semacam itu membuat pesan tentang lingkungan terasa lebih dekat dan mudah dipahami.
“Banyak juga barang bekas yang dimanfaatkan menjadi fashion. Itu menarik dan memberikan wawasan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan,” katanya.
Antusiasme warga terlihat mengikuti iring-iringan peserta di sepanjang ruas utama Kota Bengawan tersebut. Berbagai instansi seperti Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Surakarta, Kecamatan Laweyan, Dinas Tenaga Kerja, Golden Boy, Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Bank Jateng hingga Pemadam Kebakaran Surakarta turut ambil bagian.

Kehadiran puluhan kontingen membuat pawai menjadi tontonan yang meriah. Tetapi jika diperhatikan lebih dekat, sejumlah kreativitas yang ditampilkan membawa pesan yang lebih substantif. Pembangunan kota tidak hanya berbicara tentang gedung, jalan, ekonomi, atau pelayanan publik, tetapi juga tentang bagaimana warga memperlakukan lingkungan tempat mereka hidup.
Di titik inilah tema “Sayangi Semesta, Hidup Bahagia” mendapatkan maknanya.
Lingkungan yang bersih bukan hanya menghasilkan kota yang sedap dipandang. Pengelolaan sampah yang baik juga berkaitan dengan kesehatan, kenyamanan ruang publik, kualitas hidup, dan keberlanjutan kota.
Pawai pembangunan pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjadi ruang komunikasi antara pemerintah, peserta, dan masyarakat. Pesan yang biasanya disampaikan melalui program atau kebijakan diterjemahkan menjadi pertunjukan yang bisa dilihat, dinikmati, sekaligus dipikirkan oleh warga.
Dan dari tengah kemeriahan itu, ada satu pesan sederhana yang dibawa pulang. Menyayangi semesta tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari rumah, dari tangan sendiri, dengan memilah sampah sebelum membuangnya.
Sebab, kota yang bahagia bukan hanya kota yang ramai dengan perayaan. Kota yang bahagia adalah kota yang warganya ikut menjaga tempat tinggalnya.



No Comment! Be the first one.